Kota Vatikan – Para pemimpin Vatikan dan dunia Islam menyepakati pembentukan dialog resmi yang permanen untuk meningkatkan hubungan yang sering sulit dan menyembuhkan luka dari pidato kontroversial Paus pada tahun 2006.

Pernyataan bersama mengatakan pertemuan pertama “Forum Katolik-Muslim” akan berlangsung tanggal 4 – 6 November 2008 di Roma dihadiri 24 pemimpin agama dan intelektual dari masing-masing pihak.

Paus Benedikuts akan memberikan sambutan pengarahan pada forum itu, kata pernyataan tersebut.

Pengumuman ini datang setelah pertemuan dua hari di Vatikan dengan 5 perwakilan Muslim yang menandatangani sebuah himbauan kepada Paus untuk memulai sebuah dialog.

“Kami muncul dengan sebuah struktur permanen yang akan menjamin kelangsungan komunikasi dan dialog Katolik-Muslim hingga ke masa depan,” kata Profesor Aref Ali Nayed dari Pusat Studi Strategis Islam Kerajaan di Amman, Yordan.

Dia menyampaikan dalam sebuah konferensi pers bahwa forum ini diharapkan mampu “membahas berbagai masalah dan memungkinkan pertukaran pikiran tentang hal-hal penting”.

Hubungan Katolik – Muslim mencapai tititk nadir pada tahun 2006 setelah Paus Benediktus menyajikan sebuah kuliah di Regensburg, Jerman, yang oleh kalangan Muslim diinterpretasikan sebagai sebuah pandangan yang menyiratkan bahwa Islam adalah agama kekerasan dan irasional.

Kalangan Islam di seluruh dunia melakukan protes dan Paus berusaha memperbaiki keadaan ketika dia mengunjungi Mesjid Biru (Blue Mosque) Turki dan berdoa menghadap Mekah dengan Imam mesjid itu.

Pidato Paus Masih Melukai

“Untuk sejumlah Muslim luka-luka dari kuliah Paus di Jerman tidak sepenuhnya sembuh dan ada sejumlah Muslim yang masih memboikot Vatikan … dan masih merasa tersinggung oleh hal itu,” kata Nayed menjawab sebuah pertanyaan.

“Dengan menjadi bagian dari inisiatif ini tidak berarti bahwa kami tidak terluka oleh pidato Paus, namun kami tidak ingin tenggelam dalam hal-hal negatif, kami harus juga melihat hal-hal positif. Terdapat sejumlah usaha positif dari pihak Vatikan akhir-akhir ini,” katanya.

Setelah kontroversi pidato Paus di Regensburg, 138 intelektual dan pemimpin Muslim menyurati Paus dan para pemimpin Kristen yang lain tahun lalu, dengan mengatakan “keberlangsungan dunia ini” mungkin akan bergantung pada dialog antara kedua agama.

“Muslim dan Kristiani merupakan 55% dari penduduk dunia dan tidak akan ada perdamaian di dunia kalau tidak ada perdamaian di antara kedua komunitas ini,” kata Ibrahim Kalin dari Yayasan Seta, Turki, dalam sebuah konferensi pers.

Penandatangan himbauan Muslim untuk dialog yang dinamakan “Common Word” telah mencapai hampir 240 orang.

“Inisiatif ini adalah dalam rangka penyembuhan, penyembuhan luka-luka yang sangat menyakitkan dan dalam berbagai cara merusak dunia. Kita menyaksikan kebengisan di mana-mana, kita berperang, kita menyaksikan kelaparan dan pembantaian, kita memiliki aksi-aksi teror, kita memiliki penyiksaan dan orang-orang yang diculik,” kata Nayed.

Walau Paus Benediktus berulang kali menyampaikan rasa penyesalan atas reaksi terhadap pidatonya di Regensburg, Paus tidak sampai meminta maaf, hal yang diharapkan oleh orang-orang Muslim.

Delegasi Muslim mengatakan forum ini akan bertemu sekali setiap dua tahun di lokasi yang berganti-ganti antara Roma dan sebuah negara Islam tetapi akan membangun struktur untuk memungkinkan kontak-kontak reguler dan jaringan untuk mengatasi “suatu situasi darurat”. (Reuter/06/03/08)

Keterangan gambar: Paus Benediktus menerima pemberian mantan Presiden Iran Mohammad Khatami dalam suatu kunjungan pribadi Khatami ke Vatikan, 4 Mei 2007. (Sumber: AP Photo/L’Osservatore Romano)

Facebook Comments