Perempuan Nias Menuju Sebuah Peradaban

Friday, May 2, 2008
By nias

Catatan Redaksi: Tulisan berikut diambil dari Situs Pengembangan Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat (PFPM), ditulis oleh Adelina R. Simatupang, seorang relawan yang datang ke Nias pasca tsunami 2004. Tulisan ini merupakan Pemenang I dan Pemenang Favorit (pilihan pembaca) dalam Lomba Penulisan Essay Belajar Bersama Masyarakat yang diadakan oleh PFPM.

Oleh: Adelina R. Simatupang

Peradaban dan menemukan peradaban selalu kata-kata filosofi yang terlontar dari kaum seniman, pengamat sosial dan penulis religius, namun dimanakah kita dapat menemukan peradaban. Ada yang mengatakan kalau sudah dapat membaca dan menulis merupakan awal dari sebuah peradaban.

Namun di bumi Indonesia ternyata masih ada sebuah pulau yang masih jauh dari sebuah peradaban. Awalnya saya menginjakkan kaki di pulau Nias atau disebut Tano Niha pada tanggal 12 Februari 2005, dimana pulau ini merupakan bagian dari Sumatera Utara. Bersama dengan tim relawan dari sebuah Non Government Organization (NGO) untuk membantu masyarakat nias yang terkena dampak tsunami. Diawal perjalanan saya masih merasakan indahnya pantai di Gunung Sitoli, birunya laut memberikan kesejukkan senyum masih menghias di wajahku, walau rasa ingin tahu masih menghiasi wajahku. Kami menempuh 4 jam perjalanan dari Gunung Sitoli ke Sirombu pada hal jarak yang ditempuh hanya 70 Km, jalanan yang rusak parah dan berlobang membuat badanku terasa sakit. Hariku kuawali dengan duduk menatap senja yang kemerahan, maklum aku sangat menyukai senja dan ternyata senja itu ada disini. Bersama 4 orang teman saya yang selalu saya ingat dan menjadi teman saya mengawali perjuangan.
Mereka pendidikannya bervariasi dari D3, SMA, SMP dan SD tetapi kami mampu bekerjasama, pendidikan tidak menjadi hambatan untuk kami berbuat sesuatu yang berarti untuk orang lain. Bahasa Nias yang masih asing bagiku, membuatku harus belajar cepat karena mayoritas penduduk disini menggunakan bahasa Nias. Dua orang teman saya berasal dari Nias dari merekalah saya akhirnya dapat berbahasa Nias, dan mulai berbaur dengan masyarakat. Walau bukan berlatar belakang dari kesehatan atau dokter saya berusaha mempelajari masalah-masalah kesehatan di desa ini. Berawal dari salah satu program yang kami akan lakukan adalah pemberantasan penyakit malaria, mengingat kondisi Sirombu di daerah rawa dan kebun karet, kami mengadakan sosialisasi ke masyarakat.

Setiap harinya saya dengan tim saya turun kelapangan ke desa-desa untuk mensosialisasikan tentang penyakit malaria, sambil mengadakan klinik keliling bersama dokter. Masyarakat sudah tahu tentang Malaria, dan beberapa diantara mereka harus meninggal karena penyakit malaria. Masyarakat menyambut gembira pengadaan klinik keliling dari desa ke desa, namun masih terbatas hanya yang dapat dijangkau dengan kendraan seperti mobil atau sepeda motor, namun jauh ke pedalaman daerah dusun tidak dapat dijangkau karena dokter tidak bersedia berjalan kaki menembus hutan karet dan naik bukit untuk menjangkau masyarakat di dusun pedalaaman pada hal masyarakat sangat membutuhkan pelayanan tersebut.

Saya dengan seorang rekan saya tenaga lapangan mengambil keputusan untuk menjangkau masyarakat pedesaan di dusun, menembus hutan karet, melewati sungai dan naik bukit. Setelah naik motor selama 1,5 jam dan kami juga harus berjalan kaki selama 2 jam sekitar 10 km untuk memberikan sosialisasi dan pengadaan obat-obatan Malaria. Hingga tepat pada tanggal 28 Maret 2005, seusai mengadakan perjalanan jauh dan selesai makan malam dirumah kayu, kami berbincang tentang rencana kerja kami esok hari, setelah selesai kami beranjak masuk kamar untuk tidur, tak lupa saya mengenakan kaos kaki menahan dingin di kaki, dan mengucap salam doa pada pencipta saya sebelum tidur dan semoga esok dapat melihat cerahnya pagi. Usai saya berdoa, tiba-tiba saya merasakan getaran yang kuat, rumah kami bergoncang, saya bingung dan ternyata ada gempa saya berlari kebelakang, teman-teman saya menyusul, kami panik dan takut hanya bisa berpegangan namun selalu jatuh, gelap gulita malam itu, hanya bulan purnama yang ada. Kami mendengar jeritan tangis dari jauh, setiap kali saya berdiri saya jatuh, rumah kayu kami berderik-derik dan bergoyang ternyata malam itu telah terjadi gempa dengan kekuatan 8,7 skala richter.

Ketakutan masih tergambar diwajah kami, namun saya ingat saya berada disini untuk menjalankan misi yang kami emban, saya meminta teman saya dokter mengeluarkan mobil dan memasukkan obat-obatan dan alat medis , bahan makanan seadanya, serta keperluan kami. Saya belum tahu kemana harus pergi karena penduduk panik takut ada tsunami lagi. Kami berusaha keluar rumah dan di jalanan kami bertemu penduduk yang panik karena air laut dari Sirombu mulai naik, saya meminta teman-teman saya satu tim memutar arah ke gunung tetapi tak ada jalan, sebab jembatan patah dan jalan rusak. Malam itu sangat mencekam, gelap, saya hanya dapat berbisik lirih memanggil pencipta, karena banyak orang terluka, ratap tangis dan doa di panjatkan walau dalam bahasa yang belum saya ngerti tetapi saya tahu itu ratap permohonan. Saya mengeluarkan obat-obatan dan alat medis meminta teman-teman saya dan dokter untuk berbuat sesuatu dan menolong korban. Beberapa korban kami evakuasi dari reruntuhan rumah, ada yang kakinya patah dan pingsan, saya tahu kami melakukan dengan gemetar dan takut, tak ada alat komunikasi yang dapat menghubungkan dengan dunia luar, kami hanya berbuat dan semampu kami menolong korban, walau malam semakin pekat dan gerimis jatuh membasahi hati kami dan penduduk saat itu.

Esoknya pagi tiba mentari cerah namun tak ada senyum diwajah yang kami temui, di tanah lapang tetesua ratusan penduduk berkumpul tak ada makanan dan mereka diam, banyak yang terluka, saya pulang kerumah kayu, rumah itu miring dan tidak roboh, namun semua isinya porak-poranda. Kami mengambil semua bahan makanan dan membagikannya ke penduduk dengan meminta camat membuat dapur umum, kemudian kami melanjutkan pengobatan kepada korban. Sorenya kami putuskan untuk kami ke Gunung Sitoli pusat kabupaten, untuk meminta pertolongan ke pemerintah atau rumah sakit, kami sampai malam hari, dengan susah payah karena jalanan rusak dan patah kami harus membayar orang untuk membantu membuat jembatan darurat. Sesampai di gunung sitoli kami kaget karena gelap dan lampu tidak menyala, kami melihat orang panik, beberapa orang berjalan menandu korban terluka, sampai saat ini masih segar dalam ingatan saya dimana mayat-mayat diangkut memakai beca barang. Ternyata kota Gunung Sitoli gelap gulita karena gempa, rumah-rumah hancur dan bau amis dan mayat tercium ada 800 orang meninggal malam itu karena Gempa di Gunung Sitoli. Saya menuju kantor Bupati dan bertemu relawan-relawan dari organisasi lainnya. Namun masih belum ada aksi menolong korban, kembali saya menegluarkan obat-obatan dan peralatan tindakan untuk korban, saya dan teman-teman mengadakan pengobatan. Saya hanya diam sambil bekerja membantu mengobati para korban, saya berfikir inikah esok yang saya pinta dalam doa saya sebelum tidur dan sebelum gempa datang? Sejenak kesibukan kami sosialisasi pencegahan dan pengobatan malaria tertinggal, kami disibukkan mengobati korban bencana, tim relawan di organisasi kami ditambah termasuk dokter dan perawat.

Kesibukan mulai berkurang saya mulai konsentrasi kepada program dan rencana kami semula. Suatu hari saya berjalan ke suatu desa bernama Bawazamaiwo, disana ada program kami untuk anak-anak yaitu mengajar anak-anak pra sekolah dan pemberian gizi tambahan, mengingat ibu mereka sibuk diladang dan tidak ada merawat mereka kami memberikan play therapy. Saat itu saya lagi berdialog dengan seorang ibu sedang hamil tua dan anaknya ikut program play therapy, ia bertanya bagaimana mendapatkan layanan KB, karena di puskesmas harus bayar Rp. 15.000 dan itupun jauh 20 km dari rumahnya tak ada transportasi, saat ini ia hamil tua anak ke 5 pada hal usia anak bungsunya belum genap 1 tahun, sedangkan ia sekarang hamil tua. Karena kemampuan ekonomi terbatas saya menyarankan KB klender pada si Ibu secara jelas dan berulangkali supaya ia paham. Dua hari kemudian saya datang lagi berkunjung ternyata si Ibu tersebut sudah mau melahirkan, saya yang berada dilokasi bingung tak ada bidan desa atau dukun beranak, karena suaminya berkata jika memanggil bidan desa setidaknya membayar 150.000 dan dukun beranak 50.000, ia tidak punya uang.

Saya mencoba memberikan pertolongan dengan menjelaskan alat yang diperlukan seperti air, atau pisau dapur yang steril untuk memotong tali pusar bayi sudah disiapkan. Persalinan berjalan lancar, hanya didampingi suami sebagai penolong, ibu tersebut memotong sendiri tali pusar bayinya, dan suaminya memandikannya. Saya berfikir apakah semua perempuan Nias sekuat ibu tersebut? Bayi mungil itu dibalut kain sarung usang diatas tikar pandan yang sobek, tak ada bantal, tak ada gurita, kelambu bayi, dan bedak hanya lembaran kain sarung yang sudah usang dan di gunting beberapa bagian sebagai lampin si bayi mungil. Si ibu tidak dapat minum susu untuk menambah gizi saat menyusui hanya makan dengan nasi dan ikan asin tanpa sayur. Ibu tersebut masih berusaha menyusukan bayi perempuannya. Saya berfikir andai ibu itu dapat merasakan pelayanan kesehatan yang baik dari posyandu mungkin air susunya tidak kering karena ada gizi tambahan bagi ibu hamil. Saya meminta suaminya mencarikan jantung pisang, daun singkong, kelapa dan membuat makanan seadanya yang dapat dijadikan sayur untuk makanan si ibu sehabis melahirkan, dengan harapan membantu air susunya dapat keluar hingga si bayi dapat minum ASI, karena uang beli susu tidak ada. Setelah itu saya mendapatkan informasi seorang anak sakit parah dan dibawa ke desa, keadaan cukup mencemaskan badanya kaku dan wajah pucat, bibir membiru, suhu badan panas, saya tahu ternyata rumahnya jauh di pondok di pedalaman kebun karet, dan saya bersama teman mencoba melakukan tindakan tes malaria, dan anak tersebut positif malaria falcifarum yang mematikan. Kami membawa ke klinik dan merawat inap, selanjutnya langkah yang kami lakukan adalah mengujungi pondok, ada 6 Kepala keluarga disana, dari desa menuju pondok mereka kami harus melewati hutan karet sejauh 8 Km berjalan kaki, saya dan temna saya membawa tes pack malaria dan obat-obatan. Sepanjang jalan kami tidak bertemu dengan penduduk namun saya tereksan ketika melihat ada rumah papan kecil beratap rumbia, disana sudah tergelatk 4 orang anak. Si ibu hanya diam menemani.

Saya dan teman saya melakukan tindakan mengadakan tes dan ternyata positif malaria, kami memberikan informasi tentang penggunaan obat. Selanjutnya berpindah ke pondok lain dan dari 4 kepala keluarga semua positif malaria falcifarum. Saya hanya berfikir bagaimana cara menolong mereka dengan lokasi yang jauh dari pusat desa dan ketidakadaan obat-obatan. Jangankan ke puskesmas ke pusat desa saja mereka tak dapat berjalan. Namun saya berusaha menolong bersama teman kami memberi pengobatan. Seorang ibu sedang hamil 7 bulan mengandung anak ke 9 positif malaria falcifarum, ia dan semua anaknya kena malaria, yang kronis dirawat di klinik kami juga naknya. Ibu tersebut pucat dan lemah, esoknya saya datang bersama teman saya membawa bekal makanan berupa sup kering, yang memang disediakan untuk pasien. Kami mengajari ibu tersebut dan anaknya memasak sup tersebut, karena bahan makanan mereka tidak ada sama sekali karena mereka sakit tak dapat bekerja menyadap karet dan uang mereka tidak ada.

Sebesar mana upaya yang kami lakukan anaknya yang sempat dirawat tidak dapat tertolong, tetapi 4 kepala keluarga yang positif malaria falcifarum tertolong dan mereka sembuh. Saya merenung dengan sedih anak itu meninggal tetapi ia telah menolong 4 Kepala keluarga lainnya terbebas dari penyakit malaria yang mematikan. Ini menjadi cerita inspirasi jika saya sedang melakukan penyuluhan malaria dan pelatihan kader malaria bahwa kita perlu berjuang menjangkau penduduk untuk membantu mereka terhindar dari penyakit malaria yang mematikan. Ibu tersebut kehilangan anaknya karena malaria falcifarum, namun bayi dalam kandunganya lahir dengan selamat. Saya melihat ibu itu sangat kurus dan ketika saya bertanya ”ibu kenapa tidak KB?” ia hanya menjawab ”la uila” (artinya ”tidak tahu” dalam bahasa Nias). Ibu tersebut tidak pernah mengetahui tentang KB ia hanya tahu tugasnya melayani suami dan melahirkan anak, sementara anak-anaknya terlantar dan kurang mendapat perhatian. Anak-anaknya tidak ada yang tamat SD semua bekerja diladang membantu orangtua. Adakah perempuan ini memiliki kesempatan untuk sebuah peradaban? Merasakan dilayani dokter atau Bidan? Dapatkah ia merasakan seperti yang kita rasakan, dimana dan kapan saja kita dapat membawa anak-anak kita kedokter dan memeriksakan kandungan kapan saja kita mau tanpa harus menempuh jarak jauh dan berfikir biaya sekali periksa adalah biaya hidup untuk seminggu.

Perempuan Nias masih rentan dengan budaya dan permasalahan sosial yang dihadapinya. Di desa Bitaya kecamatan Alasa, merupakan salah satu desa tertinggal, di desa saya mendampingi kelompok perempuan yang berjumlah sekitar 310 orang ibu rumah tangga ditambah sekitar 50 orang anak gadis. Mereka tinggal di desa di balik gunung yang tidak dapat dijangkau oleh kendraan, baik sepeda motor atau mobil. Setiap kali saya datang ke desa saya naik ojek selama 2 jam dari gunung sitoli dan berjalan kaki sejauh 7 Km dengan waktu 1,5 jam. Perjalanan kaki tidak mulus karena curah hujan di nias cukup tinggi jadi lumpur sepinggang hal yang biasa dan mendaki melintasi kebun karet, sungai dan persawahan. Pada umumnya pekerjaan perempuan adalah menyadap karet dan bersawah. Dari jumlah perempuan ibu-ibu hanya 3 orang yang dapat berbahasa Indonesia dan dapat baca tulis, selebihnya tidak ada.

Bahkan disatu dusun semua tidak tahu bahasa Indonesia. Desa Bitaya tidak memiliki sarana listrik. Setiap minggu saya harus menginap dan tinggal bersama penduduk di desa tersebut, tidur diatas dipan dengan lantai tanah. Saya menjadi fasilitator desa dari salah satu LSM lokal untuk program mata pencaharian (livelihood), dengan harapan bahwa desa Bitaya dapat memiliki perubahan di bidang pereknomian. Awalnya saya ke Desa ini saya merasa kurang yakin saya dapat melakukan program ini berhubung keterbatasan sarana dan saya selalu merasa lelah dan sering merasa sulit, namun melihat motivasi kelompok ibu membuat saya terus mau datang untuk mendampingi mereka. Saya mengandalkan seorang Ibu yang dapat berbahasa Indonesia tapi terbatas dalam menulis, ibu tersebut menjadi Community Organizer (CO) yang dipilih dari desa, bersamanyalah saya bekerja untuk mengimplementasikan program. Setiap ada pertemuan Ibu-ibu datang setelah mereka bekerja di ladang menyadap karet dan dari sawah, pertemuan baru dapat dilakukan setelah jam 2 siang. Penyuluhan-penyuluhan kami berikan, dan pelatihan-pelatihan untuk peningkatan pengetahuan dalam bidang pertanian, peternakan.

Kami juga melatih para Ibu untuk mengelola keuangan keluarga. Setiap ada pelatihan Ibu-ibu tersebut harus berjalan kaki dari dusun menuju pusat desa sejauh 5 – 9 km dengan lelah baru pulang dari sawah, tetapi semangat itu tetap ada. Kedatangan saya selalu dinantikan oleh para masyarakat termasuk kaum bapak dan Ibu, sampai mereka membangun satu buah kamar di dekat rumah kepala Desa agar saya tinggal dan bermalam di desa sehingga banyak waktu bersama mereka. Saya bekerja tidak hanya saat matahari ada, bahkan sampai larut malam para Ibu dan bapak selalu datang menjumpai saya untuk berdiskusi dan bertanya apa saja yang dapat dilakukan untuk membuat suatu kemajuan. Tak dapat dipungkiri oknum-oknum desa yang ingin punya kepentingan sendiri sering menjadi hambatan, mereka menghasut masyarakat dan mengatakan bahwa kehadiran kami adalah untuk menjajah.

Namun usaha komunikasi dan pendekatan tetap dilakukan, walau masih ada konflik dan perbedaan tetapi penerimaan sudah mulai terlihat. Pemberdayaan perempuan diawali dengan mengadakan penyuluhan pada kelompok usaha, seperti kelompok petani, pedagang dan penyadap karet. Penyuluhan ini kurang dapat melibatkan staf ahli karena berapa kali kami mengundang staf ahli untuk mengadakan penyuluhan tidak datang, dengan alasan sibuk dan ada acara mendadak. Namun alasan yang mendasar adalah ketidak relaan untuk berjalan jauh dan tinggal bermalam di desa, karena perjalanan tak memungkinkan pulang hari.

Maka untuk memenuhi kebutuhan penegtahuan di desa saya memaksakan diri saya untuk belajar banyak tentang pertanian, ekonomi mikro dan usaha kecil. Memang tidak maksimal namun saya punya prinsip hal yang dasar sekalipun diberikan akan berarti jika dilakukan.Hari-hari saya lalui di Desa Bitaya sangat mengesankan dan banyak para Ibu mulai memberikan perhatian untuk menambah mata pencaharian, diawal mereka hanya fokus menyadap karet, dan kami sudah mulai membuat poliback untuk menanam sayuran dan membuat apotik hidup. Sudah mulai menanam padi secara serentak, lebih dahulu mengolah lahan karena sebelumnya menanam padi tanpa pengolahan lahan tanah atau emnanam padi sesuai keinginan. Selanjutnya kami mengadakan pelatihan credit union (CU), dimana CU ini dibentuk dengan pengurusan di tingkat desa. Dipisahkan antara CU bapak-bapak dan ibu-ibu.

Para penduduk dibolehkan meminjam modal dengan mengajukan lebih dahulu proposal usaha selanjutnya diseleksi dan jika sesuai baru diberikan pinjaman modal. Adanya seleksi ini memicu semangat para ibu, ibu-ibu mulai meminta suami dan anak mengajari baca tulis sehingga dapat mengikuti penyuluhan dengan mudah setahun pengabdian di Desa Bitaya, memang terasa melelahkan namun perjuangan ibu-ibu di desa telah membayar keringat saya, dan saya dapat melihat ada peradaban di balik gunung, dimana ibu-ibu sudah mendapatkan pengetahuan dan terlihat bahwa mereka sudah mandiri dengan memulai adanya peretmuan-pertemuan didesa tanpa kehadiran saya, mereka sudah mampu memimpin pertemuan, membuat kesimpulan rapat, dan menjadi kader untuk mendukung ibu-ibu di desa.

Berbagai pelatihan telah dilaksanakan dan saat ini mereka melakukan aktivitas berkelanjutan, berakhirnya program bukan berarti berakhir pula pembangunan di desa tersebut, para ibu dan perempuan terus berjuang untuk menuju sebuah peradaban yang mereka impikan.

Perjalanan saya belum usai, tahun ini saya kembali ke Nias saya berada di wilayah Mandrehe Nias Barat, saya ingat saya pernah mengadakan pendampingan dan saat itu saya kebelet mau buang air kecil, saya mencari dan bertanya toilet atau WC dimana? Mereka berkata mereka tak memiliki toilet atau wc, saya berjalan sekitar 1 km lagi dan bertanya ada WC? Jawab mereka ada di sana saya mengikuti dan saya turun kearah lembah dan saya melihat kubangan air dan ada tempat ditutupi goni, sedang jarak satu meter ada mata air kecil yang banyak lumut dan seorang anak gadis mengambil air disana. Ternyata air itu untuk minum dan mencuci sangat kotor karena hewan peliharaan juga berada disekitarnya berkeliaran. Mereka sangat kesulitan air.

Para ibu juga harus berjalan 1 km sampai 3 km turun kelembah dari gunung atau mengambil air disungai untuk keperluan sehari-hari. Para ibu yang sudah bekerja seharian di kebun karet menyadap karet, mengambil makanan ternak, memasak dan mencuci dan mereka juga harus berjalan jauh mengambil air dan mencuci keperluan keluarga. Jika musim kemarau maka mereka tidak mendapatkan air mereka harus berjalan sekitar 7 Km ke induk sungai yang di kenal Sungai Moro’o. Melakukan pekerjaan domestik dan semua mereka lewati. Suatu hari saat saya dan organisasi saya bekerja di program pengadaan sanitasi dan air bersih. Kami memulai dengan penyuluhan dan penugatan masyarakat melalui pengetahuan dan pelatihan, saya menjelaskan bagaimana peranan dan fungsi air bersih untuk manusia. Saat itu mereka juga menunjukkan air yang lebih tepat dikatakan kubangan karena berwarna cokelat susu tanah galian diatas tanah liat sehingga berwarna keruh dan mereka menggunakan air itu untuk masak dan cuci. Sangat tidak memungkinkan untuk syarat sebuah kesehatan namun kenyataan disitulah mereka menggunakan air untuk kehidupan sehari-hari.

Bagaimanapun itu menjadi sebuah kenyataan yang harus dijalani, penyuluhan sanitasi air bersih tentunya tidak menjadi satu-satunya pemecahan masalah air. Kami melibatkan masyarakat mencari dan memanfaatkan sumber mata air yang bersih dan sesuai syarat kesehatan. Masyarakat dengan semangat mendukung untuk pembangunan melalui gotong royong dan partisipasi dan pendekatan yang klami berikan membuat mereka memiliki kesempatan untuk menikmati air bersih. Bagi kita yang tinggal di kota mungkin mengambil air bersih mudah cukup ke kamar mandi memutar kran maka air hidup dan yang memiliki uang akan masuk keperadaban modern dapat memilih kran air panas atau dingin, tetapi mereka penduduk di Mandrehe sering dihadapkan kepada tidak ada pilihan, kalau musim hujan mereka hanya menggunakan air hujan, dan saat musim kemarau mereka hanya mengandalkan sungai dan sumur galian yang airnya berwarna cokelat susu.

Menyiasati warna air masyarakat sering membuat kopi,teh atau pandan supaya tidak bau dan warnanya tidak terlihat keruh. Para ibu dan anak perempuan yang memiliki beban dalam ketidakadaan air ini, karena selain mereka harus menderes karet mereka juga memlihara ternak babi, mencari bulu gobi (daun ubi) untuk makanan babi, serta harus mengambil air dengan jarak yang jauh, menjinjing dikepala sambil mengegndong anak, setiap mau masak dan mencuci harus mengambil jarak yang jauh. Setelah sarana air bersih ada penduduk juga punya kehidupan yang biasa yaitu tidak adanya WC, dalam satu desa semua rumah tidak memiliki WC. Mereka membuang air besar di hutan karet dan ladang, mereka terbiasa menjalani kehidupan seperti itu. Tentunya hal ini tidak sehat dan kami memulai penyuluhan dengan memberikan informasi dengan jelas dan manfaatnya. Tidak mudah karena ini menyangkut perilaku kebiasaan, kami mendemostrasikan pembuatan dan penggunaan WC semua berjalan dengan sangat membutuhkan waktu, kampanye dan penyuluhan berula-ulang membuahkan hasil kami mampu membuat masyarakat mengerti menggunakan dan mengapa perlunya masyarakat perlu memiliki WC.

Perlahan masyarakat mulai paham kami mengadakan pendekatan melibatkan mereka dalam perencanaan dan pembangunan, sesudah itu mereka dapat merasakan untuk menggunakan WC, mereka sudah tak harus bingung mencari lokasi baru untuk buang air kecil dan besar, sudah ada WC yang dapat mereka gunakand an mereka dilatih untuk merawat dan menjaga kebersihan WC sehingga tetap berfungsi dan digunakan oleh penduduk setempat. Adanya banyak hal yang saya temui ketika saya berjalan menuju desa dampingan, kelompok ibu yang selalu berusaha penopang hidup keluarga harus kuat bertahan dimasa sulit.

Suatu hal yang sering menjadi perhatian saya adalah kehidupan perempuan yang termarginal, sejak kecil mereka sudah mengalami diskriminasi dikeluarga, misalnya para anak perempuan tidak diharuskan sekolah tetapi mereka di minta kerja emmbantu orangtua di ladang. Para orangtua sangat mendukung anak laki-laki sekolah karena generasi penerus keluarga dengan adanya sistem marga ”Mado” yang lebih dominan ke laki-laki. Selanjutnya saat mereka menajdi remaja putri para orangtua sudah mulai mencarikan jodoh untuk anak perempuannya, maka banyak perempuan muda kehilangan masa muda mereka karena harus menjadi ibu. Pada usia 14 anak perempuan mulai di jodohkan dengan harga mahar atau ”jujuran” yang tinggi. Ukuran wanita biasa yang tak memiliki pendidikan harga jujuran 25 juta, di tambah 20 ekor babi.Jujuran ini tak menjadi milik keluarga tetapi dibagikan oleh orangtua dan pamannya. Saat si perempuan menjadi istri maka beban kerja makin tambah berhubung keluarga suaminya membayar uang jujuran dengan meminjam utang ke rentenir, maka ia dan suaminya harus bekerja keras untuk membayar utang tersebut. Maka beban semakin bertambah saat si perempuan tinggal di rumah mertua yang punya tanggungjawab untuk semua anggota keluarga.

Keluarga Nias dalam satu rumah sudah terbiasa lebih dari satu keluarga bisa sampai 5 keluarga dalams atu rumah. Beban perempuan dalam keluarga suami tidak mengurangi ebban karena ia harus bekerja keras dua kali lipat selain membayar utang, suami yang lebih suka di kedai tuak daripada bekerja, dan mertua yang ingin semua disiapkan di rumah. Anak terus bertambah karena tidak ada akses KB dan mengurus keluarga, semua terjadi secara berulang dan tentunya posisi perempuan akan semakin rentang berhubung adanya streotype gender dan faktor budaya dan kurangnya pengetahuan membuat mereka terdiskriminasi. Situasi ini berulang, dan suatu hari saya menemukan masalah dimana seorang perempuan di perkosa dan ketahuan di warga, siperempuan muda tidak dilibatkan dalam musyawarah, dan ketua adat mengadakan musyawarah dan apapun keputusannya harus diterima oleh perempuan tersebut. Hasil keputusan adat mengatakan bahwa perempuan tersebut harus menikah dengan siapapun yang mau menikah dengannya tanpa ada alasan. Akhirnya perempuan tersebut menikah dengan duda tua berumur 55 tahun.

Satu hal lagi perempuan Nias tidak memiliki hak untuk hidupnya penuh. Kondisi ini membuat saya pri hatin dan melalui penelitian dan pendampingan saya akhirnya saya mengadakan penguatan sosial melalui dikusi rutin dengan perempuan Nais. Diskusi ini difasilitasi penduduk dan saya sebagai moderator dan pendamping menjelaskan bagaimana peranan perempuan dalam masyarakat, serta bagaimana hak-hak perempuan yang mereka harus terima. Diskusi kelompok dan emngundang tokoh adat dan agama untuk menjadi refleksi dan pemberian pandangan bagaimana dampaknya jika para perempuan di diskriminasi. Serta bagaimana caranya untuk perempuan juga dilibatkan dalam musyawarah desa sehingga tidak terpaku kepada satu kondisi. Tentunya tidak mudah namun semua berjalan dengan baik karena penggalangan dan penguatan modal sosial dengan masyarakat adat diterpakan. Saat ini sudah mulai terlihat kelompok perempuan aktif dan terlibat dalam pertemuan musyawarah. Tentunya ini masih tugas yang panjang namun dengan adanya pemahaman tentang hak perempuan sedikitnya dapat mengurangi beban yang berat, kerentanan dan diskriminatif pada akhirnya nanti dapat berkurang.

Semua adalah proses namun dalam berproses kita melibatkan masyarakat dan diri untuk hasil yang baik.
Daur kehidupan di Nias khususnya menjadi perhatian walau saat ini belum kelihatan hasilnya namun saya selalu berharap bahwa suatu waktu Perempuan Nias menuju sebuah peradaban walaupun peradaban itu belum memasuki peradaban modern atau peradaban Millenium. Namun sebagai satu bangsa kerinduan untuk melihat perempuan Nias dapat tersenyum, dengan dapat membaca dan menulis, berbahasa indonesia, membicarakan keinginan dan kemauannya serta di dengar, bagi saya dan mereka adalah suatu peradaban yang membawa kepada sisi yang lebih baik. Beban yang berat itu perlahan akan berkurang saat mereka paham kemanakah mereka saat sakit, bagaimana caranya dapat mengakses KB, bagaimana rasanya hidup dan menikah dengan orang yang dikenal bukan dengan orang yang saat itu menikah baru dikenal. Peradaban dimana dapat menggunakan WC dan mengambil air bersih untuk keluarga dan kehidupan sehari-hari tidak jauh, dapat melihat terang dimalam hari saat ada listrik. Karena bagaimanapun miskin dan susahnya suatu kehidupan di desa maka pihak yang paling rentan merasakannya adalah perempuan. Saya ingat kata-kata orang bijak bahwa kemajuan suatu negara dapat dilihat dari berapa besar para perempuan atau ibu sehat dan berapa banyak para perempuan mengecap dunia pendidikan.

Wajib belajar 9 tahun yang dengungnya sangat kuat dan terdengar, tetapi sepertinya tidak terdengar di Nias, bahkan saat dengungnya habis, jangankan sembilan tahun mengecap dunia pendidikan dasar 6 tahun saja tidak tercapai. Kemanakah para perempuan Nias melangkah ke suatu peradaban atau ke suatu keterpurukan. Memang ada perempuan Nias yang sekolah sampai sarjana, namun sangat kecil dibanding dengan perempuan yang ada di Pulau Nias karena mereka pergi merantau enggan membangun desanya karena kesulitan sarana. Jawab para perempuan yang sekolah diluar adalah tak ingin anak mereka merasakan apa yang dirasakan, sehingga mereka tak ingin kembali ke Nias.

Jika pemikiran ini dipertahankan siapakah yang akan membawa perempuan Nias menuju ke peradaban? Namun kejadian gempa dan tsunami mendongkrak sebuah keadaan sehingga dapat terlihat jelas wajah perempuan Nias yang memiliki sebuah warna tersendiri dalam banyaknya warna yang ada. Ternyata bangsa kita masih ada yang belum memasuki sebuah peradaban, upaya dan usaha dilakukan untuk menolong perlahan peradaban itu ada dan mulai terasa walau belum terdengar dan terlihat. Kerinduan yang bersahaja adalah adanya peradaban yang dirasakan oleh perempuan Nias walau itu masih peradaban yang dasar dan setidaknya saat ini Indonesia harus membangun bangsanya dengan memberantas kemiskinan menuju peradaban dengan cara memberikan akses pendidikan, kesehatan, listrik dan sanitatsi air bersih. Percuma membangun suatu menara di tengah gurun pasir karena perlahan akan hancur, namun lebih baik membangun rumah diatas batu yang dapat memberikan tumpangan dan kehidupan bagi banyak orang.

2 Responses to “Perempuan Nias Menuju Sebuah Peradaban”

  1. 1
    J. A. Sonjaya Says:

    Cara menuliskan pengalaman yang sungguh luar biasa, saya sungguh salut pada Adelina. Semoga masih punya banyak waktu untuk para perempuan di Nias.

    Saya ada sedikit saran buat Adelina ataupun pemerhati perempuan Nias yang lain: Posisi dan peran perempuan di Nias, menurut saya, telah terkonstruksi secara sistemik oleh proses sosial dan budaya, oleh sejarah. Jadi, pendampingan pada mereka hendaknya memperhatikan proses ini, tidak bisa instan (seperti membalik telapak tangan). Posisi dan peran perempuan terkait pula dengan posisi dan peran laki-laki dalam keluarga dan masyarakat, terkait dengan babi, terkait dengan jujuran, terkait dengan kekerabatan, terkait dengan utang-piutang, terkait dengan pendidikan, terkait dengan tabu, terkait dengan nilai-nilai, terkait dengan ruang, dan terkait dengan banyak hal lain. Kesadaran akan kesalingterkaitan ini tentu sangat berpengaruh dalam mendekati dan “memperbaiki” nasib perempuan Nias.

    Salam,

    J. A. Sonjaya (Ama Robi Hia)

  2. 2
    Robby H Abror Says:

    Salam kenal buat Pak J.A. Sonjaya. Buku Anda luar biasa. Sdh sy resensi dan dimuat di Media Indonesia, 14 Juni 2008, “Dongeng Nias di Mata Orang Jawa”. Penelitian yang lain kpn diterbitkan mas? Oya msh ngajar di UMY? Thx. Salam budaya dan pemikiran!

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

May 2008
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031