IRRI Promosikan Padi Hibrida

NEW DELHI, Rabu (Kompas) – Kerusuhan akibat pangan yang langka dan mahal sudah mendera banyak negara. Kerusuhan serupa itu akan terus menjalar ke berbagai negara, terutama yang miskin. Masalahnya, kelangkaan dan mahalnya harga pangan masih akan terus bertahan hingga waktu yang belum diketahui. Demikian pernyataan Jacques Diouf, Dirjen Food and Agriculture Organisation (FAO), di New Delhi, Rabu (9/4). Dia sedang melakukan kunjungan ke India.Kombinasi harga bahan bakar minyak (BBM) yang mahal, dengan peningkatan permintaan atas pangan dari negara Asia yang makmur, permintaan biji-bijian untuk biofuel, dan cuaca buruk telah meningkatkan harga pangan. Ini memicu kerusuhan terutama di negara-negara miskin.

Pernyataan Diouf itu melengkapi peringatan yang sudah disampaikan sebelumnya oleh Presiden Bank Dunia Robert Zoellick, dan juga oleh World Food Programme (WFP).

Diouf mengatakan ada risiko berupa meningkatnya ketidakstabilan sosial di negara-negara dengan penduduk, yang lebih dari setengah penghasilan mereka dialokasikan untuk pangan.

Beberapa negara Asia juga rentan dengan kerusuhan. Para pemimpin Asia kini sedang waspada. Asia adalah lokasi untuk dua pertiga dari sekitar 1,2 miliar penduduk termiskin dunia. ”Akan ada kerusuhan. Negara-negara miskin Asia akan mengalami hal itu dengan probabilitas yang lebih tinggi ketimbang Asia yang lebih kaya seperti Malaysia dan Singapura,” kata Ooi Kee Beng, seorang peneliti dari Institute of Southeast Asian Studies (Iseas) di Singapura, Selasa (8/4).

Banglades dan Filipina tergolong yang paling terpukul akibat kenaikan harga beras, yang menjadi pangan utama. ”Naiknya harga pangan telah menjadi masalah serius bagi pemerintahan di Asia yang berkuasa sekarang,” kata Ataur Rahman, pakar politik dari Banglades.

Di sebuah forum Iseas disebutkan, Banglades dan warga miskin Indonesia mengalokasikan 70 persen pendapatan untuk pangan.

Di China, inflasi akibat kenaikan harga pangan juga bisa menimbulkan kerusuhan sosial. ”Ada banyak warga yang memendam marah karena kenaikan harga pangan,” kata Jean-Pierre Cabestan dari Baptist University, Hongkong. Dikatakan, rasa marah ini berpotensi menjadi bibit kerusuhan di masa datang.

Di Vietnam, aksi protes juga berpotensi meningkat. ”Masalahnya, kenaikan harga pangan telah memukul banyak banyak orang,” kata Nguyen Thi Dung, seorang tokoh serikat buruh Vietnam.

Hal ini senada dengan pandangan FAO. ”Persoalannya sangat serius di berbagai negara. Kita sudah melihat kerusuhan di Mesir, Kamerun, Haiti, dan Burkina Faso,” kata Diouf. Sejauh ini, kerusuhan atau protes akibat kelangkaan dan mahalnya pangan sudah terjadi di setidaknya 42 negara.

China sudah memulai

Berdasarkan catatan PBB, harga-harga pangan sudah mulai naik sejak 2002. Sejak itu harga- harga terus naik lebih pesat. Sepanjang tahun 2007 saja, berdasarkan data FAO, indeks harga pangan naik 80 persen dan harga-harga pangan jenis biji-bijian sudah naik 42 persen.

Sebuah badan yang bermarkas di Filipina, International Rice Research Institute (IIRI), Selasa (8/4), menyarankan agar tanaman padi hibrida digencarkan. Hal itu bertujuan meningkatkan produksi pangan dengan tempo yang relatif lebih cepat dan volume yang lebih banyak.

Padi hibrida bisa dikembangkan berdasarkan pengetahuan bioteknologi. ”Kita sudah pernah menghadapi gejolak harga pangan yang naik secara dramatis,” kata Ketua IRRI, Robert Zeigler.

”Karena beras adalah pangan utama untuk kaum papa dunia, maka setiap kenaikan harga akan memukul mereka. Tak diragukan lagi, kita memerlukan teknologi yang meningkatkan produktivitas. Padi hibrida adalah prioritas utama untuk dikembangkan,” kata Zeigler.

Dikatakan, padi hibrida sudah dikembangkan di China. Padi hibrida merupakan pengawinan genetika dari tiga jenis pangan untuk memproduksi padi dengan masa panen lebih cepat dan volume 20 persen lebih banyak dari padi biasa. (REUTERS/AP/AFP/MON)

Sumber: www.kompas.co.id, 10 april 2008.

Facebook Comments