Melacak Mitos Siléwé Nazarata

Monday, April 14, 2008
By nias

Victor Zebua

Andaikan Peter Suzuki membaca karya tulis Faogöli Harefa, mungkin dia berpikir panjang menyimpulkan Siléwé Nazarata sebagai dewi orang Nias kuno. Cerita Suzuki tentang Siléwé Nazarata berbeda dibanding cerita Harefa. Namun disertasi (proefschrift) Suzuki ”The Religous System and Culture of Nias, Indonesia” sejak dibukukan tahun 1959 menjadi sangat terkenal dan mampu mempengaruhi pelbagai pihak. Bahkan mayoritas orang Nias sendiri ”menerima” mitos Siléwé Nazarata versi Suzuki.

Suzuki (1959: 4) mengutip mite di kawasan Nias Selatan dari kontroleur Schröder. Inada Samihara Luo lahir dari kabut. Tubuhnya terbelah, kemudian tumbuh Inada Samadulo Hösi yang menjadi ibu para dewa dan manusia. Samadulo Hösi punya dua pasang anak kembar. Pasangan pertama Latura Danö Tow alias Lawaero Watua (pria) dan Hinaja Drao Tane’a Danö alias Hinaja Drao Djsiwa Buluwa (putri). Pasangan ini kawin sumbang (incest). Pasangan kedua Sabölö Luwo Gögömi alias Sabölö Luo Sabuwa alias Lowalani (putra) dan Nadawa Mölö alias Nadsarija M’banuwa (putri), juga kawin sumbang. Nadsarija M’banuwa identik Siléwé Nazarata.

Lewat berbagai analisis, Suzuki (1959: 12, 17) berkesimpulan dewa orang Nias kuno berwajah tiga, yaitu: Lowalangi, Lature Danö, dan Siléwé Nazarata. Lowalangi berada di dunia atas (the upperworld) sebagai sumber kebaikan, Lature Danö di dunia bawah (the underworld) sebagai sumber keburukan (kejahatan), sedang Siléwé Nazarata di dua dunia (atas dan bawah). Struktur ini, menurut Suzuki, berdasar prinsip agama kuno (religi) Nias, yaitu dualisme (ambivalensi) dan monisme (totalitas). Dualisme melukiskan perbedaan kontras (misal: dunia atas-bawah, pria-wanita, baik-buruk), ditunjukkan oleh peran Lowalangi dan Lature Danö. Monisme adalah gabungan perbedaan itu (misal: pencipta-perusak, hidup-mati, dermawan-penipu, atau biseksual), ditunjukkan oleh peran Siléwé Nazarata.

Suzuki menyimpulkan, terdapat tiga jiwa dewa dalam mitologi Nias, namun tubuhnya satu yaitu Siléwé Nazarata. Dewa (dewi) ini dapat berperan sebagai Lowalangi dan Lature Danö. Biseksualitas Siléwé Nazarata dibuktikan lewat adu horö (patung Siléwé Nazarata) yang berkelamin pria tapi berpayudara, serta berjenggot dan berkumis tapi bertubuh wanita.

Pengaruh Suzuki

Karya tulis Suzuki dirujuk banyak karya tulis, seperti: Dananjaya (1969), Hadiwijono (1977), Laiya (1980), Yamamoto (1986), Gulo (1988), Danandjaja dan Koentjaraningrat (2004). Meski beberapa penulis (peneliti) telah melihat adanya kontroversi dalam pola pikir Suzuki, namun mereka masih mengacu Suzuki.

Menurut Hadiwijono (1977: 85, 88-89), terdapat berita-berita yang kompleks sekali mengenai ”mite penjadian”. Semua menceritakan, sebelum Lowalangi dan Lature Danö dijadikan sudah ada tokoh dewa yang lebih tinggi. Tokoh itu Siléwé Nazarata, seorang dewi yang dihubungkan dengan imamat di Nias. Agaknya dewi inilah yang dipandang sebagai sebab yang sebenarnya dari penjadian dunia. Siléwé Nazarata memasukkan agama ke dunia, artinya dia yang memasukkan adat kebiasaan membuat patung dewa guna disembah. Cerita tentang Siléwé Nazarata dalam buku Hadiwijono sebagai berikut.

”Pada suatu waktu manusia diganggu oleh dewa2 dengan penyakit. Gangguan ini sedemikian rupa hingga ada bahaya manusia mati semua. Sinoi, isteri Hulu, naik ke atas dan minta pertolongan kepada Silewe Nazarata. Silewe mengutus 30 orang dari anak2nya ke bawah sebagai kayu yang ber-macam2. Dari kayu itu orang harus membuat patung2, yang akan dimasuki oleh roh anak2 Silewe. Sinoi diajar secara mendalam dalam segala seluk-beluk imamat dan dijadikan imam yang pertama di bumi. Ia meneruskan ilmu yang dimiliki kepada orang lain, sehingga ada banyak imam… Sering disebutkan bahwa tempat kediaman Silewe Nazarata adalah di bulan, sekalipun tempat kediamannya yang resmi adalah di samping Lowalangi di alam yang teratas. Karena kediamannya di bulan itu ia sering dipandang sebagai dewi-bulan.”

Menurut Hadiwijono, Siléwé Nazarata adalah dewi bulan. Sebagai bandingan, menurut Munsterberger, dewi bulan adalah Inada Simadulo Hösi, sedang dewi matahari adalah Inada Samihara Luo (Hämmerle, 1996: 69). Selain itu, sumber lain menyebutkan semua ilmu gaib para éré (imam agama) diperoleh dari Siléwé Nazarata (Dananjaya, 1969: 109).

Bila Hadiwijono melihat Siléwé Nazarata sebagai dewi yang dipandang sebagai sebab yang sebenarnya dari penjadian dunia, tidak demikian menurut Laiya. Laiya (1980: 23-24) menulis sebagai berikut.

”… orang-orang Nias dari bagian Selatan dahulu mengenal Inada Samihara Luo sebagai pencipta. Dia adalah pencipta universe termasuk dewa dan manusia, sebagaimana yang disinggung hampir dalam seluruh fo’ere (literatur lisan)… Di antara dewa atas dan dewa bawah, ada lagi dewi yang disebut Nazariya Mbanua, istilah orang Nias Selatan untuk menyebut dewi Silewe Nazarata. Silewe Nazarata (istilah Nias Utara yang dipakai sekarang) adalah dewi penghubung di antara Lowalani (dewa dunia atas) dan Latura Dano (dewa dunia bawah) dan juga sebagai dewi penghubung di antara kaum dewa dan ummat manusia.”

Tentang Lowalangi, Laiya mengatakan bahwa keaslian agama kuno orang Nias di bagian selatan bercampur baur dan berkomplikasi dengan konsep dan praktek agama kuno orang Nias di bagian utara sejak misionaris Jerman memperkenalkan istilah bagian utara Nias, Lowalangi (diucapkan Lowalani di selatan Nias). Lowalani dikenal dewasa ini di selatan Nias sebagai pencipta, tetapi menurut kepercayaan mereka yang asli tidak. Lowalani dahulu hanya dianggap sebagai dewa yang amat berkuasa. Istilah Lowalani itu sendiri biasanya dihubungkan dengan seseorang yang kuat, sehingga nama ini dipakai menjadi nama desa, seperti Bawolowalani, atau nama kebesaran seseorang, misalnya Tuha-Lowalani.

Selain Laiya yang mencoba mengkritisi Suzuki, Danandjaja dan Koentjaraningrat (2004: 50-52) juga berupaya melihat mitologi Nias dari perspektif lain. Mereka menyandingkan mitos versi Suzuki dengan mitos versi Harefa (1939) dan versi Fa’ano Daely (1964).

Setelah sekitar satu generasi, kritik tajam mulai melanda Suzuki. Hämmerle (1986: 53-60) berkesimpulan, keterangan Suzuki di “Chapter X The Börö N’adu Ceremony” tidak berlaku bagi Nias Selatan seluruhnya dan sama sekali tidak dapat dibenarkan kalau Suzuki menganggap hal itu umum bagi pulau Nias. Hampir satu generasi kemudian Zebua (2006: 124-138) yang menyoroti eksistensi Siléwé Nazarata berkesimpulan Suzuki gagal membedakan para tokoh mitos kosmogonis dan teogonis dalam mitologi Nias.

Gelar Pengantin

Penelitian Agner Møller agaknya cukup mempengaruhi riset meta-analysis (studi pustaka) Suzuki ketika Suzuki berkesimpulan Siléwé Nazarata adalah dewa tertinggi. Møller banyak menaruh perhatian pada peranan Siléwé yang menurut pendapatnya dapat membentuk, menghidupkan, dan mematikan manusia (Hämmerle, 1996: 64). Bagaimana peranan Siléwé Nazarata versi Faogöli Harefa?

Bagi Harefa, Siléwé Nazarata bukan dewi yang membentuk, menghidupkan, dan mematikan manusia. Nama ini merupakan gelar putri raja Tetembori Ana’a yang bernama Silusia, sebagaimana ditulis Harefa (1939: 12, 17) berikut.

”Adapoen Baloegoe Loeo Mewöna jang mendjadi radja di Teteholi Ana’a, setelah berpermaisoerikan poeteri dari Ndroendroe Tanö radja di Tetembori Ana’a, bernama Siloesia jang kemoedian bergelar Silewe Nazarata… Setelah toean poetri Siloesia bersoeamikan Baloegoe Luoe Mewöna jaitoe anak dari Sirao digelarilah toean poetri Siloesia terseboet dengan nama Silewe Nazarata. Sebab itoe sampai sekarang menoeroet adat Nias dalam perkawinan tjoema perempoean jang mendapat gelar sedang laki-laki tidak.”

Selain Harefa, Mendröfa (1981: 117) juga menulis bahwa saat Silusi Bakola Zotöra menikah dengan Luomewöna sang puteri diberi gelar Siléwé Nazarata. Tradisi pemberian gelar bagi pengantin wanita hingga hari-hari ini masih dipraktekkan oleh sebagian besar orang Nias. Dengan kata lain, karena pemberian gelar pengantin wanita masih dipraktekkan, bagi orang Nias masa kini cerita Siléwé Nazarata versi Harefa (dan Mendröfa) mengacu kenyataan. Artinya, cerita itu merupakan sebuah mitos, sebuah sejarah suci yang dipercaya benar terjadi karena keberadaan ’pemberian gelar’ itu sendiri membuktikan hal tersebut (Dhavamony, 1996: 153).

Menguak Mitos

Dalam kondisi seperti terurai di atas, Januari 2008 terbit buku “Melacak Batu Menguak Mitos Petualangan Antarbudaya di Nias” karya Jajang A. Sonjaya. Sebagai hasil kerja keras keluar-masuk kampung di pulau Nias karya tulis tersebut patut diacungi jempol. Sonjaya adalah dosen Fakultas Ilmu Budaya dan peneliti di UGM, dari latar belakang etnis Sunda, sebelum buku diluncurkan dia mengikuti tradisi teknonymy Nias dengan mengadopsi nama Ama Robi Hia. Untuk mendapat gambaran mitos Nias dalam buku Sonjaya, dikutip satu paragraf tulisan Sonjaya (2008: 75).

“Dahulu, sebelum agama Kristen dan Katolik masuk ke Nias, orang-orang di Nias memuja roh-roh leluhur yang dianggap menguasai banyak objek kehidupan, seperti laut, sungai, angin, pohon besar, batu besar, muara sungai, rumah, dan sebagainya. Orang Nias percaya bahwa kehidupan manusia di dunia dikendalikan oleh roh-roh yang menempati dunia atas, dunia bawah, dan dunia tengah di mana manusia hidup. Lowalani adalah zat atau roh yang menguasai dunia atas, Laturadanö menguasai dunia bawah, dan Silewa Nazarata menguasai dunia tengah. Silewa Nazarata dipandang sebagai juru pendamai karena konon ia adalah saudara Lowalani dan Laturadanö. Beberapa sumber bahkan mengatakan bahwa Silewa Nazarata adalah istri dari Lowalani dan/atau istri Laturadanö.”

Tak ada penjelasan perihal sumber tulisan tersebut, diperoleh dari literatur atau hasil wawancara (observasi partisipasi). Juga tak dijumpai kajian terhadap mitos di dalamnya. Ada kesan mitos yang terkandung dalam tulisan tersebut mirip mitos versi Suzuki. Sebagai catatan, dalam referensi Sonjaya tak mencantumkan karya tulis (publikasi) Suzuki.

Mitos Nias agaknya kurang serius dieksplorasi dan dianalisis Sonjaya, meski judul bukunya berisi unsur ’menguak mitos’. Salah satu indikasinya penulisan ’Silewa Nazarata’ tak sebagaimana lazimnya ’Silewe Nazarata’ atau ’Siléwé Nazarata’. Hal ini mungkin karena kesalahan ketik, dan itu dapat dimaklumi. Namun tulisan tentang mitos Sihai sulit disebut salah ketik. Untuk hal terakhir ini Sonjaya (2008: 59) menulis sebagai berikut.

”… Di beberapa tempat di Nias, terutama bagian selatan, dijumpai beberapa mitos asal-usul yang berlainan dengan yang dibahas di atas. Salah satunya adalah Mitos Sihai. Secara prinsip proses asal-usul manusia sama dengan mitos asal-usul lainnya di Nias, namun tampak berbeda dalam tokoh. Hal ini mengindikasikan bahwa mitos tersebut diciptakan oleh generasi lain yang sudah mendapat pengaruh dari luar. Kata sihai membawa pada interpretasi Cina sebagai asal mereka.”

Konteks dari teks tersebut adalah penjelasan tentang tinggalan megalitik Nias Selatan di luar Börönadu (seperti: Tundrumbawo, Bawömataluo, Telukdalam) yang jauh lebih besar dan banyak ketimbang Börönadu tempat asal leluhur. Penjelasan Sonjaya adalah: adanya kontak dengan pedagang luar, lebih dekat dengan pusat peradaban seperti Padang, dan adanya generasi lain yang diduga berasal dari Cina.

Sebuah falsifikasi dapat diajukan. Mitos Sihai justru dijumpai di kawasan utara, bukan di bagian selatan Nias. Laiya (1980) menyebut mitos Inada Samihara Luo di Selatan, sementara Mendröfa (1981) berkisah tentang Maha Sihai di Utara. Walhasil, harapan bertemu pelbagai perspektif dan hal-hal baru dari kerja lapangan ’menguak mitos’ Nias, khususnya mitos Siléwé Nazarata, jadi kuncup karena disorientasi geografis dalam buku Sonjaya.

Untung, di pengantar buku P.M. Laksono menulis bahwa buku ini belum mencerminkan puncak laku intelektual penulisnya. Dengan demikian posisi refleksi dari hasil kerja lapangan Sonjaya dapat dimaklumi. Keprihatinan Salim (2006: 3) bahwa para periset kualitatif lebih sering disebut sebagai ’wartawan’ ketimbang sebagai ’ilmuwan’, untuk sementara boleh diabaikan.

Bacaan

  1. Dananjaya, J., Ono Niha: Penduduk Pulau Nias, Ditrahpus AL, 1969
  2. Danandjaja, J. dan Koentjaraningrat, Penduduk Kepulauan Sebelah Barat Sumatra, dalam Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Djambatan, cet. 20, 2004
  3. Dhavamony, Mariasusai, Phenomenology of Religion (1973), terjemahan: Fenomenologi Agama, Kanisius, 1995
  4. Gulo, W., Pengaruh Nilai-nilai Budaya Nias Terhadap Upaya Peningkatan Kualitas Manusia, Seminar Kebudayaan Nias dan Kualitas Manusia, IKN Yogyakarta, 26 Juni 1988
  5. Hadiwijono, H., Religi Suku Murba di Indonesia, BPK Gunung Mulia, 1977
  6. Hämmerle, J. M., Famatö Harimao, Yayasan Pusaka Nias, 1986
  7. Hämmerle, Johannes M., Ritus patung Harimau dan Pemahaman tentang Arti Lowalangi di Nias Masa Agama Purba, Yayasan Pusaka Nias, 1996
  8. Harefa, F., Hikajat dan Tjeritera Bangsa serta Adat Nias, Rapatfonds Residentie Tapanoeli, 1939
  9. Laiya, B., Solidaritas Kekeluargaan Dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias – Indonesia, Gadjah Mada University Press, 1980
  10. Mendröfa, S. W., Fondrakö Ono Niha Agama Purba – Hukum Adat – Mitologi – Hikayat Masyarakat Nias, Inkultra Fondation Inc, 1981
  11. Salim, A., Teori & Paradigma Penelitian Sosial Buku Sumber untuk Penelitian Kualitatif, Tiara Wacana, ed. 2, 2006
  12. Sonjaya, J. A., Melacak Batu Menguak Mitos Petualangan Antarbudaya di Nias, Kanisius, 2008
  13. Suzuki, Peter, The Religious System and Culture of Nias, Indonesia, ’S Gravenhage, 1959.
  14. Yamamoto, Yoshiko, A Sense of Tradition An Ethnographic Approach to Nias Material Culture, Thesis, Cornell University, 1986
  15. Zebua, V., Ho Jendela Nias Kuno Sebuah Kajian Kritis Mitologis, Pustaka Pelajar, 2006

13 Responses to “Melacak Mitos Siléwé Nazarata”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. 11
    Ardhyn Gea Says:

    Yahowu. bukti yang bisa akurat atau nyata sejarah asal usul orang Nias kapan bisa di ketahui mesyarakat Nias…?

  2. 12
    Zinyomazie Zituyodeze Gea Says:

    silewe adalah putri raja cina,bukan roh yg badan nya terbelah.nenek silewe masih hidup sampai sekarang karna mempunyai hidup yg kekal dan masih terlihat muda.nenek silewe akan menampakan wujud nya kembali ketika ada nya perang agam di nias…

    salam :
    Zinyomazie Zituyodeze Gea

  3. 13
    Angel Moi Says:

    sejarah yang perlu diketahui banyak orang .. udah berapa banyak yaak yang baca tentang ini ?

Pages: « 1 [2] Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

April 2008
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930