Oleh: NICHOLAS D. KRISTOF

Perang Irak sekarang semakin membaik dari dugaan semula, untuk suatu perubahan. Kebanyakan pengecam perak Irak, termasuk saya, tak mengantisipasi kemajuan di bidang keamanan yang sebagian disebabkan oleh peningkatan jumlah pasukan Amerika tahun lalu.

Kemajuan memang nyata tetapi rapuh dan terbatas. Kemajuan di lapangan memberikan hasil berikut: Kita telah memperkecil angka korban ke tingkat yang jauh di bawah angka tahun 2005, dan kita masih belum memiliki rencana penyelesaian konlflik hingga bertahun-tahun ke depan – semuanya dengan harga yang makin mendekati angka $5000 per detik !

Lebih penting lagi, sementara korban (tentara kita) di Baghdad telah menurun, kita mulai menuai korban di Florida dan California. Amerika harus tergelincir ke dalam resesi; orang-orang Amerika kehilangan rumah, pekerjaan dan asuransi kesehatannya; bank-bank mulai ngos-ngosan – dan perang Irak agaknya telah memperburuk masalah-masalah domestik ini.

“Kekacauan ekonomi yang kita hadapi saat ini sangat terkait dengan perang Irak,” kata Joseph Stiglitz, pakar ekonomi pemenang hadiah Nobel. “Perang Irak sekurang-kurangnya sebagian bertanggungjawab atas kenaikan harga-harga minyak. … Lebih lanjut, uang yang dihabiskan untuk membiayai perang Irak tidak menstimulasi ekonomi seperti dolar yang dimanfaatkan di dalam negeri. Untuk menutupi kelemahan ekonomi Amerika, Bank Federal membiarkan banjir likuiditas; yang, bersama dengan regulasi pajak, mengakibatkan melambungnya harga-harga rumah dan meningkatnya konsumsi.”

Tidak setiap orang sependapat adanya korelasi kuat antara perang Irak dengan kesulitan ekonomi yang sedang kita hadapi. Robert Hormats, wakil ketua Goldman Sachs International dan penulis sebuah buku tentang bagaimana Amerika membayar biaya berbagai perang, mengatakan bahwa perang Irak berdampak negatif terhadap ekonomi tetapi memainkan peran kecil dalam krisis saat ini.

“Adakah perang Irak merupakan sebab utama krisis ekonomi kita saat ini?” tanya Hormats. “Saya katakan tidak, tetapi apakah uang yang kita gunakan untuk membiayai perak Irak seharusnya bisa kita manfaatkan untuk memperkuat ekonomi Amerika? Jawabnya: ya.”

Untuk berbagai pertentangan pendapat, agaknya kita bisa mengatakan bahwa ada hubungan antara pembiayaan perang Irak dan kesulitan yang kita alami saat ini – walau pun kecil. Jadi, sambil berdebat tentang apakah sebiknya kita menarik pasukan dari Irak – satu pertanyaan sentral seharusnya adalah: apakah Irak merupakan tempat terbaik menanamkan modal sebesar $411 juta per hari pada tingkat pembiayaan perang saat ini?

Saya telah mengatakan bahwa bertahan di Irak dalam waktu tak terbatas akan mengancam keamanan nasional kita – sama seperti kita tahu sekarang bahwa kehadiran militer kita di Saudi Arabia pada tahun 1990an ternyata counterproductive melalui penguatan Al Qaeda pada awal-awal kelahirannya. Di pihak lain, para pendukung perang berpendapat: penarikan pasukan dari Irak akan mengirim sinyal bahwa kita lemah dan akan meninggalkan vakum yang akan diisi oleh kelompok ekstrim; argumen ini tentu saja sahih.

Tetapi jika Anda percaya bahwa bertahan di Irak akan membawa lebih banyak manfaat daripada mudharat, maka Anda harus menjawab pertanyaan berikut: Apakah kehadiran pasukan Amerika di Irak sedemikian pentingnya sehingga ia boleh mengancam perekonomian kita?

Yakinlah, perkiraan biaya perang Irak sangat susah dan kontroversial, sebagian karena $12.5 miliar per bulan yang kita habiskan baru merupakan cicilan awal. Kita masih akan membayar para veteran perang Irak karena cacat-cacat mereka 50 tahun dari sekarang.

Professor Stiglitz memperkirakan dalam sebuah buku yang ditulisnya bersama Linda Bilmes dari Harvard University bahwa biaya total – termasuk biaya jangka panjang – adalah sebesar $ 25 miliar perbulan. Isi setara dengan $330 per bulan untuk sebuah kelurga berjumlah 4 orang.

Sebuah riset yang diselenggarakan Joint Economic Committee Kongres AS menemukan bahwa jumlah uang yang dihasbiskan untuk perang Irak setiap hari dapat membiayai 58,000 anak-anak untuk mendaftar di Head Start[1] atau membantu 153,000 siswa lewat Pell Grants[2] untuk mengikuti kuliah di kolese. Atau, kalau kita ingin menamkan modal untuk keamanan maka biaya harian yang kita keluarkan untuk Irak bisa membiayai 11,000 petugas patrol perbatasan atau 9,000 petugas kepolisian.

Bayangkan berbagai kemungkinan. Kita seharusnya mampu membiayai lebih banyak polisi dan petugas perbatasan, mengembangkan Head Start dan merehabilitasi citra buruk Amerika di dunia dengan mendukung prograrm kesehatan ibu di negara-negara berkembang, memberantas malaria dan penyakit cacing yang menyerang anak-anak di Afrika. Semua itu akan memakan biaya lebih kecil dari yang kita keluarkan setiap bulan di Irak.

Lebih parah lagi, pemerintahan Bush membiayai perang ini melalui cara yang mengancam keamanan nasional kita – dengan meminjam. Empat puluh persen dari utang ini berada ‘di tangan’ Cina dan negara-negara lain.

“Ini perang besar pertama dalam sejarah Amerika di mana semua biaya tambahan diambil dari pinjaman,” Hormats mencatat. Jika para pendukung perang Irak percaya bahwa perang ini sangat esensial, maka mereka seharusnya mau membayarnya sebagian lewat pajak daripada membiarkan Amerika meminjam.

Kita harus membayar perang ini dengan sebuah cara, sekarang atau nanti. Profesor Stiglitz memperhitungkan, biaya total perang pada akhirnya akan mencapai $3 triliun. Untuk sebuah keluarga beranggota lima orang seperti saya, itu setara dengan membayar $50,000.

Saya tidak merasa uang saya pantas saya keluarkan untuk itu.

  1. Head Start adalah program Departemen Kesehatan dan Pelayanan Manusia untuk membantu anak-anak dari keluarga miskin di Amerika.
  2. Pell Grant adalah sejenis beasiswa untuk mahasiswa ekonomi lemah

Sumber: Blog NICHOLAS D. KRISTOF, http://kristof.blogs.nytimes.com/

Facebook Comments