Lion Air Bidik Rute Penerbangan ke Nias

JAKARTA – Lion Air sedang mempersiapkan infrastruktur penerbangan ke daerah-daerah terpencil atau pun kepulauan yang dinilai memiliki fasilitas penerbangan yang memadai dan juga pasar (market) yang baik. Salah satu yang dibidik di wilayah Sumatera adalah Pulau Nias karena potensi pariwisatanya.

“Di Sumatera Utara, ke depan kami juga menargetkan penerbangan ke Pulau Nias karena potensi pasarnya besar. Khususnya yang terkait dengan pariwisatanya,” ujar Direktur Utama Lion Air & Wings Air Rusdi Kirana pada jumpa pers usai penandatanganan nota kesepahaman dengan empat bupati dari Papua Barat untuk perekrutan SDM di Jakarta, Rabu (26/3).

Dia mengungkapkan hal itu terkait rencana pengembangan penerbangan menggunakan pesawat propeler (baling-baling) ke seluruh wilayah Indonesia yang akan dikelola Maskapai Wings Air yang adalah anak perusahaan Lion Air. Dia menargetkan, rencana itu akan terwujud pada 2009. “Pesawat propeler kami saat ini baru tiga unit. Kami akan mengadakan penambahan sehingga berjumlah 15 unit,” kata dia.

Dia menjelaskan, pihaknya masih belum memutuskan jenis pesawat yang akan digunakan. Tetapi sudah memiliki tiga calon yaitu Bombardier Dash-8 buatan Kanada, ATR buatan Prancis dan CN-235 pengembangan terbaru dari PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Tiga pesawat propeler yang dimiliki saat ini adalah jenis Bombardier Dash-8. Kapasitas ketiga jenis pesawat itu di atas 50 kursi.

Selain itu, pada Juli atau Agustus 2008, Lion Air akan memperkuat pelayanannya di wilayah Sumatera dengan penerbangan khusus lintas/trans Sumatera. Dengan penerbangan ini, seluruh daerah di Sumatera dapat dijangkau tanpa harus singgah di tempat lain di luar Pulau Sumatera. “Dari Aceh-Medan-Pekanbaru-Palembang sampai Batam akan terhubung langsung. dengan demikian, bila ke salah satu daerah itu tidak perlu singgah misalnya di Jakarta,” kata dia.

Pihaknya akan mengoperasikan tiga unit pesawat Boeing 737-900ER pada rute tersebut. Bila jalur penerbangan ke daerah-daerah terpencil dan kepulauan itu sudah terbangun, otomatis akan menjadi penerbangan pengumpan (feeder) pada rute lintas Sumatera mau pun ke daerah lain. “Nanti homebase-nya di salah satu wilayah di Sumatera. Penumpang yang akan ke luar Sumatera akan diangkut dengan pesawat Lion Air lainnya yang juga sudah terjadwal,” papar dia.

Rekrut SDM Daerah

 

Selain itu, mengimbangi berdatangannya 178 unit pesawat Boeing 737-900ER yang telah dipesan dan akan datang satu unit per bulan, manajemen Lion Air juga mulai merekrut tenaga-tenaga terampil baru. Namun, perekrutan tidak dilakukan secara terbuka seperti biasanya melainkan melalui kerjasama dengan pemerintah daerah. “Untuk tahap awal, kami mulai merekrut dari wilayah Papua dengan menggandeng Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Fak Fak, Kaimana, Teluk Bintuni dan Sorong Selatan,” ucap dia.

Dia menjelaskan, alasan menggandeng Pemkab tersebut selain untuk memberdayakan sumber daya handal di setiap daerah, juga untuk memeratakan kesempatan kerja, khususnya di industri penerbangan. Tenaga yang direkrut meliputi tenaga groundhandling, teknisi, pramugari, penerbang, bahkan tidak tertutup kemungkinan bagi yang memenuhi syarat untuk berkarya di tingkat manajemen. “Semuanya akan dites yang difasilitasi pemda dan dengan monitoring dari Lion Air sesuai kriteria. Selanjutnya, akan dididik difasilitas Lion Air di Jakarta dan di Bandara Soekarno-Hatta,” kata dia.

Tenaga-tenaga terdidik tersebut akan dikaryakan di Lion Air di Indonesia mau pun di luar negeri. Sebab, sejak akhir tahun lalu, Lion Air sudah merintis pembukaan maskapai Lion Air di sejumlah negara di Asia Tenggara dan Australia. Di antaranya di Australia, Malaysia dan Thailand. Pada 2009, maskapai-maskapai di luar negeri itu akan beroperasi dengan tenaga-tenaga utama akan didatangkan dari Indonesia. “Sebagian dari 178 unit pesawat yang sudah dipesan itu akan ditempatkan di maskapai-maskapai di luar negeri,” ungkap dia.

 

Ketika dikonfirmasi ulang mengenai keseriusannya dengan rencana penerbangan ke Nias, Rusdi sebaliknya menantang agar memfasilitasi untuk menyampaikan kepada para bupati di Pulau Nias untuk juga menandatangani MoU yang sama dengan yang dilakukan dengan empat bupati dari wilayah Papua itu. “Silahkan Pak Etis bantu sampaikan ke bupatinya agar menjalin kerjasama seperti ini dengan kami. kami bersedia kalau mereka mau. Saya tunggu,” jawabnya serius. (Etis Nehe/InvestorDaily/www.niasonline.net)

 

Komentari

denny says:

ini berita yang sangat mengembirakan, dengan adanya lion air / wing air maka penerbangan ke nias / nisel tidak hanya tergantung dari SMAC. karena yang terjadi sekarang NISEL sangat tergantung dari penerbangan SMAC. Semoga hal ini bisa terealisasi dengan cepat.