Paja ilmuwan dan pejabat lingkungan dari lebih 160 negara sedang membicarakan rencana pembuatan draf pengganti Protokol Kyoto pada hari terakhir pertemuan iklim PBB di Bangkok minggu ini.

Pertemuan yang berlangsung selama lima hari itu diwarnai dengan perbedaan pendapat besar di mana negara-negara berkembang menuntut negara-negara kaya menyediakan dukungan dana untuk menolong mereka mengurangi emisi gas-gas rumah kaca.

Mereka juga menuntut negara-negara kaya memperbesar pengurangan emisi.

Pertemuan ini menindaklanjuti hasil-hasil Konferensi Bali pada bulan Desember 2007, dan merupakan bagian dari proses pembuatan kesepakatan baru tentang perubahan iklim pada saat Protokol Kyoto berakhir tahun 2012.

Para aktivis lingkungan di Bangkok mengatakan mereka prihatin teks draf untuk kesepakatan baru menyebutkan kontribusi emisi dari sektor penerbangan dan perkapalan tetapi tidak merekomendasikan apakah hal ini akan dimasukkan dalam kesepakatan baru nanti.

Dalam sebuah teks draf terpisah, 4 pertemuan telah direncanakan untuk tahun depan, di mana teks final direncanakan disepakati pada pertemuan PBB di Denmark pada akhir tahun 2009.

Para pengamat di Bangkok mengatakan ada kesepakatan umum pada pertemuan Bangkok bahwa isu yang paling rumit – yakni tingkat pemotongan emisi sesudah tahun 2012 – tidak akan diputuskan sampai setelah presiden baru Amerika dilantik pada bukan Februari 2009.

Ketiga calon presiden AS – John McCain, Barack Obama dan Hillary Clinton – telah berjanji mengambil langkah-langkah lebih keras untuk mengatasi perubahan iklim daripada yang diambil Presiden Bush yang menolak menandatangai Protokol Kyoto.

Akan tetapi belum jelas apakah presiden Amerika yang baru akan menyetujui usulan Eropa agar negara-negara maju mengurangi emisi mereka sampai 40% dari level emisi tahun 1990 pada tahun 2020.

Amerika mungkin juga akan terus mendesak negara-negara berkembang untuk membuat komitmen pengurangan emisi pada kesepakatan baru nanti, yang bisa memancing penolakan dari China dan India. (*)

Facebook Comments