*Pemerintah Perlu Lakukan Upaya Mitigasi Bencana

Medan, (Analisa)

Berdasarkan teori siklus kegempaan, kawasan Nias Selatan dan Kepulauan Mentawai masih berpeluang dilanda gempa tektonik berkekuatan 7,7-8,5 SR.

Demikian disampaikan Koordinator Dewan Pakar Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Utara Ir Jonatan I Tarigan kepada Analisa di Medan.

“Gempa bumi terjadi di Nias Selatan tahun 1935 berkekuatan 7,7SR dan Mentawai tahun 1833 dengan kekuatan 8,5 SR. Maka berdasarkan teori perulangan gempa dengan rentang perualangan 70-200 tahun, kemungkinan terjadinya gempa bumi di Nias Selatan dan Mentawai masih sangat besar,” katanya.

Dijelaskan, terjadinya gempa bumi berkekuatan 9,2 SR yang mengguncang daerah NAD telah menimbulkan tsunami dan peremukan (ruptrure) sepanjang 1.300 kilometer di jalur patahan besar (megatrust) Samudra Indonesia-Australia.

Karena peremukan tersebut, lempeng bumi di jalur patahan tersebut akan terus mengalami pergeseran atau relaksasi untuk kembali menuju kondisi stabil.

Akibatnya, berbagai gempa terjadi di jalur itu, seperti gempa di Simelulue dan Nias tahun 2002, 2004 dan 2008 dengan kekuatan 7,2-7,4 SR.

“Berdasarkan jalur patahan yang dilaluinya, maka kemungkinan terjadinya gempa bumi di daerah Nias Selatan dan Kepulauan Mentawai masih sangat besar,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan, bahwa gempa bumi yang terus menerus mengguncang kawasan Bengkulu dan sekitar Sumatera Barat bukanlah proses pelepasan energi di daerah jalur patahan besar Samudra Indonesia-Australia. Sebab pusat gempa berada di jalur patahan Sumatera.

Gempa Bengkulu menurutnya terjadi karena segmen patahan di daerah itu berkarakteristik patahan pendek. Sehingga rentang waktu perulangan gempa huga sangat pendek yaitu berkisar enam tahunan.

“Ini hampir sama dengan karakter patahan Parkfield di California Amerika Serikat dimana siklus kegempaan terjadi antara 20-22 tahun dengan kekuatan 6 SR,” ujarnya.

Renun, Toru dan Angkola
Dia juga mengingatkan, peluang gempa juga masih terjadi di kawasan patahan Renun, Toru dan Angkola. Sebab sesuai dengan siklus kegempaan maka gempa terjadi tahun 1936 di patahan Renun dengan kekuatan 7,2 SR, Toru tahun 1984 dengan kekuatan 6,5 SR.

Menurutnya, bencana gempa bukanlah sesuatu yang bisa ditawar-tawar, mengingat kondisi geografis Indonesia yang sebagai besar berada di jalur patahan.

Maka upaya mitigasi merupakan salah satu upaya yang paling memungkinkan dilakukan Pemerintah Kabupaten dan Kota untuk meminimalisir dampak bencana terutama korban jiwa dan harta benda.

“Sudah saatnya pemerintah menyusun peta bahaya gempa dan peta risiko bencana gempa bumi guna mengurangi dampak bencana yang timbul akibat gempa bumi,” sebutnya. (sah) (Analisa, 03/03/08)

Facebook Comments