*Mengenang Tiga Tahun Gempa Nias

E. Halawa*

Tiga tahun pasca gempa, Nias bukan hanya pulih dari dampak bencana tetapi telah mencapai kemajuan yang bahkan melebihi banyak kabupaten dan kota lain di Sumatera Utara. … TB Silalahi, Anggota Dewan Pengawas BRR NAD-Nias (Sumber: Waspada Online, 28 Maret 2008)

Tiada lagi air mata, tiada lagi penderitaan yang tak terbayangkan di dalam tenda-tenda darurat. Setelah tiga tahun, Nias kelihatannya telah bangkit kembali dari kertepurukan yang amat dalam akibat gempa dahsyat itu.

Pada hari Jumat 28/03/2008, berkenaan dengan perungatan 3 tahun gempa Nias, Situs Yaahowu menayangkan news release dari BRR Perwakilan Nias. News release itu berisikan informasikan tentang berbagai kemajuan di bidang rekonstruksi dan rehabilitasi Nias yang telah berlangsung sejak 2005 melalui koordinasi BRR Perwakilan Nias.

Pada hari yang sama, dalam sebuah pemberitaan media online, TB Silalahi, Anggota Dewan Pengawas BRR NAD-Nias menyatakan bahwa kemajuan Nias selama program RR telah menempatkan Nias dalam “kemajuan yang bahkan melebihi banyak kabupaten dan kota lain di Sumatera Utara”.

“Kebenaran Visual”
Baik pernyataan TB Silalahi maupun informasi dalam new release BRR Nias memiliki sisi-sisi ‘kebenaran’, walau harus kita menempatkannya dalam tanda kutip untuk sementara.

Kalau boleh kita menciptakan sebuah istilah baru, untuk mencoba menggambarkan pemahaman kita terhadap new release dari BRR Perwakilan Nias dan pernyataan TB Silalahi, maka kebenaran pernyataan dan informasi tersebut dapat kita kategorikan sebagai “Kebenaran Visual”. Apa itu kebenaran visual ? Kebenaran visual dalam konteks ini adalah kebenaran yang didukung oleh data-data visual, di lapangan kalau melihat langsung, dan di ruang maya ini lewat foto-foto kemajuan fisik dalam bentuk sarana-sarana dan prasaransa fisik yang dapat dilihat antara lain dalam halaman Nias Dalam Gambar. Tak ada seorang pun yang bisa menyangkalnya.

Jalan-jalan mulus kini bukan hal asing lagi di Nias, saking mulusnya menjadi ajang ‘show’ para pengendara sepeda motor untuk menunjukkan kebolehannya memacu kendaraan secepat-cepatnya. Semoga saja jumlah korban lalu lintas jalan mulus yang dibangun BRR Perwakilan Nias tidak akan melebihi angka korban gempa 28 Maret 2005 yang berkisar 800 orang.

Jalan mulus, jembatan, dan pasar-pasar baru yang dibangun adalah bukti-bukti visual kemajuan fisik yang telah dicapai selama program RR Nias. Masalahnya, sampai saat ini, kemajuan fisik itu belum mewujud menjadi kemajuan nyata dalam bentuk perbaikan hidup masyarakat Nias. Harga-harga yang melambung sebagai akibat langsung dari proses RR justru telah semakin menempatkan mayoritas masyarakat Nias dalam posisi semakin terpuruk: tak sanggup memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mencukupi, keadaan yang kurang lebih sama saja dengan keadaan sebelum proses RR Nias. Ya, ada masyarakat Nias yang terlibat dalam proses RR sebagai tenaga kerja: tukang, penggali pasir, dan sebagainya. Tapi mereka ini adalah tenaga kerja musiman; ketika BRR Nias mengakhiri kegiatan pada tahun 2009 nanti, rejeki musiman itu juga menghilang dengan sendirinya.

Pembangunan rumah-rumah sakit, puskesmas, polindes, penyediaan obat-obatan adalah hal-hal yang fundamental untuk mencapai kondisi masyakat Nias yang lebih sehat. Akan tetapi kita masih harus melihat bagaimana masyarakat Nias yang umumnya berpendapatan rendah mampu memanfaatkan berbagai fasilitas itu. Mampukah mereka membayar biaya perawatan, penginapan, obat-obatan, atau bahkan sekedar membayar ongkos pergi ke Gunungsitoli ? Ini tentu sangat tergantung dari meningkat tidaknya penghasilan mereka sebagai efek dari RR Nias. Jadi, kita masih harus melihat apakah kelak rumah-rumah sakit, puskesmas-puskesmas dan sarana-sarana kesehatan yang lain itu ‘ramai’ sebagai tanda kebermanfaatannya atau “lengang” karena orang tak memiliki biaya untuk mendapatkan perawatan yang layak di sana.

Hal ini kita ingatkan karena di Nias sudah ada contoh-contoh pembangunan fisik yang gagal mencapai tujuannya. Sebut saja beberapa hotel yang dibangun pada tahun 1980an di Nias Selatan yang kemudian menjadi ‘rumah hantu’ karena minimnya jumlah turis yang mengunjungi daerah Nias Selatan.

Akankah RR bidang pertanian berupa “intensifikasi padi untuk 500 ha, intensifikasi karet sebesar 250 ha dan ekstensifikasi 74 ha, kakao 250 ha, jagung 250 ha dan cabe 60 ha” meningkatkan pendapatan para petani ? Apakah mereka (para petani ini) juga diberdayakan sehingga memiliki suara di pasar sehingga harga hasil-hasil pertanian mereka tidak seenaknya dipatok oleh pihak eksternal yang umumnya lebih kuat ? Apakah mereka dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang kewirausahaan, koperasi, hitungan-hitungan dasar ekonomi pertanian sehingga mereka tidak hanya mengandalkan hitungan ‘luar kepala’ ketika mereka harus menanamkan modal di bidang pertanian ? Mampukah mereka memperkirakan keuntungan bersih dari neraca pengeluaran dan pendapatan mereka ?

Akankah RR sektor perikanan berupa “pengadaan peralatan pendukung nelayan, pengadaan 1 buah Tempat Pelelangan Ikan dan pengadaan kapal motor sebanyak 104 unit” meningkatkan pendapatan para nelayan yang umumnya sangat miskin, berpendidikan sangat rendah, dan tak mengenal sistem perbankan, jadi tak mengenal budaya ‘menabung’ yang adalah salah satu faktor pendorong peningkatan kesejahteraan?

Akankah RR sektor peternakan yang “juga mendapat perhatian, berupa pemberian bantuan pemberdayaan peternak ayam dan babi serta pembangunan 2 buah rumah potong hewan” meningkatkan pendapatan para peternak ? Di desa-desa, budaya pasar ‘utangu ua’ (saya utang dulu) merupakan salah satu penghambat kemajuan ekonomi. Di harimbaleharimbale, para pengusaha potong hewan (baca: potong babi) sering bangkrut akibat budaya pasar ini, karena perputaran modal menjadi berhenti akibat 30-70 persen penjualan dilakukan lewat sistem utang, utang yang dibayar entah kapan.

Pertanyaan-pertanyaan yang sama dapat kita ajukan untuk sektor-sektor lain yang mendapat kucuran dana dari BRR Nias.

Pesan dari uraian di atas adalah: bahwa berbagai pembangunan fisik ini ternyata belum dan tidak serta merta membawa kesejahteraan masyarakat Nias. Mulusnya jalan-jalan hotmix, indahnya gedung-gedung, pasar-pasar, terminal-terminal dan berbagai bangunan fisik lain – walau itu merupakan bukti kemajuan fisik yang tentu menggembirakan kita semua – tidak boleh menjadi ukuran utama keberhasilan RR Nias.

Secara fisik, kita tidak bisa menyangkal lagi, kini wajah kepulauan Nias jauh lebih baik: “better”. Secara ekonomis ? Baik news release BRR maupun pernyataan TB Silalahi belum memberikan klaim apa pun menyangkut hal ini. Mengapa ? Alasannya tentu karena masih terlalu dini. Dibutuhkan waktu yang lama untuk menilai secara objektif berhasil tidaknya program RR Nias yang perencanaan dan pelaksanaannya dipercayakan kepada BRR Perwakilan Nias.

***
Mengomentari pendapat TB Silalahi tentang kemajuan yang kini dinikmati kepulauan Nias “yang bahkan melebihi banyak kabupaten dan kota lain di Sumatera Utara” hendaklah dibaca dari kacamata yang lebih jernih dan juga dikaitkan dengan kenyataan berikut. Sejak Indonesia memproklamasikaan kemerdekaan 1945 hingga tahun 2005 saat konsep RR di Aceh dan Nias dicetuskan dan kemudian diimplementasikan, Nias adalah ‘anak tiri’ dalam Republik ini. Selama kurang lebih enam puluh tahun, Nias tidak mendapat perhatian selayaknya, dan tak pernah mendapat anggaran pembangunan yang layak dibandingkan dengan berbagai daerah lain di Sumatera Utara.

Adalah Presiden Yudhoyono, dalam kunjungannya ke Nias pada tanggal 13 Januari 2005, yang melihat langsung kesenjangan ini dan tergerak hatinya dengan kenyataan keterbelakangan Nias: “Saya sudah langsung ke lapangan dan menerima laporan dari Bupati Nias dan Gubsu. Memang untuk Nias infrastruktur jalan dan fasilitas daerah lainnya harus ditingkatkan” (SIB, 13/1/2005).

Jadi, wajah Nias saat ini yang terkesan ‘lebih ceria, lebih cantik’ melalui RR Nias bukanlah hal yang istimewa; dengan kata lain RR Nias – walau itu adalah sebuah perlakukan ‘khusus’ untuk merekonstruksi dan merehabilitasi Nias karena kehancuran akibat bencana dan pengabaian di masa lalu – bukanlah perlakuan ‘istimewa’ pemerintah kepada kepulauan Nias. Ini penting ditegaskan untuk menghindari kesalahfahaman yang mungkin timbul.

Air mata telah mengering, luka-luka fisik, batin dan jiwa akibat bencana telah mulai menghilang, pertanda kehidupan yang ‘normal’ mulai datang. Ini sejalan dengan hampir rampungnya berbagai projek pembangunan RR Nias melalui koordinasi BRR Perwakilan Nias.

Nias telah selangkah lebih maju: kita telah sampai pada ‘kebenaran visual’ kemajuan kepulauan Nias pasca gempa. Kita sedang menantikan kebenaran sejati: peningkatan kualitas kehidupan masyarakat Nias dalam berbagai dimensi. Kita semua perlu ambil bagian untuk merealisasikannya. (*)

Revisi 1 – 28 Maret 2015. Judul artikel ini, yang mulanya “Kebenaran Visual” diubah menjadi “Kebenaran Visual Membangunan Nias” – Isi tetap sama dengan edisi pertama.

Facebook Comments