<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Gelar Bangsawan Nias Selatan untuk Cagubsu Ir. RE Siahaan</title>
	<atom:link href="http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/</link>
	<description>A website of Nias people, culture and current affairs</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Mar 2010 11:41:54 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: santi lafau</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/comment-page-3/#comment-4136</link>
		<dc:creator>santi lafau</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2008 09:53:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/#comment-4136</guid>
		<description>galak juga tuh BANGSAWAN NIAS... main pecat aja dia!!! lain dibibir lain dihati rupanya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>galak juga tuh BANGSAWAN NIAS&#8230; main pecat aja dia!!! lain dibibir lain dihati rupanya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: firda hulu</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/comment-page-3/#comment-4132</link>
		<dc:creator>firda hulu</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 10:12:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/#comment-4132</guid>
		<description>Ternyata tokoh kita yg bergelar Balagu Samaogo Lizihono dan Samairi Tanö itu berseteru pula dgn Direktur RSUD Djasamen Siantar yg orang Nias. Apalah awak mau katakan???  :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ternyata tokoh kita yg bergelar Balagu Samaogo Lizihono dan Samairi Tanö itu berseteru pula dgn Direktur RSUD Djasamen Siantar yg orang Nias. Apalah awak mau katakan???  <img src='http://niasonline.net/nox/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Otenieli Daeli</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/comment-page-3/#comment-2977</link>
		<dc:creator>Otenieli Daeli</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 15:01:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/#comment-2977</guid>
		<description>Topik ini sangat menarik. Bolehkah aku menawarkan cara berpikir lain?  Sebagai contoh, saya pergi ke suatu tempat di mana orang-orang di sana belum mengenal saya secara dekat, hanya mendengar nama dan kegiatan apa yang baisa saya lakukan. Walaupun belum mengenal saya dengan baik, namun karena kepolosan, ketulusan, dan kebaikan hati dari para   penduduk setempat, maka mereka menyiapkan pesta meriah untuk menyambut kedatangan saya. Bukan hanya itu, mereka juga  mengangkat saya menjadi anak mereka. Terus terang saja saya tidak tahu persiapan dan acara apa yang akan dilakukan untuk menghormati saya. Lalu apakah saya berhak menolak segala kebaikan yang telah dipersiapkan? Bukankah menolak kebaikan dan anugerah dari orang lain berarti juga menolak/tidak menghargai mereka? Memang dalam arti ini saya punya kewajiban moral, tetapi bukan suatu keharusan, apalagi jalan pikiran saya belum tentu searah dengan apa yang mereka pikirkan. Kalau mereka memberi sesuatu kepada saya dengan harapan supaya harapan mereka terkabul, bukankah itu suap?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Topik ini sangat menarik. Bolehkah aku menawarkan cara berpikir lain?  Sebagai contoh, saya pergi ke suatu tempat di mana orang-orang di sana belum mengenal saya secara dekat, hanya mendengar nama dan kegiatan apa yang baisa saya lakukan. Walaupun belum mengenal saya dengan baik, namun karena kepolosan, ketulusan, dan kebaikan hati dari para   penduduk setempat, maka mereka menyiapkan pesta meriah untuk menyambut kedatangan saya. Bukan hanya itu, mereka juga  mengangkat saya menjadi anak mereka. Terus terang saja saya tidak tahu persiapan dan acara apa yang akan dilakukan untuk menghormati saya. Lalu apakah saya berhak menolak segala kebaikan yang telah dipersiapkan? Bukankah menolak kebaikan dan anugerah dari orang lain berarti juga menolak/tidak menghargai mereka? Memang dalam arti ini saya punya kewajiban moral, tetapi bukan suatu keharusan, apalagi jalan pikiran saya belum tentu searah dengan apa yang mereka pikirkan. Kalau mereka memberi sesuatu kepada saya dengan harapan supaya harapan mereka terkabul, bukankah itu suap?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: baziduhu</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/comment-page-2/#comment-2966</link>
		<dc:creator>baziduhu</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 09:30:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/#comment-2966</guid>
		<description>adat Nias gak merestui... gagal pulalah &#039;bangsawan Nias&#039; jadi bk-1... :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>adat Nias gak merestui&#8230; gagal pulalah &#8216;bangsawan Nias&#8217; jadi bk-1&#8230; <img src='http://niasonline.net/nox/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ehalawa</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/comment-page-2/#comment-2923</link>
		<dc:creator>ehalawa</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 00:41:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/#comment-2923</guid>
		<description>Bung Samura&#039;i,

Saya setuju dengan Anda, budaya perlu &#039;diluruskan&#039;. 

Budaya itu dalam geraknya haruslah dinamis, dia harus membaca tanda-tanda zaman, dia harus &#039;menyesuaikan diri&#039; dengan zaman, tanpa harus dilindas atau ditenggelamkan oleh zaman. Budaya itu harus bersintesis dengan unsur lain dalam lingkungannya pada zaman tertentu, sintesis yang bukan hanya sekedar &#039;sintesis&#039;, tetapi sebuah sintesis yang mengangkatnya ke tingkat yang lebih tinggi dan mulia.

Barangkali budaya Nias selama itu terkesan terlalu &#039;statis&#039;, berjalan di tempat. Maka kita juga menyambut baik &#039;eksperimentasi&#039; budaya yang dilakukan oleh pihak mana pun yang membuat budaya tadi menjadi lebih &#039;dinamis&#039;. Tetapi eksperimentasi tidak boleh dilakukan sembarangan, ia harus direncanakan secara matang, dilakukan oleh pihak-pihak yang sangat kompeten, dan disertai alasan-alasan yang berterima secara akal sehat.

Dari diskusi yang berkembang, agaknya eksperimentasi yang sedang berjalan dipertanyakan kesahihannya. Dalam konteks itulah, &#039;pelurusan&#039; yang Bung Samura&#039;i lontarkan menjadi sangat relevan.

Salam,

ehalawa</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bung Samura&#8217;i,</p>
<p>Saya setuju dengan Anda, budaya perlu &#8216;diluruskan&#8217;. </p>
<p>Budaya itu dalam geraknya haruslah dinamis, dia harus membaca tanda-tanda zaman, dia harus &#8216;menyesuaikan diri&#8217; dengan zaman, tanpa harus dilindas atau ditenggelamkan oleh zaman. Budaya itu harus bersintesis dengan unsur lain dalam lingkungannya pada zaman tertentu, sintesis yang bukan hanya sekedar &#8217;sintesis&#8217;, tetapi sebuah sintesis yang mengangkatnya ke tingkat yang lebih tinggi dan mulia.</p>
<p>Barangkali budaya Nias selama itu terkesan terlalu &#8217;statis&#8217;, berjalan di tempat. Maka kita juga menyambut baik &#8216;eksperimentasi&#8217; budaya yang dilakukan oleh pihak mana pun yang membuat budaya tadi menjadi lebih &#8216;dinamis&#8217;. Tetapi eksperimentasi tidak boleh dilakukan sembarangan, ia harus direncanakan secara matang, dilakukan oleh pihak-pihak yang sangat kompeten, dan disertai alasan-alasan yang berterima secara akal sehat.</p>
<p>Dari diskusi yang berkembang, agaknya eksperimentasi yang sedang berjalan dipertanyakan kesahihannya. Dalam konteks itulah, &#8216;pelurusan&#8217; yang Bung Samura&#8217;i lontarkan menjadi sangat relevan.</p>
<p>Salam,</p>
<p>ehalawa</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Amandaya</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/comment-page-2/#comment-2919</link>
		<dc:creator>Amandaya</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Apr 2008 03:41:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/#comment-2919</guid>
		<description>Saya katakan dalam komentar diatas bahwa bahwa kebudayaan &quot; berlangsung dalam berbagai jurus dan mengejar berbagai tujuan&quot;. Kemudian saya teruskan dengan mengingatkan bahwa &quot; Bila kebudayaan sebagai hakekat manusia, maka di situ kita tidak mencari kesatuan akibat melainkan kesatuan tindakan; bukan keseragaman produk melainkan keseragaman proses kreatif&quot;. Saya berharap hal itu jelas bagi yang suka menyumbar kebudayaan.OK !

Semoga bermanfaat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya katakan dalam komentar diatas bahwa bahwa kebudayaan &#8221; berlangsung dalam berbagai jurus dan mengejar berbagai tujuan&#8221;. Kemudian saya teruskan dengan mengingatkan bahwa &#8221; Bila kebudayaan sebagai hakekat manusia, maka di situ kita tidak mencari kesatuan akibat melainkan kesatuan tindakan; bukan keseragaman produk melainkan keseragaman proses kreatif&#8221;. Saya berharap hal itu jelas bagi yang suka menyumbar kebudayaan.OK !</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: samura'i</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/comment-page-2/#comment-2916</link>
		<dc:creator>samura'i</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 15:01:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/#comment-2916</guid>
		<description>ya&#039;ahowu!
karena mendapat izin dari pak E. Halawa untuk menjadikan hal ini bahan diskusi maka, maaf kalau ikut memberi komentar singkat. 
ini merupakan pembodohan dan ketidaktahuan masyarakat kita. siapa yang mau melarang? seandainya sipemberi sadar &quot;i&#039;o gama-gama si te&#039;ana gama-gama nia&quot; mungkin hal ini tidak akan terjadi, bahkan telah berulang hal ini terjadi. (maaf) mungkin diantara kita masih ingat kejadian saat salah seorang menteri berkunjung melihat situasi bencana alam nias khususnya di nias selatan dengan memberi kalabubu kepada seorang wanita? jadi, budaya perlu diluruskan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ya&#8217;ahowu!<br />
karena mendapat izin dari pak E. Halawa untuk menjadikan hal ini bahan diskusi maka, maaf kalau ikut memberi komentar singkat.<br />
ini merupakan pembodohan dan ketidaktahuan masyarakat kita. siapa yang mau melarang? seandainya sipemberi sadar &#8220;i&#8217;o gama-gama si te&#8217;ana gama-gama nia&#8221; mungkin hal ini tidak akan terjadi, bahkan telah berulang hal ini terjadi. (maaf) mungkin diantara kita masih ingat kejadian saat salah seorang menteri berkunjung melihat situasi bencana alam nias khususnya di nias selatan dengan memberi kalabubu kepada seorang wanita? jadi, budaya perlu diluruskan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yusgo</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/comment-page-2/#comment-2902</link>
		<dc:creator>Yusgo</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 07:12:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/#comment-2902</guid>
		<description>No way</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>No way</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Adieli Hulu</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/comment-page-2/#comment-2771</link>
		<dc:creator>Adieli Hulu</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Mar 2008 17:05:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/#comment-2771</guid>
		<description>Pemberian gelar kehormatan kepada seseorang dimananpun di dunia ini dan dibidang apapun adalah dilandasi penilaian bahwa yang bersangkutan secara signifikan telah berbuat sesuatu untuk kepentingan masyarakat atau bidang tertentu. Sebut saja sebagai contoh, hadiah Nobel, gelar Doktor Honoris Causa, pahlawan Nasional dan sebagainya. Hal ini sangat berkaitan dengan Nilai yang terkandung di dalam gelar tersebut, sehingga pemberian gelar sangat selektif dan tidak sembarangan. Karena apabila tidak maka gelar tersebut tidak mempunyai arti apa-apa baik kepada yang diberi gelar maupun bagi yang memberi gelar kehormatan tersebut bahkan akan menjadi pelecehan, sebagimana halnya gelar-gelar berkonotasi negatif seperti &quot;preman&quot;, &quot;jagoan pasar&quot; dan sebagainya.  
Demikian juga halnya pemberian gelar di lingkungan adat Masyarakat Nias yang dikenal dengan istilah &quot;Balugu ......&quot; sejak dulu nenek moyang masyarakat Nias hanya memberikan kepada seseorang diakui oleh masyarkat telah banyak berbuat untuk kepentingan umum. 
Jadi apabila dalam rangka sosialisasi &quot;kampanye&quot; pilkada seorang cagub/cawagub diberi gelar &quot;Balugu&quot; maka suatu hala yang sangat ironis dan tidak logis. Sebab seorang cagub/cawagub belum tentu akan berhasil terpilih sebagai pejabat gub/wagub definitif dan tentu belum berbuat apa-apa bagi kepentingan masyarakat sudah diberikan gelar. Ini merupakan praktek-praktek yang membodohi masyarakat dan sekaligus merndahkan nilai-nilai budaya Nias yang terkandung didalam pemberian gelar itu sendiri.
Kalau mengikuti prinsip dari pemberian gelar kehormatan tersebut diatas maka seandainya para cagub/cawagub nantinya berhasil terpilih sebagai gub/wagub tidak dapat berbuat banyak untuk kepentingan masyarakat maka tidak layak menerima gelar kehormatan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pemberian gelar kehormatan kepada seseorang dimananpun di dunia ini dan dibidang apapun adalah dilandasi penilaian bahwa yang bersangkutan secara signifikan telah berbuat sesuatu untuk kepentingan masyarakat atau bidang tertentu. Sebut saja sebagai contoh, hadiah Nobel, gelar Doktor Honoris Causa, pahlawan Nasional dan sebagainya. Hal ini sangat berkaitan dengan Nilai yang terkandung di dalam gelar tersebut, sehingga pemberian gelar sangat selektif dan tidak sembarangan. Karena apabila tidak maka gelar tersebut tidak mempunyai arti apa-apa baik kepada yang diberi gelar maupun bagi yang memberi gelar kehormatan tersebut bahkan akan menjadi pelecehan, sebagimana halnya gelar-gelar berkonotasi negatif seperti &#8220;preman&#8221;, &#8220;jagoan pasar&#8221; dan sebagainya.<br />
Demikian juga halnya pemberian gelar di lingkungan adat Masyarakat Nias yang dikenal dengan istilah &#8220;Balugu &#8230;&#8230;&#8221; sejak dulu nenek moyang masyarakat Nias hanya memberikan kepada seseorang diakui oleh masyarkat telah banyak berbuat untuk kepentingan umum.<br />
Jadi apabila dalam rangka sosialisasi &#8220;kampanye&#8221; pilkada seorang cagub/cawagub diberi gelar &#8220;Balugu&#8221; maka suatu hala yang sangat ironis dan tidak logis. Sebab seorang cagub/cawagub belum tentu akan berhasil terpilih sebagai pejabat gub/wagub definitif dan tentu belum berbuat apa-apa bagi kepentingan masyarakat sudah diberikan gelar. Ini merupakan praktek-praktek yang membodohi masyarakat dan sekaligus merndahkan nilai-nilai budaya Nias yang terkandung didalam pemberian gelar itu sendiri.<br />
Kalau mengikuti prinsip dari pemberian gelar kehormatan tersebut diatas maka seandainya para cagub/cawagub nantinya berhasil terpilih sebagai gub/wagub tidak dapat berbuat banyak untuk kepentingan masyarakat maka tidak layak menerima gelar kehormatan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Siraso</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/comment-page-2/#comment-2764</link>
		<dc:creator>Siraso</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 10:30:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/#comment-2764</guid>
		<description>Sebagai seorang politisi yang sedang bertarung memperebutkan jabatan tertinggi di Sumut, RE Siahaan seharusnya jeli membaca situasi di lapangan. Beliau seharusnya tidak mudah dikooptasi (baca: diatur dan diarahkan) oleh para pelaku politik murahan di lapangan yang hanya memikirkan kepentingan yang sempit.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai seorang politisi yang sedang bertarung memperebutkan jabatan tertinggi di Sumut, RE Siahaan seharusnya jeli membaca situasi di lapangan. Beliau seharusnya tidak mudah dikooptasi (baca: diatur dan diarahkan) oleh para pelaku politik murahan di lapangan yang hanya memikirkan kepentingan yang sempit.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Pikiran Daeli</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/comment-page-2/#comment-2752</link>
		<dc:creator>Pikiran Daeli</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 09:40:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/#comment-2752</guid>
		<description>Ya&#039;ahowu,
Saya sangat setuju dan tepat jika topik ini diangkat. Hal ini sebagai wujud kepedulian kita pada nilai-nilai luhur dan budaya serta adat-istiadat Nias kita.

Jika dahulu (bahkan sebagian kecil di masa saya masih SMP di Nias) akan diberikan gelar kepada seseorang, maka itu tidak gratis. Ada hal-hal yang harus dipenuhi dan dilakukan oleh si-calon penerima gelar. Dalam kalimat halus dan singkat, si penerima gelar itu harus berkorban....! Bahkan begitu mahalnya gelar itu, tidak sedikit harta yang dikorbankan untuk masyarakat banyak (meskipun terkesan menghambur-hamburkan).

Jika kita tarik satu kalimat saja untuk menjawab apakah layak CaGub Sumut ini menerima gelar atau tidak, pengorbanan apa yang sudah diberikan untuk Nias, khususnya Nias Selatan? 

Terus terang, saya memang kaget membaca berita yang memuat &quot;respond&quot; dan &quot;ungkapan&quot; dari berbagai &quot;tokoh&quot; saat kunjungan tersebut. Sadarkah beliau-beliau itu akan apa yang sedang dilakukan? &quot;Menurut saya&quot;, sudah tidak menghargai ke-skralan adat Nias itu lagi dan wajar saja kalau ada saudara2 kita yang menyampaikan pada situs ini bahwa gelar itu di-obral....

Alangkah baiknya jika ada sesepuh yang turut memberi komentar juga mengenai hal ini. Dan, mudah-mudahan ini yang terakhir &quot;tokoh&quot; dan Ono Niha secara keseluruhan mengobral Gelar.

Bagaimanapun, Gelar itu sudah terlanjur diberikan. &quot;Keren&quot; banget lagi &quot;Samaeri&quot;. Mudah-mudahan yang menerima gelar itu bisa memahami tugas dan tanggung jawab atas gelar itu dan bukan hanya sebagai alat mendulang suara pemilih. Cukup sudahlah sepanjang umur SUMUT bahkan sejak NKRI ini berdiri, Nias hanya sebegai pelengkap penderita, selalu ditinggalkan setelah PEMILU atau PILKADA.

Bapak Ir.R.E.Siahaan, seharusnya kalah pun, apalagi kalau menang dalam pemilihan GUBSU, seyogianya menunjukan tanggung jawabnya sebagai “Samaeri Tanö” yang artinya “pembaharu daerah”. Berani menerima gelar, berani bertanggung jawab. Terima kasih.

Salam,
Pikiran Daeli
Jambi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ya&#8217;ahowu,<br />
Saya sangat setuju dan tepat jika topik ini diangkat. Hal ini sebagai wujud kepedulian kita pada nilai-nilai luhur dan budaya serta adat-istiadat Nias kita.</p>
<p>Jika dahulu (bahkan sebagian kecil di masa saya masih SMP di Nias) akan diberikan gelar kepada seseorang, maka itu tidak gratis. Ada hal-hal yang harus dipenuhi dan dilakukan oleh si-calon penerima gelar. Dalam kalimat halus dan singkat, si penerima gelar itu harus berkorban&#8230;.! Bahkan begitu mahalnya gelar itu, tidak sedikit harta yang dikorbankan untuk masyarakat banyak (meskipun terkesan menghambur-hamburkan).</p>
<p>Jika kita tarik satu kalimat saja untuk menjawab apakah layak CaGub Sumut ini menerima gelar atau tidak, pengorbanan apa yang sudah diberikan untuk Nias, khususnya Nias Selatan? </p>
<p>Terus terang, saya memang kaget membaca berita yang memuat &#8220;respond&#8221; dan &#8220;ungkapan&#8221; dari berbagai &#8220;tokoh&#8221; saat kunjungan tersebut. Sadarkah beliau-beliau itu akan apa yang sedang dilakukan? &#8220;Menurut saya&#8221;, sudah tidak menghargai ke-skralan adat Nias itu lagi dan wajar saja kalau ada saudara2 kita yang menyampaikan pada situs ini bahwa gelar itu di-obral&#8230;.</p>
<p>Alangkah baiknya jika ada sesepuh yang turut memberi komentar juga mengenai hal ini. Dan, mudah-mudahan ini yang terakhir &#8220;tokoh&#8221; dan Ono Niha secara keseluruhan mengobral Gelar.</p>
<p>Bagaimanapun, Gelar itu sudah terlanjur diberikan. &#8220;Keren&#8221; banget lagi &#8220;Samaeri&#8221;. Mudah-mudahan yang menerima gelar itu bisa memahami tugas dan tanggung jawab atas gelar itu dan bukan hanya sebagai alat mendulang suara pemilih. Cukup sudahlah sepanjang umur SUMUT bahkan sejak NKRI ini berdiri, Nias hanya sebegai pelengkap penderita, selalu ditinggalkan setelah PEMILU atau PILKADA.</p>
<p>Bapak Ir.R.E.Siahaan, seharusnya kalah pun, apalagi kalau menang dalam pemilihan GUBSU, seyogianya menunjukan tanggung jawabnya sebagai “Samaeri Tanö” yang artinya “pembaharu daerah”. Berani menerima gelar, berani bertanggung jawab. Terima kasih.</p>
<p>Salam,<br />
Pikiran Daeli<br />
Jambi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Siraso</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/comment-page-2/#comment-2746</link>
		<dc:creator>Siraso</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Mar 2008 10:32:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/#comment-2746</guid>
		<description>Sekitar 5 tahun lalu, saya membaca dalam satu buku SW Mendrofa bahwa mantan Gubsu RI Siregar (alm.) pernah dianugerahi marga Nias - kalau tak salah marga Wa&#039;u. Dalam upacara pemberian marga itu, yang diadakan di Telukdalam (kalau tak salah), SW Mendrofa berperan besar, kalau tidak salah bertindak sebagai seorang pembicara atas nama tokoh adat Nias dan (kalau tak salah) membuat suatu hoho khusus untuk upacara penganugerahan itu. Ini terjadi sekitar pertengahan tahun 1980an.

Pada kesempatan lain, seorang (informan) yang pernah bertugas di Nias Selatan mengatakan bahwa latarbelakang penganugerahan marga itu adalah keinginan RI Siregar untuk menguasai tanah-tanah adat di Nias Selatan. Maklum, Nias Selatan adalah daerah wisata penting, dan penguasaan tanah-tanah itu akan membuka peluang menguasai industri pariwisata Nias Selatan.

Menurut informan itu, ada tokoh adat di Nias Selatan yang tidak setuju dengan penganugerahaan itu karena ia menakutkan dampaknya. Singkat cerita, dia keberatan.

Setelah penganugerahan itu, konon, tokoh ini dipanggil RI Siregar ke Medan, tujuannya untuk menggertak. Ternyata tokoh ini tidak takut gertakan RI Siregar, ia balik menggertak RI Siregar dengan daya supranatural yang dimilikinya.

Ini informasi yang masih perlu dicek kebenarannya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sekitar 5 tahun lalu, saya membaca dalam satu buku SW Mendrofa bahwa mantan Gubsu RI Siregar (alm.) pernah dianugerahi marga Nias &#8211; kalau tak salah marga Wa&#8217;u. Dalam upacara pemberian marga itu, yang diadakan di Telukdalam (kalau tak salah), SW Mendrofa berperan besar, kalau tidak salah bertindak sebagai seorang pembicara atas nama tokoh adat Nias dan (kalau tak salah) membuat suatu hoho khusus untuk upacara penganugerahan itu. Ini terjadi sekitar pertengahan tahun 1980an.</p>
<p>Pada kesempatan lain, seorang (informan) yang pernah bertugas di Nias Selatan mengatakan bahwa latarbelakang penganugerahan marga itu adalah keinginan RI Siregar untuk menguasai tanah-tanah adat di Nias Selatan. Maklum, Nias Selatan adalah daerah wisata penting, dan penguasaan tanah-tanah itu akan membuka peluang menguasai industri pariwisata Nias Selatan.</p>
<p>Menurut informan itu, ada tokoh adat di Nias Selatan yang tidak setuju dengan penganugerahaan itu karena ia menakutkan dampaknya. Singkat cerita, dia keberatan.</p>
<p>Setelah penganugerahan itu, konon, tokoh ini dipanggil RI Siregar ke Medan, tujuannya untuk menggertak. Ternyata tokoh ini tidak takut gertakan RI Siregar, ia balik menggertak RI Siregar dengan daya supranatural yang dimilikinya.</p>
<p>Ini informasi yang masih perlu dicek kebenarannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Etis Nehe</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/comment-page-2/#comment-2745</link>
		<dc:creator>Etis Nehe</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Mar 2008 10:17:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/#comment-2745</guid>
		<description>Ya&#039;ahowu...

Menurut saya, salah satu kekayaan unik kebudayaan masyarakat Nias yang cenderung kurang tergarap sampai saat ini adalah masalah pemberian gelar. Entah mungkin karena kurangnya pemahaman selama ini, sehingga terjadi pemberian gelar itu secara &#039;tidak tepat.&#039;

Saya juga setuju dengan saudara Oni bahwa tidak serta merta kalau di tempat lain ada pemberian gelar seperti itu, maka kalau di Nias hal itu terjadi maka itu benar saja. Oh ya, sekedar selingan, pemberian gelar kepada Sutiyoso, Akbar Tanjung, dll, dari Keraton Solo itu pernah dibahas pada salah satu stasiun TV dengan fokus pada &#039;praktek jual beli gelar.&#039;

Saya juga setuju dengan Sdr Amandaya dengan penjelasan singkatnya mengenai syarat-syarat pemberian gelar bangsawan. Saya sedang mencoba menghubungi beberapa orang untuk mendapatkan penjelasan komprehensif mengenai dasar-dasar pemahaman terkait pemberian gelar pada kebudayaan Nias, khususnya di Selatan.

Walau tradisi itu ada pada seluruh wilayah Nias, namun masing-masing punya keunikan. Entah dalam prosedur, maupun perayaannya. Ada baiknya, rekan-rekan semua, dari berbagai wilayah untuk memberikan kepada kita penjelasan yang akan melengkapi rangkaian pemahakan kita melalui diskusi ini.

Selain sesama orang Nias bisa saling belajar dari diskusi ini, juga orang yang mendapat gelar (Siapa tahu langsung atau  tidak langsung membaca diskusi ini)dapat memahami arti pemberian gelar di Nias. Sehingga bisa menyesuaikan diri. Siapa tahu, setelah menilai diri tidak layak, mau mengembalikannya secara sportif. he...he..

Tks.


Etis Nehe</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ya&#8217;ahowu&#8230;</p>
<p>Menurut saya, salah satu kekayaan unik kebudayaan masyarakat Nias yang cenderung kurang tergarap sampai saat ini adalah masalah pemberian gelar. Entah mungkin karena kurangnya pemahaman selama ini, sehingga terjadi pemberian gelar itu secara &#8216;tidak tepat.&#8217;</p>
<p>Saya juga setuju dengan saudara Oni bahwa tidak serta merta kalau di tempat lain ada pemberian gelar seperti itu, maka kalau di Nias hal itu terjadi maka itu benar saja. Oh ya, sekedar selingan, pemberian gelar kepada Sutiyoso, Akbar Tanjung, dll, dari Keraton Solo itu pernah dibahas pada salah satu stasiun TV dengan fokus pada &#8216;praktek jual beli gelar.&#8217;</p>
<p>Saya juga setuju dengan Sdr Amandaya dengan penjelasan singkatnya mengenai syarat-syarat pemberian gelar bangsawan. Saya sedang mencoba menghubungi beberapa orang untuk mendapatkan penjelasan komprehensif mengenai dasar-dasar pemahaman terkait pemberian gelar pada kebudayaan Nias, khususnya di Selatan.</p>
<p>Walau tradisi itu ada pada seluruh wilayah Nias, namun masing-masing punya keunikan. Entah dalam prosedur, maupun perayaannya. Ada baiknya, rekan-rekan semua, dari berbagai wilayah untuk memberikan kepada kita penjelasan yang akan melengkapi rangkaian pemahakan kita melalui diskusi ini.</p>
<p>Selain sesama orang Nias bisa saling belajar dari diskusi ini, juga orang yang mendapat gelar (Siapa tahu langsung atau  tidak langsung membaca diskusi ini)dapat memahami arti pemberian gelar di Nias. Sehingga bisa menyesuaikan diri. Siapa tahu, setelah menilai diri tidak layak, mau mengembalikannya secara sportif. he&#8230;he..</p>
<p>Tks.</p>
<p>Etis Nehe</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Amandaya</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/comment-page-1/#comment-2744</link>
		<dc:creator>Amandaya</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Mar 2008 08:15:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/#comment-2744</guid>
		<description>Heeeee, menjadi ramai juga yaaaa.... fakta aneh ini !

Masalahnya (menurut saya) bukan pada apakah diluar suku Nias dapat diberi gelar kebangsawan ? Dapat saja. Hanya, &quot;tentu&#039; dengan cara adat orang Nias. Bukan dengan cara adat Jawa, Minang, Batak, dan suku-suku lainnya atau pun cara pemberian gelar &quot;honoris causa&quot; oleh salah satu Universitas. 

Di Nias, seseorang mendapatkan gelar Balugu apabila ia telah melakukan sesuatu kebaikan yang istimewa di Ori atau setidaknya ba Mbanua nia. Karena jasanya itu, atas kesepakatan Zatua Hada, diberi gelar dengan nama Balugu tertentu . Dapat juga karena ia kaya, ia mengundang tokoh-tokoh dalam Ori (Ono Zalawa) dan melakukakan pesta Owasa. Pada saat itu ia diberi gelar oleh tokoh-tokoh Ori tersebut. Kalau persyaratan seperti itu, minta dijelaskan alasan pemberian gelar Balugu kepada RE Siahaan. Apakah karena ia telah berbuat baik bagi Tano Niha c.q. NISEL atau karena telah mengungang tokoh-tokoh Ori ?

Saya tidak mengomentari &quot;relativisme budaya&quot; dalam hubungan ini. Yang pasti bahwa kebudayaan termasuk hakekat manusia. Memang kebudayaan manusia terbagi ke dalam berbagai kegiatan, berlangsung dalam berbagai jurus dan mengejar begai tujuan. Bila kebudayaan sebagai hakekat manusia, maka di situ kita tidak mencari kesatuan akibat melainkan kesatuan tindakan; bukan keseragaman produk melainkan keseragaman proses kreatif. 

Jadi, harapan tetap : Sadar supaya terhindar dari yang  aneh-aneh.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Heeeee, menjadi ramai juga yaaaa&#8230;. fakta aneh ini !</p>
<p>Masalahnya (menurut saya) bukan pada apakah diluar suku Nias dapat diberi gelar kebangsawan ? Dapat saja. Hanya, &#8220;tentu&#8217; dengan cara adat orang Nias. Bukan dengan cara adat Jawa, Minang, Batak, dan suku-suku lainnya atau pun cara pemberian gelar &#8220;honoris causa&#8221; oleh salah satu Universitas. </p>
<p>Di Nias, seseorang mendapatkan gelar Balugu apabila ia telah melakukan sesuatu kebaikan yang istimewa di Ori atau setidaknya ba Mbanua nia. Karena jasanya itu, atas kesepakatan Zatua Hada, diberi gelar dengan nama Balugu tertentu . Dapat juga karena ia kaya, ia mengundang tokoh-tokoh dalam Ori (Ono Zalawa) dan melakukakan pesta Owasa. Pada saat itu ia diberi gelar oleh tokoh-tokoh Ori tersebut. Kalau persyaratan seperti itu, minta dijelaskan alasan pemberian gelar Balugu kepada RE Siahaan. Apakah karena ia telah berbuat baik bagi Tano Niha c.q. NISEL atau karena telah mengungang tokoh-tokoh Ori ?</p>
<p>Saya tidak mengomentari &#8220;relativisme budaya&#8221; dalam hubungan ini. Yang pasti bahwa kebudayaan termasuk hakekat manusia. Memang kebudayaan manusia terbagi ke dalam berbagai kegiatan, berlangsung dalam berbagai jurus dan mengejar begai tujuan. Bila kebudayaan sebagai hakekat manusia, maka di situ kita tidak mencari kesatuan akibat melainkan kesatuan tindakan; bukan keseragaman produk melainkan keseragaman proses kreatif. </p>
<p>Jadi, harapan tetap : Sadar supaya terhindar dari yang  aneh-aneh.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Oni Harefa</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/comment-page-1/#comment-2743</link>
		<dc:creator>Oni Harefa</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Mar 2008 04:04:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/2008/03/13/gelar-bangsawan-nias-selatan-untuk-cagubsu-ir-re-siahaan/#comment-2743</guid>
		<description>Bang Akbar Tanjung dapat gelar bangsawan dari Kraton Solo. Sri Sultan Hamengku Buwono X diberi gelar bangsawan oleh masyarakat Minang. Hal tersebut sah-sah saja, Wong Solo dan Urang Awak punya tradisi seperti itu. Banyak suku di Nusantara memiliki adat semacam itu. Namun sistem nilai perolehan kebangsawan Ono Niha tidak bisa dipersamakan dengan budaya yang ada di luar masyarakat Ono Niha itu sendiri. Gelar bangsawan suku Nias yang diperoleh Cagubsu Ir. RE Siahaan menunjukkan sebuah &#039;relativisme kebudayaan&#039;.  

Baron de la Brede et de Montesquieu dalam buku L&#039;Esprit de Loi (1748) yang pertama mengajukan pandangan &#039;relativisme kebudayaan&#039;, yaitu bahwa suatu unsur atau adat dalam suatu kebudayaan tak dapat dinilai dengan pandangan dari kebudayaan lain, melainkan dari sistem nilai yang pasti ada di dalamnya sendiri.

Tebai ba Nono Niha, tebai ba Nono Niha! Oya zi tebai tebai manö!

Oni Harefa (Jogjakarta)
oni_harefa@yahoo.co.id</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bang Akbar Tanjung dapat gelar bangsawan dari Kraton Solo. Sri Sultan Hamengku Buwono X diberi gelar bangsawan oleh masyarakat Minang. Hal tersebut sah-sah saja, Wong Solo dan Urang Awak punya tradisi seperti itu. Banyak suku di Nusantara memiliki adat semacam itu. Namun sistem nilai perolehan kebangsawan Ono Niha tidak bisa dipersamakan dengan budaya yang ada di luar masyarakat Ono Niha itu sendiri. Gelar bangsawan suku Nias yang diperoleh Cagubsu Ir. RE Siahaan menunjukkan sebuah &#8216;relativisme kebudayaan&#8217;.  </p>
<p>Baron de la Brede et de Montesquieu dalam buku L&#8217;Esprit de Loi (1748) yang pertama mengajukan pandangan &#8216;relativisme kebudayaan&#8217;, yaitu bahwa suatu unsur atau adat dalam suatu kebudayaan tak dapat dinilai dengan pandangan dari kebudayaan lain, melainkan dari sistem nilai yang pasti ada di dalamnya sendiri.</p>
<p>Tebai ba Nono Niha, tebai ba Nono Niha! Oya zi tebai tebai manö!</p>
<p>Oni Harefa (Jogjakarta)<br />
<a href="mailto:oni_harefa@yahoo.co.id">oni_harefa@yahoo.co.id</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
