Berita di harian SIB berjudul Cagubsu Ir RE Siahaan Disambut Tari Perang dan Dianugrahi Gelar Samairi Tano di Nias Selatan tertanggal 12 Maret 2008 cukup membuat kita terkesima, mengelus dada, terkejut dan geleng-geleng kepala. Dalam berita itu dilaporkan sambutan “luar biasa” masyarakat Nias Selatan kepada calon gubernur Sumatera Utara Ir RE Siahaan yang sedang berkunjung ke daerah itu, dalam rangka ‘sosialisasi’ alias kampanye.

“Kebanggaan” masyarakat Nias Selatan itu diwujudkan dalam bentuk “penyambutan tamu yang dianggap tamu agung yang harus dihormati” dan penganugerahan gelar bangsawan kepada RE Siahaan yaitu “Samairi Tanö” yang artinya “pembaharu daerah” (SIB, 12 Maret 2008)

Artikel ini ingin coba memancing diskusi tentang ramifikasi dari praktek “pemurahan” atau “pengobralan” nilai-nilai budaya Nias yang luhur dalam persitiwa itu.

Sebagaimana kita ketahui bersama, kedatangan RE Siahaan ke Nias Selatan adalah dalam rangka “sosialisasi” (istilah halus untuk kampanye) sebagai seorang calon gubernur Sumatera Utara. Dalam kunjungannya itu Siahaan, yang didampingi oleh sejumlah anggota Tim Pemenangan, ingin merebut simpati rakyat agar dalam pilkada mendatang suara masyarakat (Nias Selatan) jatuh kepadanya. Dalam statusnya sebagai cagubsu, maka RE Siahaan berstatus sama dengan Abdul Wahab Dalimunthe, Ali Umri, Syamsul Arifin dan Tri Tamtomo. Kelima orang ini adalah para calon gubsu yang kini sedang giat-giatnya ‘merayu’ dan meyakinkan rakyat Sumatera Utara bahwa merekalah yang “terbaik” menjadi gubernur Sumatera Utara periode mendatang.

Dalam statusnya sebagai seorang Cagubsu itu, tepatkah para tokoh politik dan masyarakat Nias Selatan memperlakukan RE Siahaan sebagai ‘tamu agung’? Bukankah kedatangan beliau lebih bermotif politis untuk kepentingan pemenangan pasangan Siahaan – Suherdi ? Lantas, apakah hubungan antara RE Siahaan sebagai seorang calon Gubsu dengan penganugerahan gelar bangsawan oleh masyarakat Nias Selatan ? Apakah hal yang sama (pemberian gelar bangsawan ini) akan dilakukan juga oleh masyarakat Nias Selatan kepada calon pasangan Gubsu yang lain apabila mereka datang berkunjung ke Nias Selatan ? Ataukah gelar bangsawan ini hanya dikhususkan bagi cagub RE Siahaan ?

Penyambutan secara adat kepada seorang tamu adalah wajar dalam masyarakat Nias. Yang tidak biasa, jadi: yang luar biasa, adalah penganugerahan gelar bangsawan secara adat Nias kepada seseorang.

Tidak sembarang orang bisa mendapatkan gelar semacam itu. Tentu juga ada kriteria-kriteria adat yang menjadi pedoman bagi penganugerahan gelar semacam itu. Bagi penerima gelar, tentu juga ada hak-hak, kewaiban-kewajiban dan konsekuensi – konsekuensi yang melekat padanya karena pemberian gelar itu.

Diskusi ini bersifat terbuka, dan bermaksud memancing masukan yang berbobot, rasional, memperluas wawasan dan menambah pemahaman kita tentang budaya Nias. (E. Halawa)

Facebook Comments