Peta Kuno Jadi Sumber Nafkah

Tuesday, March 11, 2008
By susuwongi

Oleh Sotyati/SP

Sungguh pemandangan langka! Di antara gerai-gerai yang memajang aneka cendera mata, batik, lurik, produk tekstil, aksesori, “terselip” gerai yang memajang jejeran peta kuno berpigura, bersanding dengan tumpukan lembaran gambar, buku, yang juga kuno. Peta-peta produksi kuno itu umumnya terbitan Wolters-Noordhoff Atlas Production Groningen, Belanda, salah satu “produsen” kartografi yang didirikan lebih dari seabad silam.Benar-benar mencuri perhatian. Keunikannya mampu menarik perhatian pengunjung untuk memasuki gerai sempit itu. Sebagian bahkan tergerak membalik-balik tumpukan kertas kuno dan buku-buku yang hampir lapuk. Tak jarang, orang sekadar mampir untuk menanyakan asal-muasal berbagai buku dan gambar kuno itu. Ternyata, benda-benda yang dipajang di gerai Nova Art dalam pameran “Gelar Karya UKM Mitra Binaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) 2008” pada 13-17 Februari lalu itu dijual. Untuk memilikinya pun perlu merogoh kocek yang tidak sedikit.

Keisengan membawa keberuntungan. Kalimat sekilas yang dapat dipakai saat mendeskripsikan sosok Marwoto, yang membuka gerai itu. Sejak 1997, setiap lembar peta kuno yang terjual, mendatangkan nilai rupiah yang tak sedikit bagi lelaki berusia 44 tahun itu. Pria yang berpenampilan sederhana itu pun merasa semakin tertantang saat seseorang minta dicarikan benda sejenis dengan ukuran yang lebih besar.

Semua berawal dari keisengan Marwoto menawarkan lembaran kartu pos bergambar peta kepada seorang bule yang ditemuinya. Ide itu diterima dan dagangannya laku dengan harga yang cukup tinggi. Akhirnya, ia mencoba mengadu nasib di bidang jual-beli peta kuno.

Lambat laun, Marwoto tahu, ada banyak orang yang tertarik dengan jualannya. Ia semakin kecanduan untuk berburu buku dan peta kuno. Berbagai benda tersebut kebanyakan berbahasa Belanda dan beberapa di antaranya terbit di abad ke-19.

Awalnya, Marwoto menggunakan teknik penawaran door to door, dari satu rumah ke rumah yang lain. Di setiap akhir kunjungan, ia meminta referensi kepada pembeli, tentang orang-orang yang juga berminat dengan barang jualannya. Berangkat dari situlah jaringan Marwoto semakin luas.

Kenang-kenangan

Kini, Marwoto hidup dari pameran ke pameran. Tak hanya itu, ia pun kerap mendatangi perkumpulan atau arisan yang diadakan para ekspatriat. Berbagai acara dijadikan sebagai ajang memperkenalkan barang dagangan andalan. Kesempatan itu pula yang digunakan untuk menjaring pembeli dan pelanggan baru.

“Kalau di acara-acara, mereka (calon pembeli, Red) baru minta kartu nama saja. Biasanya, yang benar-benar tertarik membeli akan menghubungi lagi melalui telepon untuk melakukan transaksi,” tutur ayah dari Restu Galihani Adhi dan Kukuh Pangestu Adhi itu.

Hingga kini, satu-satunya kesulitan yang ia rasakan adalah menentukan harga. Kadang kala, saat beberapa pengunjung pameran singgah di gerainya dan menanyakan harga, terlihat keraguan di raut wajahnya sewaktu menjawab. Walau akhirnya terlontar pula dari mulutnya, selembar peta berukuran agak besar yang sudah dibingkai berharga Rp 800 ribu, sementara yang masih berupa lembaran bernilai Rp 600 ribu. Tapi, untuk peta-peta dengan gambar wilayah Indonesia, ia jual dengan harga tak kurang dari 1 juta rupiah.

Peta atau gambar yang diambil dari buku-buku kuno berukuran kecil ditawarkan Marwoto dengan harga sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu rupiah. Harga itu bisa berubah dan proses negosiasi berlaku baginya.

Marwoto bertutur dengan santai, “Pernah ada orang asing yang benar-benar tertarik dengan selembar peta, tapi, jumlah uangnya kurang dari harga yang saya tawar. Akhirnya, saya lepas saja barang itu sesuai jumlah uang si pembeli.”

Di lain waktu, ada seorang pemilik hotel di Bali, membeli sebuah buku kuno yang ia jual dengan harga mencapai Rp 20 juta. Namun, kalangan pembeli barang dagangan Marwoto kebanyakan adalah orang-orang asing yang pernah atau bahkan tinggal di Indonesia.

Tak hanya perseorangan, pembeli lembaran-lembaran peta milik Marwoto adalah beberapa perusahaan. “Peta-peta itu dijadikan kenang-kenangan sebagai tanda bahwa orang-orang itu pernah singgah ke Indonesia. Peta yang diberi- kan oleh perusahaan disesuaikan dengan daerah yang pernah dikunjungi orang asing tersebut,” ia menjelaskan.

Berlipat Ganda

Berbagai buku dan peta kuno itu diperoleh Marwoto dari berbagai penjual buku loak. Wilayah perburuannya tak hanya di pusat buku loak Kwitang dan Jatinegara di Jakarta, beberapa daerah seperti Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, dan Malang pun ia datangi demi mendapatkan barang-barang yang dicari.

Marwoto pun berterus terang, “Untuk mendapatkan sebuah buku kuno, saya hanya butuh dana berkisar di angka ratusan ribu. Bahkan, di tahun-tahun awal berdagang, buku-buku itu bisa saya dapatkan dengan harga antara 15 hingga 25 ribu rupiah.” Tak heran, ada berlipat-lipat ganda keuntungan yang dapat ia raup saat selembar peta laku terjual.

Atas kerajinan berburu benda-benda kuno, kini, Marwoto tak perlu bersusah payah lagi melakukan pencarian hingga ke pelosok. Ada banyak pedagang barang-barang loak yang langsung menghubungi-nya saat menemukan buku kuno, yang diminatinya. Dengan begitu, jaringan pemasoknya pun semakin meluas.

Saat ini, ribuan buku kuno disimpan dan dirawat di rumah Marwoto, di sebuah kompleks perumahan di wilayah Bekasi, Jawa Barat. Saking banyaknya, bermacam peta kuno itu kemudian dijadikan sebagai wallpaper untuk menghiasi dinding-dinding rumahnya.

Cara perawatan ala Marwoto pun tidak terlalu sulit, cukup mengangin-anginkan dan membiarkan tetap kering. Tapi, untuk kondisi kertas yang sudah rapuh dan mudah patah dibutuhkan penanganan khusus dengan dibungkus atau dimasukkan ke dalam plastik. “Membukanya harus hati-hati, harus ada pawangnya,” tuturnya.

Melepas buku-buku dan peta kuno, yang bukan hasil repro, tidak merugikan bagi Marwoto, walaupun, benda-benda itu mengandung nilai sejarah. Malah, ada banyak untung yang didapat saat menjualnya.

Kalau selembar gambar atau sebuah buku sudah terjual, otomatis stoknya tidak ada lagi. Meskipun ada orang yang menawar dengan harga tinggi untuk jenis yang sama, tapi, kalau sudah laku terjual persediaan pun habis. Jika ada beberapa gambar serupa, ada kemungkinan karena buku yang ia dapat berseri dan mencantumkan contoh gambar sama. Hanya saja, ada sebuah buku yang sampai sekarang tidak pernah ia jual.

“Saya akan merasa sangat kehilangan kalau buku itu sampai terjual. Sudah ada yang menawar dengan harga tinggi, tapi tidak saya lepas karena itu masterpiece (karya besar) bagi saya,” kata Marwoto tentang buku berisi peta Indonesia, Hand Atlas, terbitan Jerman tahun 1924.

Telur Lukis

Tak ada latar belakang pendidikan khusus yang dijalani Marwoto. Setelah lulus sekolah menengah atas (SMA), ia mencoba merantau ke Jakarta. Ide yang ada di kepala Marwoto sekarang adalah membuat usaha baru dengan memanfaatkan peta kuno. Ia pun sudah memikirkan untuk membuat berbagai jenis barang berbahan dasar atau bermotif peta, seperti tas, baju, hingga perabot rumah tangga.

Marwoto mengakui, pekerjaan yang digeluti merupakan sumber nafkah yang dapat mencukupi kehidupan keluarganya. Apalagi, ia tak hanya berjualan benda-benda kuno. Usaha utama sebenarnya adalah pemasok kebutuhan hotel (hotel supplier).

Selain buku, peta kuno, dan alat-alat hotel, usaha lain Marwoto adalah berjualan telur. Mulai dari telur ayam, bebek, hingga unta, ia dagangkan. Tapi, bukan sembarang telur yang ia jual. Berbagai kulit telur yang masih berbentuk utuh dilukis dengan bermacam gambar. Umumnya bermotif lukisan Bali.

Usaha telur lukis itu ia tekuni lebih dahulu daripada peta dan buku kuno, tepatnya sejak 1994. Beberapa peternak telah menjadi mitranya. Ia biasanya mengambil telur-telur yang tidak menetas, lalu diproses secara khusus untuk mengeluarkan isi dan dibersihkan. Proses melukis dilakukan oleh orang lain. Harga jual telur lukis tersebut berkisar antara Rp 50 ribu hingga 800 ribu. Mahalnya sebuah telur lukis ditentukan oleh ukurannya.

Marwoto masih terus mengembangkan usahanya karena ingin berbeda dari yang lain. Ia merasa harus selalu menggagaskan ide lebih cepat karena kebanyakan dari dagangan hasil pemikirannya sering diikuti pedagang lain. Bukan tidak mungkin, buku, peta kuno, serta telur hias hasil gagasannya pun suatu saat ditiru. [Debora Manja Joy Pesik]

Sumber: www.suarapembaruan.com, Last modified: 11/3/08

6 Responses to “Peta Kuno Jadi Sumber Nafkah”

  1. 1
    tahyudi Says:

    bagaimana cara mendapatkan peta-peta kuno tersebut, dengan cara gratis lewat internet. saya mengusulkan sebelum dijual kenapa di gandakan dengan cara scan dan ditampilkan lewat website/situs!!!

  2. 2
    fuadi lkirom Says:

    wah… saya menghayal… niiih.. kalau saja peta kuno tu di bikin banyak diduplikasi, dan di jual bebas… maka kita akan banyak mengetahui sejarah mulai kapan peta dunia di buat serta liku liku kesulitannya membuat peta…..

  3. 3
    leonardo Says:

    oh iyo mas,niki wonten peta ASLI jaman londho
    #) kleine schoolatlas van nederlandsch oost-indie,voor de indische lagere school,bij j.b. wolter-groningen,den haag,weltevreden,de spalling der plaatsnamen is volgen G.B.van 4 mei 1922,no.50,zoals dat is gewijzigd bij G.B.van 5 aug.1925, no 5.
    #) kaart en tekst II, eerste atlas van de omgeving van nederlansch indie, nederland en de werelddelen, voor de indische lagere school door J.M,SNIJDER, J.VAN ITERSON, J.P. LEENHOUTS, J.B. WOLTERS-GRONINGEN,BATAVIA,1935
    *menawi minat pos kemawon ing mail cowboy_gemblung@yahoo.com*

  4. 4
    buny Says:

    Saya ada peta th 1750 indiae orientalis , aug vindel
    isinya peta indo jaman dulu,( tapi tidak seperti skrg lo kondisi pulaunya tidak sama ) china , filiphina ,vietnam ..dalam kondisi cukup bagus ..dan peta dunia th 1872 ..
    bagi yang hoby dengan peta bisa hub 08561929394..

  5. 5
    lionel Says:

    Saya menjual buku Geshchiedenis Van De Nederl.0.I.Compagnie
    Tahun 1925
    Dan Perangko kuno
    Peminat silahkan hubungi 021-80316328
    Harga bisa nego

  6. 6
    Fdm-Ammar X Clarity Jr. Says:

    Saya butuh peta Soerabaia antara tahun 1930 – 1960, mungkin ada yang bisa memberi saya informasi. Trims

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

March 2008
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31