Bukan Hanya Derma

Thursday, February 28, 2008
By katitira

Berita soal susu formula yang ditengarai mengandung bakteri berbahaya layak menjadi momentum untuk merenungkan lagi soal corporate social responsibility (CSR). Hal ini terkait fenomena mutakhir bahwa perusahaan-perusahaan besar giat memberikan derma kepada masyarakat.

Kita ingat, pertengahan 2007 silam, meruyak polemik terkait UU Perseroan Terbatas: apakah CSR merupakan kewajiban atau bersifat sukarela. Pemerintah memeluk asumsi yang pertama, sementara sebagian besar perusahaan menunjuk pada pandangan kedua.

Ide dasar CSR sejatinya sederhana, yaitu kepedulian sosial perusahaan kepada masyarakat. Ide ini niscaya mulia dan seperti menepis anggapan umum bahwa perusahaan melulu peduli kepada pengejaran laba.

Pada kenyataannya, ide ini terutama diterjemahkan dalam bentuk aksi-aksi karitatif. Mereka menggelontorkan bantuan saat bencana menerjang sebuah kawasan, membangun infrastruktur di lingkungan sekitar, atau memberikan beasiswa kepada anak-anak tak mampu. Istilah community development mendadak kondang.

Itu semua baik, namun belum cukup. Belakangan, berkembang arus pemikiran baru bahwa CSR tak dimulai dan stop pada aksi-aksi karitatif. Pertama-tama, idealnya CSR diwujudkan dalam upaya mempertanggungjawabkan proses kerja, produk, serta dampak-dampak yang dimunculkan perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan. Bahwa ada praktik derma, itu menyusul saja.

Maka, produsen kertas, misalnya, tak cuma menyediakan beasiswa atau membangun sekolah di kawasan sekitar. Mereka memerhatikan kayu sebagai bahan baku. Jika ditengarai berasal dari pembalakan liar, mereka menolak menampungnya. Mereka juga memastikan bahwa limbah pabrik ditangani dengan baik dan tak menodai lingkungan.

Akan halnya produsen makanan dan minuman, konsep CSR pertama-tama diwujudkan dengan upaya menghasilkan produk sehat dan berkualitas. Produsen susu, secara spesifik, harus memastikan bahwa jualan mereka memang bermanfaat untuk tulang dan otak, bukan menimbulkan infeksi pada pencernaan hingga infeksi otak dalam jangka panjang—seperti ditengarai Tim Peneliti IPB itu.

Para pengelola perusahaan memang seyogyanya berhati-hati. Gerak dahsyat kapitalisme mutakhir memunculkan sejumlah reaksi negatif. Perusahaan sebagai aikon kapitalisme tak luput dari serangan gencar. Para penabuh genderang perang menilai, perusahaan identik dengan monster yang merusak dan rakus–dalam sejumlah kasus, tudingan ini sukar ditolak.

Konsep karitatif yang selama ini dikembangkan pun mengundang cibiran: CSR hanya ajang “cuci dosa.” Setelah mencederai lingkungan dan mengeksploitasi buruh, serta menjual produk sampah; perusahaan sebar uang. Jika perusahaan menghampiri CSR dengan pendekatan yang menghormati lingkungan dan buruh, serta selalu menjaga kualitas produk; semestinya anggapan tersebut pudar perlahan-lahan.

Di sisi konsumen, perusahaan-perusahaan yang beroperasi seenaknya jangan didekati. Hal ini akan “memaksa” mereka lebih mawas diri.

Yus Ariyanto
Koordinator Liputan6.com

Sumber:http://www.liputan6.com/producer/?id=50, OL tgl.28 Feb. 2008

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

February 2008
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829