Pemberitaan berikut ini merupakan cuplikan berbagai artikel mengenai ditemukannya produk susu yang terkontaminasi bakteri sakazakii. Hal ini sangat penting bagi keluarga yang mengkonsumsi susu, tanpa terkecuali. Pembelajaran untuk berpikir kritis secara terus-terang dipaparkan pula oleh pihak Mentreri Kesehatan Siti F. Supari. Daerah Kepulauan Nias merupakan salah satu daerah pemasaran terujung sebuah produk pabrikan bahan makanan di Sumatera. Pengawasan ketat terhadap makanan yang dikonsumsi anak dan terjangkaunya informasi bagi para ibu merupakan sebagai sarana langkah awal pencegahan.

Selasa, 26 Februari 2008 | 12:28 WIB

JAKARTA, SELASA – Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mensinyalisasi pengungkapan penelitian 13 susu produk di Tanah Air merupakan salah satu bentuk perang produk. “Maka dari itu, kita akan tanya dananya dari mana, dan untuk apa dia melakukan penelitian itu. Dan kenapa tiba-tiba dia meneliti,” ujar Menkes Siti Fadilah sebelum mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (26/2).

Menurut Menkes, selain permasalahan tersebut, masih ada banyak persoalan yang akan dipertanyakan dalam penelitian ini. “Jadi bukan saja masalah ekspert atau tidak. Tapi maksudnya kenapa sih dia harus melakukan penelitian susu itu disitu. Kenapa tidak di Klaten, dan kenapa nggak di ini, memangnya di situ banyak yang mencret-mencret?” papar Menkes.

Sebelumnya, peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB), Sri Estuningsih menemukan 22,73 persen susu formula dari 22 sampel dan 40 persen makanan bayi dari 15 sampel mengandung bakteri entrobacter sakazaki. Bakteri ini ketika diujicobakan ke hewan mencit, ternyata mengalami gangguan otak, usus dan limpa. Bakteri entrobacter sazaki sendiri tumbuh cepat pada suhu 37-44 derajat Celcius dan bisa bertahan sampai suhu 60 derajat celcius.

Menyangkut sejumlah permasalahan yang membuat gerah ibu-ibu atas susu ini, Menkes berharap masyarakat untuk tidak resah. Apalagi, pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tengah mengkaji penelitian yang telah dilakukan sejak 2003-2006. “Kita minta laporan BPOM, apakah penelitian itu signifikan atau tidak,” ujarnya seraya menegaskan, hingga saat ini belum ada bakteri entrobacter menimbulkan mencret pada anak-anak. “Belum pernah ada wabah mencret anak-anak karena entrobacter, mencret untuk kita biasanya itu karena virus, kemudian e-coli, kholera,” katanya. (Persda Network/ade)

Sumber: http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.02.26.12285953&channel=1&mn=20&idx=97, OL. tgl. 13/03/2008 (DE)

Facebook Comments