Paedofilia-Bule Gaek Pencabul Bocah

Tuesday, March 11, 2008
By katitira

(GATRA/Mukhlison S Widodo)
Siapa sangka, pria bule yang super-ramah terhadap bocah-bocah kampung itu ternyata buronan polisi di negara asalnya, Australia. Kasus yang menderanya tak genah pula: pencabulan bocah. Tak mengherankan, ketika si bule dicokok polisi, para tetangganya terperangah. “Jadi, selama ini kita bertetangga dengan buronan luar negeri?” kata mereka.

Si bule itu bernama Charles Alfred Barnet, 67 tahun. Ia kini mendekam di tahanan Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya. Buronan ini diringkus di kediamannya di Leuwi Nanggung, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Senin malam pekan lalu. Penangkapan ini cukup menarik perhatian warga karena sampai melibatkan 11 anggota polisi.

Polisi masih menyelidiki kemungkinan tersangka melakukan pencabulan terhadap bocah di Indonesia. “Kalau terbukti, tersangka harus dihukum dulu di Indonesia. Kalau tidak terbukti, bisa langsung diekstradisi,” kata Kepala Satuan Reserse Remaja, Anak-anak, dan Wanita (Renata), Direktorat Reserse Umum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Achmad Rivai.

Di negeri asalnya, Charles buron sejak 1996. Ia disangka mencabuli setidaknya enam bocah berusia 15 tahun. Perbuatan tak senonoh itu berlangsung dalam kurun 1979-1994 di dua kota, Crystal Brook dan Whyalla, di Australia Selatan. Lima korban digarap dalam periode relatif rapat, sedangkan korban terakhir disikat setelah ia “vakum” 12 tahun.

Belum jelas bagaimana modus dan strategi pelaku sampai bisa leluasa beraksi cukup lama tanpa ketahuan. Aksi dan jati ditirinya baru tercium pada 1996. Tapi pihak kepolisian Australia kehilangan jejaknya. Boleh jadi, pada waktu itu Charles langsung ngacir ke Indonesia.

Diduga kuat, Charles sempat mengembara di sejumlah kota di Indonesia. Baru belakangan, pada 2003, ia menetap di Leuwi Nanggung. Ia membangun rumah cukup megah berlantai dua di atas lahan 1.400 meter persegi. Charles berprofesi sebagai guru bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus bahasa asing di Jakarta.

Di mata para tetangganya, bule gaek yang beken dipanggil Charlie itu gemar bergaul dengan bocah dan remaja lelaki. Menurut seorang tetangga, H. Mustar, Charles kerap mengumpulkan bocah dan remaja laki-laki. Kepada mereka, Charles memberikan les bahasa Inggris gratis. Sering pula, “Mereka pesta-pesta sampai malam,” ujar Mustar.

Keberadaan Charles di Indonesia mulai terendus pada April tahun lalu. Entah bagaimana caranya. Pada 9 Mei 2007, Kedutaan Besar Australia mengirim nota diplomatik kepada Pemerintah Indonesia mengenai permintaan penangkapan dan ekstradisi atas Charles.

Pihak National Central Bureau (NCB) Mabes Polri segera meresponsnya dengan menyebar jajaran polisi untuk mengendus jejak si buron tersebut. Namun upaya pelacakan ini tak mudah. Baru pertengahan Februari lalu, posisi Charles tercium. Setelah melakukan penyelidikan, akhirnya dipastikan bahwa Charles adalah buronan dimaksud.

Pada 20 Februari, pihak NCB Mabes Polri berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya guna melakukan penangkapan terhadap Charles. Lima hari berselang, sebanyak 11 petugas dikerahkan untuk meringkusnya. Lima orang dari Renata Polda Metro Jaya, sisanya dari NCB Mabes Polri.

Berakhir sudah pelarian Charles, tersangka pelaku paedofilia dari ”benua kanguru” itu. Toh, tertangkapnya Charles mau tak mau menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan masyarakat: jangan-jangan ia juga sempat memangsa bocah di Indonesia. Maklum, 12 tahun bukan waktu yang singkat.

Apalagi, realitas menunjukkan, aksi para bule paedofil cukup marak di negeri ini. Hingga 2006, ditemukan tak kurang dari 20 pelaku paedofilia asing. Adapun jumlah korban yang melapor pernah dicabuli sebanyak 46 anak. Dan dari banyak kasus paedofilia itu, bule Australia termasuk yang paling getol beraksi.

Antara lain Peter W. Smith dan William Stuart Brown. Peter, yang beraksi sejak tahun 2000, diduga telah mencabuli 50-an bocah laki-laki Indonesia. Korban tersebar di Jakarta, Bali, Lombok, dan Padang. Sebelumnya, guru bahasa Inggris itu mencabuli sejumlah bocah Vietnam dan India.

Di Indonesia, sasaran Peter adalah anak jalanan. Setidaknya tujuh anak jalanan yang diasuh Jakarta Center for Street Children (JCSC) menjadi korban hasrat seksual tak normal Peter. JCSC adalah lembaga swadaya masyarakat yang aktif membina anak-anak terpinggirkan.

Setiap beraksi, Peter memberikan imbalan Rp 35.000-Rp 100.000 kepada korban. Ulah miring Peter selama ini terbongkar berkat laporan dua anak jalanan asuhan JCSC, dua tahun lalu. Ketika Peter diringkus di rumah kontrakannya di Tebet Timur Dalam, Jakarta Selatan, polisi antara lain menemukan beberapa keping DVD berisi rekaman pornoaksi anak-anak.

Petualangan paedofil Australia lainnya, William Stuart Brown alias Tony, tak kalah seru. Mantan staf diplomat bidang perdagangan yang bertugas di Jakarta (1982-1984) ini beraksi di Lombok pada 1996. Bersama dua rekannya, Brown memangsa 14 bocah di Kampung Kemullah, Kecamatan Praya, Lombok.

Warga melaporkan ulah mereka ke polisi. Tapi komplotan paedofil ini berhasil kabur dan angkat kaki dari sana. Selama dalam pelarian, Brown yang kerap memakai nama samaran Bill sempat menjadi staf pengajar di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris di kawasan Tebet Timur. Lalu ia pindah ke Bali dan berganti nama menjadi Tony.

Di Pulau Dewata, Tony membeli sebidang tanah di Banjar Gelumpang, Karangasem. Di sinilah ia kembali beraksi mencabuli bocah sampai akhirnya tertangkap. Pengadilan Negeri Karangasem menyatakan Tony terbukti bersalah dan menghukumnya 13 tahun penjara. Mungkin karena tak tahan, Tony memilih gantung diri di penjara.

Menyimak sejumlah kasus paedofil asing itu, polisi tengah mengembangkan penyelidikan ke arah kemungkinan Charles sempat beraksi serupa di Indonesia. “Biasanya pelaku paedofilia mengulang kejahatannya di mana pun berada,” ujar Achmad Rivai.

Sejauh ini, informasi yang diperoleh polisi cukup mendukung kecurigaan itu. Warga di sekitar kediaman Charles menuturkan bahwa mereka sudah lama mendengar aksi mesum Charles terhadap bocah dan remaja, yang umumnya warga luar Leuwi Nanggung. “Mereka disuruh telanjang dan anunya (maaf) dipegang-pegang Charlie,” tutur Nyonya Mustar.

Polisi masih menelusuri jejak para bocah dan remaja yang diduga sempat menjadi korban Charles. Dua pembantu Charles –semuanya remaja lelaki– juga dimintai keterangan. Polisi pun berusaha menelusuri kota-kota mana saja yang pernah disinggahi Charles dan mencaritahu sepak terjangnya di situ.

Melihat gelagat itu, Charles agaknya bakal menjalani hukuman di Indonesia lebih dulu sebelum diekstradisi.

Taufik Alwie dan Mukhlison S. Widodo
[Hukum, Gatra Nomor 17 Beredar Kamis, 6 Maret 2008]

Sumber:http://gatra.com/artikel.php?id=112897, OL tgl. 11.03.2008

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

March 2008
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31