Kelaparan di Negeri Superkaya

Wednesday, April 9, 2008
By susuwongi

Oleh Benny Susetyo Pr

Tragedi Daeng Besse, keluarga miskin di Makassar, yang meninggal dunia diduga akibat kelaparan sangat memilukan. Dalam waktu berdekatan juga dilaporkan berbagai kasus kelaparan dan gizi buruk di berbagai daerah. Ada apa sesungguhnya yang terjadi pada bangsa ini?

Kasus kematian bayi akibat busung lapar terus terjadi. Penderitaan demi penderitaan yang dialami rakyat kecil bahkan sudah menjadi pemandangan sangat biasa yang tidak terlalu mengundang keprihatinan penguasa untuk melakukan reorientasi visi dan kebijakan ekonominya.

Hal ini tidak bisa terlepas dari pilihan dasar kebijakan ekonomi yang sedang dan akan ditempuh oleh penguasa. Orientasinya masih dalam rangka menyelamatkan nasib kaum pemodal internasional dan memelihara keuntungan. Orientasi kemandirian ekonomi hancur karena keyakinan penguasa tentang begitu mudahnya modal didapatkan dari utang luar negeri.

Kasus kelaparan di berbagai daerah semakin memperburuk daftar panjang kasus kemiskinan di negeri ini. Sayangnya kita belum bisa membaca peringatan itu dengan baik. Kelaparan, gizi buruk, penyakit polio, busung lapar, dan seterusnya adalah pertanda dari Tuhan agar bangsa ini bisa dan mau menyadari adanya polaritas yang amat tajam antara elite yang kaya raya dan rakyat jelata. Peringatan itu diberikan karena realitas hidup kaum berkuasa dan berduit dibandingkan kaum yang dikuasai dan tidak punya duit begitu amat timpang.

Yang ingin dinyatakan, kasus kelaparan dan lainnya adalah kasus yang menyentuh kalbu kemanusiaan. Kasus ini seharusnya bisa memberikan penyadaran bahwa di tengah gegap-gempita perebutan akses jabatan dan uang di Jakarta oleh elite-elite kita, generasi kita menghadapi hidup yang sulit bahkan mengenaskan. Kasus kelaparan ini memerlukan solidaritas sosial, sebagaimana diajarkan oleh iman agama apa pun, dan merupakan tanggung jawab dari seluruh komponen bangsa ini.

Negara Sibuk

Apa yang terjadi di sebagian besar masyarakat kita, di pinggiran kota ataupun di pedalaman, sebenarnya adalah cermin keseluruhan bangsa ini. Kemewahan dan keberlimpahan pada sebagian sangat kecil masyarakat kita bukanlah wajah bangsa ini. Sesungguhnya wajah bangsa ini, apabila dihadapkan pada cermin atau dilihat dari luar, adalah wajah kemiskinan dan kebodohan.

Peristiwa kelaparan, busung lapar, polio, dan kekurangan gizi ternyata masih menjadi masalah mendasar dan akut pada bangsa yang sudah merdeka lebih dari setengah abad ini. Peristiwa ini mencerminkan kelalaian negara melindungi dan menyejahterakan kehidupan masyarakat.

Negara sibuk dengan persoalannya sendiri, yang sering jauh dari apa yang dihadapi masyarakat secara riil. Negara menjadi entitas “lain” yang seolah-olah tak ada kaitannya dengan masyarakat. Dan masyarakat juga menjadi entitas “lain” yang tidak memerlukan uluran bantuan kesejahteraan dari negara. Keduanya dipisahkan oleh kepentingan politik-ekonomi penguasa yang abai terhadap kepentingan rakyat.

Kasus kelaparan menjadi kasus yang amat memalukan negeri supersubur ini. Koes Ploes pun sejak lama sudah berdendang, negeri kita adalah tanah sorga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman! Kalau kasus ini terjadi di negeri yang kering-kerontang, tanpa hujan, tanpa kesuburan, tanpa sumber daya alam lainnya mungkin kita maklum. Kasus ini terjadi di negara yang amat subur dengan sumber daya alam yang melimpah.

Lalu mengapa ada anak ayam mati di lumbung padi?

Tentu ada persoalan besar yang kita hadapi, sehingga nasi di depan mata tidak bisa kita makan sepuas hati. Ada persoalan besar ketika fenomena orang kekenyangan dan kelaparan hidup berbarengan tanpa ada rasa bersalah atau yang dipersalahkan. Kalau 200 juta lebih penduduk Indonesia hidup dalam kelaparan mungkin kita tidak akan menggugat persoalan ini.

Kita menghadapi persoalan sebagian besar masyarakat Indonesia hidup kurang layak. Sebagian kecil masyarakat kita hidup berkelimpahan. Memang itu adalah kewajaran dalam dunia sosial, namun menjadi tidak wajar ketika sebagian orang mempertanyakan dari mana dan dengan cara apa cara hidup kenyang mereka dapatkan.

Hutan Digunduli

Harta negara habis diperebutkan oleh orang-orang “pintar” dengan berbagai macam dalih. Hutan kita habis digunduli oleh orang yang punya modal sekaligus memiliki akses pada kekuasaan preman.

Kita hidup di negeri superparadoks. Negara kita berkonstitusi melindungi fakir miskin, tapi kenyataannya apa yang mereka perbuat kepada fakir miskin adalah menggusur dan mengusir.

Kenyataan-kenyataan itulah sedikit dari sekian banyak persoalan yang membuat rakyat Indonesia kelaparan di tengah lumbung padi. Lumbung padi di sekitar mereka itu bukan milik mereka sendiri, tetapi milik orang-orang berdasi di ujung sana.

Masyarakat kita tengah sakit dan hampir tak berdaya menghadapi persoalan-persoalan yang sedikit banyak, langsung atau tidak, diakibatkan oleh pengelolaan negara yang tidak benar. Yaitu pengelolaan negara yang lebih memihak kepada orang kenyang daripada orang lapar. Yang lebih memihak kaum pemodal daripada masyarakat marjinal.

Dengan kasus seperti ini pelajaran berharga yang bisa kita petik adalah protes keras terhadap kesadaran kalangan pejabat pemerintahan yang kurang memperhatikan nasib rakyat. Makna di balik kasus ini adalah masyarakat membutuhkan pertolongan dengan segera. Anak-anak membutuhkan gizi yang cukup. Orang tua perlu mendapatkan pekerjaan yang layak agar bisa memberikan penghidupan yang layak bagi generasi baru Indonesia. Jika ini tidak disikapi dengan serius, kita akan memiliki sebuah fase generasi yang hilang (the lost generation).

Pemberdayaan masyarakat tidak bisa lagi mengacu semata-mata pada model atas-bawah, yakni turunnya proyek pembangunan dari atas ke bawah, dan ketika di bawah sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan karena dana proyek sudah dipotong habis. Model pemberdayaan masyarakat harus dimulai dari masyarakat sendiri, usulan masyarakat sendiri untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang berkembang dalam dirinya sendiri (bottom-up).

Pemerintah harus memfasilitasinya melalui pendidikan dan pelatihan. Harus dimengerti kemiskinan bukanlah masalah miskin itu sendiri. Ia berkawan dekat dengan kebodohan dan ketidakberdayaan.

Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya mutlak bagi penanggulangan kemiskinan di negeri ini, selain political will yang serius.

Pemberdayaan ini bertujuan menekan perasaan ketidakberdayaan masyarakat bila nanti berhadapan dengan struktur sosial politik di mana orang miskin tersebut tinggal. Lalu setelah kesadaran kritis muncul, upaya-upaya memutus sifat hubungan yang eksploitatif terhadap lapisan orang miskin perlu dilakukan.

Terakhir harus diingatkan bahwa busung lapar telah menjadi ancaman serius terhadap masa depan negeri ini. Di antara mereka umumnya adalah balita. Akibatnya, meskipun penderita gizi buruk bisa bertahan hidup dan tumbuh menjadi dewasa, mereka akan menderita kelemahan mental, pertumbuhan fisik terlambat, dan rentan terhadap penyakit.

Penulis adalah budayawan dan Sekretaris Dewan Nasional Setara Institute

Sumber: www.suarapembaruan.com, Last modified: 9/4/08

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

April 2008
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930