Dalam rangkaian kunjungannya ke Amerika Serikat, Paus Benediktus XVI berpidato di depan Majelis Umum PBB di New York. Paus Benediktus adalah Paus ketiga yang berbicara di Perserikatan Bangsa-Bangsa menyusul para pendahulunya Paus Paulus VI dan Paus Yohannes Paulus II. Paus Yohannes Paulus II mendapat kesempatan dua kali: tahun 1979 dan 1995.

Setiba di markas PBB, Paus Benediktus disambut oleh Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dan Presiden Majelis Umum Srgjan Kerim. Sebelum menyampaikan pidatonya, Paus Benediktus mengadakan pertemuan tertutup dengan Sekretaris Jenderal.

Paus memulai pidatonya menggunakan Bahasa Perancis sebelum akhirnya meneruskannya dalam Bahasa Inggris. Ia mencatat bahwa prinsip-prinsip dasar pembentukan PBB – keinginan akan perdamaian, rasa keadilan, penghormatan atas martabat pribadi manusia, dan kerjasama dan bantuan kemanusiaan – tiada lain adalah aspirasi semangat kemanusiaan. Takhta Suci memiliki kepentingan yang sama akan prinsip-prinsip ini.

Masalah keamanan, pembangunan, pengurangan ketimpangan, dan kepedulian terhadap lingkungan membutuhkan aksi kolektif demi kebaikan bersama. Meskipun kemajuan sains dan teknologi bisa sangat membantu, banyak dari kemajuan ini yang merampas pribadi manusia dan keluarga dari jatidiri mereka. Paus menghimbau masyarakat dunia untuk menggunakan sarana-sarana hukum jika dibutuhkan untuk melindungi hak-hak azasi manusia.

Paus berbicara tentang pentingnya melindungi hak-hak azasi manusia sambil mengenang ulang tahun ke 60 Deklarasi Universal Hak-Hak Azasi Manusia. Menegakkan hak-hak azasi manusia merupakan strategi paling efektif untuk mengurangi ketimpangan dan meningkatkan keamanan. HAM bukan hanya masalah hukum, tetapi juga masalah keadilan berdasarkan hukum alam yang tertulis dalam hati manusia.

Sekali lagi, Paus berbicara tentang pentingnya dialog antara agama-agama sebagai jalan membangun konsensus dalam pelayanan kebaikan bersama. Ia menekankan pentingnya kebebasan beragama dalam dimensi umum dan juga dalam dimensi pribadi.

Paus Benediktus mengatakan Gereja Katolik ingin menawarkan kontribusi yang tepat untuk hubungan internasional, dengan membagikan pengalaman berabad-abad gereja dalam bidang ini untuk tujuan tersebut. (Sumber: USCCB’s Papal Visit Blog)

Facebook Comments