[JAKARTA] Kondisi minat dan budaya melakukan riset atau penelitian kaum profesional, khususnya dosen, dokter, mahasiswa dan siswa di Indonesia sangat menyedihkan. Harus diakui, dibandingkan dengan negara maju kesadaran melakukan riset kalangan profesional di Indonesia tertinggal hampir 100 tahun dari negara maju.“Saya rasa kita harus melihatnya secara global. Peneliti belum dihargai sama dengan orang yang tidak meneliti. Orang lebih ingin menjadi manajer, direktur atau mengejar posisi dekan, wakil rektor dan rektor dibandingkan meneliti. Karena memang dunia penelitian belum didukung infrastruktur yang baik,” ujar Guru Besar Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor, Hidayat Syarief kepada SP di Jakarta, Selasa (4/3).

“Sangat menyedihkan. Tidak semua dosen ingin meneliti. Karena itu, mereka harus meneliti untuk sampai pada jenjang berikutnya atau naik pangkat. Kalau aktivitas penelitian menarik maka saya kira mereka akan lebih banyak melakukan penelitian daripada melakukan hal lain,” ujar Rektor Universitas Sahid itu.

Sedangkan Guru Besar Ilmu Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, Irwandi Suparman menyatakan, sesungguhnya pemerintah telah memberikan dana penelitian meskipun nilainya sangat terbatas. Tapi dana itu tidak cukup. Lalu, alat juga tidak punya. Kalau alatnya ada, perawatannya tidak ada, juga regenerasinya tidak ada pula.

Pengembangan Ilmu

Dikatakan, penelitian dalam dunia perguruan tinggi merupakan bagian yang sangat penting dan vital, karena ia mempunyai muatan akademis dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui penelitian, problem yang sedang dihadapi oleh masyarakat bisa ikut dipecahkan. Sedangkan secara akademik, penelitian merupakan bagian dari pengembangan keilmuan.

Dari1.000 lebih dosen yang mengajar, yang aktif melakukan penelitian hanya sekitar 25 persen saja. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITS, I Nyoman Sutantra mengatakan, minimnya dosen ITS yang aktif meneliti tersebut cukup menghambat upaya ITS menjadi world class university. Karena pengakuan internasional sering kali didasarkan pada banyaknya penelitian yang dilakukan.

Dunia kedokteran Indonesia sudah sangat tertinggal dengan perkembangan di luar negeri. Karena itu, sudah saatnya Indonesia meningkatkan riset kedokteran. “Kami mempunyai idealisme bagaimana agar bisa mengejar ketinggalan itu,” kata ahli bedah saraf, dr Eka J Wahjoepramono dari Siloam Hospitals.

Untuk memunculkan semangat melakukan riset kedokteran itu, Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, bersama Siloam Hospitals dan UPH Mochtar Riady Institute for Nanotechnology mengundang peraih penghargaan Nobel di bidang kesehatan, Dr Barry J Marshall dari Perth, Australia. [E-5]

www.suarapembaruan.com, Last modified: 5/3/08

Facebook Comments