Kebangkitan Disalahmengerti, kata Para Ahli Kitab Suci

Tuesday, March 25, 2008
By nias

Pada hari Minggu Paskah, umat Kristen mendeklarasikan pesan inti dari kepercayaan mereka – “Ia telah bangkit” – dan meyakini harapan bahwa Allah akan membangkitkan orang mati pada akhir zaman.

Akan tetapi kepercayaan ini sungguh disalahmengerti, kata para pakar Kitab Suci dari berbagai tradisi iman kristiani yang mencoba menjernihkan kebingungan mengenai hal ini dalam sejumlah buku yang mereka tulis.

“Kita dirisaukan oleh perbedaan pandangan masyarakat umum (kristiani) dengan temuan-temuan para peneliti kontemporer mengenai hal ini,” kata Kevin Madigan dan Jon Levenson penulis buku yang akan terbit: “Resurrection: The Power of God for Christians and Jews.” (Kebangkitan: Kuasa Allah Untuk Pengikut Kristus dan Orang Yahudi).

Buku ini menelusuri akar tradisi Yahudi dalam kepercayaan Kristen akan kebangkitan dan beranjak dari sejarah ini mereka menantang pandangan bahwa kebangkitan hanyalah berarti kehidupan sesudah kematian. Bagi para penulis ini, dibangkitkan berarti melibatkan unsur fisik, bukan hanya unsur spiritual. (Dengan kata lain, kebangkitan sungguh-sungguh melibatkan kebangkitan fisik, Red.)

Tahun lalu Levenson menulis sebuah buku yang terkait dengan masalah ini, “Resurrection and the Restoration of Israel: The Ultimate Victory of the God of Life.” (Kebangkitan dan Pemulihan Israel: Kemenangan Akhir Allah Kehidupan.” Sementara itu N.T. Wright, peneliti kitab suci terkemuka dan penulis buku “The Resurrection of the Son of God,” (Kebangkitan Putra Allah) yang terbit pada tahun 2003, baru saja menerbitkan sebuah buku lagi: “Surprised by Hope: Rethinking Heaven, the Resurrection and the Mission of the Church.” (Kejutan Harapan: Mengkaji Kembali Surga, Kebangkitan dan Misi Gereja).

Perdebatan tentang Kebangkitan Yesus berpusat pada apakah Yesus bangkit secara fisik dari kematian sesudah orang-orang Roma menyalibkan-Nya pada Hari Jumat Agung, atau apakah Kebangkitan merupakan sesuatu yang abstrak.

Buku Wright yang dipublikasikan pada tahun 2003 merupakan salah satu dari argumen terpenting mengenai kebangkitan Yesus secara fisik.

Ketiga pakar itu juga menantang pendapat, sebagian dari filsafat Yunani dan yang populer saat ini, bahwa kebangkitan bagi orang Yahudi dan pengikut Kristus tiada lain adalah keselamatan jiwa masing-masing individu sesudah kematian. Para pakar itu mengatakan kebangkitan terjadi untuk totalitas pribadi: badan dan jiwa. Untuk orang-orang Kristen pertama dan sebagain orang Yahudi, kebangkitan berarti mendapatkan kembali tubuhnya atau barangkali tubuh baru yang mirip yang diciptakan Allah sesudah kematian, kata Wright.

Madigan dan Levenson, di antara para peneliti, juga menekankan bahwa kebangkitan bagi manusia adalah kepercayaan yang dimiliki bersama oleh orang-orang Kristen dan orang Yahudi. Orang-orang Kristen umumnya sulit membayangkan bahwa iman yang tidak melibatkan kepercayaan akan Kebangkitan Yesus merupakan kebangkitan yang sesungguhnya.

“Ketika gereja awal sedang berkembang, para rabi telah menjadikan kebangkitan sebagai kepercayaan normatif,” tulis Madigan dan Levenson dalam jawaban lewat imel terhadap pertanyaan-pertanyaan dari Associated Press. “Inilah yang tidak banyak diketahui oleh orang Yahudi. Seperti banyak orang Kristen, mereka (orang-orang Yahudi itu) memiliki kesan bahwa kebangkitan hanyalah harapan kristiani.

Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus percaya bahwa kebangkitan melibatkan fisik dan bersifat komunal, artinya ia mendatangkan keadilan bagi yang tertindas dan ciptaan yang dibaharui, kata Madigan, yang mengajar sejarah Agama Kristen di Harvard Divinity School, dan Levenson, yang mengajar Agama Yahudi di institut yang sama. Kepercayaan Yahudi ini diserap dan dibentuk kembali oleh orang-orang Kristen pertama dan menjadi bagian dari (ajaran) agama mereka.

Kebanyakan orang Yahudi zaman modern tidak mengetahui hal ini. Kecuali untuk cabang Yahudi Ortodoks, kelompok-kelompok Yahudi menghilangkan kepercayaan terhadap kebangkitan dari buku-buku doa tradisional selama revisi yang bermula pada abad 19 sebagai tanggapan atas pandangan rasionalistik dan Pencerahan.

Pemahaman publik tentang kebangkitan telah dipengaruhi bukan hanya oleh penolakan modern atas mukjizat tetapi juga oleh budaya pop (karena banyak orang tidak percaya dengan kebangkitan badan, maka setiap orang menerima saja hal itu, Red.)

Alan F. Segal, seorang profesor pada Barnard College dan penulis buku: “Life After Death: A History of the Afterlife in Western Religion,” mencatat bahwa kebanyakan orang Amerika mengharapkan kehidupan sesudah kematian merupakan kesinambungan hidup di dunia ini – “ibarat sarana bantuan kehidupan yang sungguh-sungguh baik”.

Ia juga mengatakan bahwa kepercayaan akan eksistensi sesudah kematian mengakar kuat di dalam masayarakat Amerika terlepas dari rajin tidaknya mereka mengikuti ajaran agama masing-masing. Pada survei agama Baylor yang diselenggarakan tahun 2005, 82 persen responden mengatakan percaya “mutlak” atau “cukup yakin” akan adanya surga. Hampir 71 persen mengatakan percaya “mutlak” atau “cukup yakin” akan adanya neraka.

Tetapi pandangan mereka (orang-orang Amerika) telah dibentuk oleh individualisme Barat, dan para peneliti mengatakan banyak ajaran penting dari Kristen awal telah dipelintir sebagai akibatnya.

Wright dan para koleganya mengatakan Gereja seharusnya mengajarkan apa yang menjadi keyakinan orang-orang Kristiani pertama. Wright juga berpendapat bahwa realitas fisik dari dunia mendatang sesudah kematian menunjukkan bahwa “keteraturan yang diciptakan sangat penting bagi Allah, dan Kebangkitan Yesus merupakan projek percontohan dari pembaharuan itu.”

Madigan dan Levenson memiliki motivasi tambahan. Mereka mengatakan mereka menulis buku itu untuk menolong orang Yahudi dan Kristen mengerti lebih mendalam tentang ikatan teologis antara kedua kepercayaan.

Amy-Jill Levine, peneliti Perjanjian Baru di Vanderbilt University’s Divinity School, mengatakan minat akan kebangkitan – bersama dengan reinkarnasi, hantu dan kontak dengan orang mati – telah bertumbuh pesat akhir-akhir ini.

“Semakin kacau dunia kita, dengan perang dan penyakit, topan dan kelaparan, semakin banyak orang mencari jawaban ilahi terhadap masalah-masalah kejahatan.” (Penulis: Rachel Zoll, Associated Press, Sabtu 22 Maret, 2008).

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

March 2008
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31