Murni dari Hutan Bakau

Tuesday, February 26, 2008
By katitira

Oleh: SP/Ruht Semiono

Tulisan ini murni hasil penyusuran di wilayah utara Jakarta. Tepatnya pesisir Angke Kapuk, Kelurahan Kamal Muara, Jakarta Utara pekan lalu. Di sana ada Murni, wanita penuh semangat yang membudidayakan tanaman bakau. Nama lengkapnya Sri Murniwati Harahap.

Di sekitar pantai itu, tampak benar murni-tidaknya sikap manusia Indonesia. Dari Murni yang tidak kenal menyerah mengajak semua orang untuk menanam dan memelihara tanaman bakau, hingga orang yang memang tidak mempunyai kemurnian hati terhadap lingkungannya.

Maka yang terjadi adalah kisah yang sudah berulang-ulang menjadi pembicaraan di arena diskusi dan pemberitaan media massa. Kehancuran lingkungan. Lebih terperinci lagi, ambruknya pertahanan pantai Jakarta Utara dari gelombang air laut. Abrasi dan intrusi air laut adalah akibatnya. Hancurnya hutan bakau atau mangrove penyebabnya.

Jadi tragedi terputusnya jalur dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta di jalur tol Sedyatmo sebenarnya terkait dengan kemurnian hati semua orang untuk menjaga lingkungannya.

Dalam kaitan pantai utara Jakarta, salah satunya ialah memastikan bahwa hutan bakau memang terpelihara. Tanpa jaminan itu, jangan terlalu bermimpi Jakarta bebas dari ancaman banjir, abrasi dan intrusi air laut.

Dan di utara Jakarta, tepatnya di wilayah yang sekarang termasuk Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, soal ini terlihat jelas. Murni yang menjadi pengelola TWA beserta suami dan kawan- kawannya yang punya kepedulian pada lingkungan, dengan kemurnian hati mencoba menanam bakau.

Dengan penuh semangat mereka mengajak siapa pun untuk menanam bibit bakau bersama. Memelihara tanaman yang telah ditanam dan kemudian mencoba menjaga tanaman yang telah mereka tanam bersama.

Hasilnya, menyedihkan. Bukan berarti mereka gagal menanam. Sama sekali tidak. Murni yang sekarang menjadi pengelola Taman Wisata Alam Angke Kapuk seluas 99,82 hektare memang berhasil mengajak anak-anak sekolah dan orang yang mempunyai kecintaan pada lingkungan.

Juni 2007 ratusan anak-anak sekolah mau “berkotor ria” dengan bergembira-ria di TWA Angke Kapuk. Beberapa anak sekolah dasar dengan manja minta digendong anggota TNI saat mereka terjun ke dalam Lumpur laut.

Mereka yang bertubuh kecil itu memang kesulitan bergerak bebas di dalam lumpur saat menanam pohon bakau yang lebih tinggi dari tinggi badannya.

Tapi beberapa bulan kemudian hasil yang didapatkan bukan pohon bakau lebat dengan batang tegak berdiri. Yang ada adalah puluhan tanaman bakau yang mengering dan mati. Akar-akarnya telah tiada.

“Akar-akarnya telah dipotong. Pohon bakau dengan tinggi sekitar satu meter ya mati jika akarnya dipotong,” kata Bambang K Soesilo, suami Murni yang tidak kalah semangat dengan istrinya.

Bukan itu saja tragedi lingkungan hidup di bagian kecil di Indonesia itu. Masih di kawasan TWA Angke Kapuk, terlihat pohon bakau dengan tinggi sekitar dua meter terlihat terkulai. Batang-batangnya hilang. Sisa pembakaran batang induk terlihat jelas.


Merusak

Siapa pelakunya? Belum ada tersangka apalagi terdakwa atau terpidananya. Tapi yang pasti, merujuk teori sederhana, orang yang paling dirugikan oleh keberadaan hutan bakau, bisa jadi adalah pelakunya.

Seorang petugas Departemen Kehutanan yang ditemui SP di kawasan itu pun bercerita. Cerita tentang siapa yang paling dirugikan dengan keberadaan hutan bakau. Mereka adalah petambak liar. Kata liar harus digunakan karena petambak itu sejatinya melakukan penambakan di atas lahan yang sekarang termasuk TWA Angke Kapuk. Tanpa izin, itu berarti liar. Sudah mengeruk untung di atas lahan TWA Angke Kapuk, mereka pun merusak hutan bakau yang tengah dibudidayakan Murni dan kawan-kawannya.

Teknik paling sederhana untuk membunuh pohon bakau kecil sengat mudah. Terjun ke dalam kolam penanaman lalu memotong akar pohon. Tidak lama pohon itu akan mati. Pohon bakau yang sudah tinggi dan besar ditebang. Batang-batangnya diambil.

Aksi pembunuhan terhadap pohon bakau memang bisa dimengerti dari sisi petambak. Para petambak memerlukan sirkulasi air laut untuk kesehatan tambaknya. Banyaknya pohon bakau akan menghalangi lalu lintas air laut. Jadi, ada tabrakan kepentingan di wilayah tersebut.

Persoalannya, seperti yang dipaparkan di atas, salah satu persoalan besar di salah satu kawasan di Jakarta adalah ancaman gelombang air laut. Keberadaan hutan bakau adalah salah satu solusinya. Di tengah ancaman bahaya banjir dan segudang masalah dari arah laut, dan di tengah kerja keras Murni dan kawan-kawannya menanam pohon bakau, tindakan para petambak liar jelas tidak bisa dibiarkan. Tapi yang terjadi ialah, petugas hukum yang seharusnya bertindak seolah lupa pada tugasnya. “Saya capai melaporkan kasus ini. Mereka (polisi, Red) selalu mengatakan bahwa mereka tidak bisa berbuat banyak jika tidak menangkap basah para pelaku. Lalu siapa yang bisa menjamin bahwa pohon-pohon bakau itu akan tumbuh jika pembunuhan bakau terus berlangsung?” keluh Murni.

Belum ada tanggapan resmi dari aparat hukum atas keluhan ibu yang sudah lupa berapa biaya yang ia keluarkan untuk mengelola TWA Angke Kapuk.

Begitulah yang terjadi. Kerja anak-anak sekolah yang dengan riang menanam pohon bakau, semangat orang-orang yang mau menyisihkan waktu untuk ikut dalam gerakan menanam, dalam hitungan detik musnah.

Maka inisiatif banyak kalangan yang tanpa diminta sering memberikan sumbangan bibit pohon bakau kepada Murni seolah sia-sia. Jangan terlalu sering bertanya kepada Murni yang telah menjual tanah, rumah dan mobilnya hanya agar bisa menyaksikan tumbuh suburnya tanaman bakau di pantai Jakarta.

Semuanya menjadi tidak berarti karena masih banyak orang yang dengan tenang memotong akar pohon bakau kecil dan menebang pohon bakau yang sudah besar. Tanpa tindakan hukum apa pun dari penegak hukum. Kita tinggal menunggu waktu mendapat berita bahwa 1.000 pohon bakau yang ditanam relawan Palang Merah Indonesia akhir pekan lalu jika terkulai mati. Pohon-pohon bakau yang ditanam anak-anak sekolah lainnya juga mati dibunuh. Dan itu artinya, ancaman abrasi dan intrusi akan terus menghantui warga Jakarta dan sekitarnya. [SP/Aa Sudirman]

Sumber:http://www.suarapembaruan.com/News/2008/02/26/Utama/ut04.htm, on line tgl. 26 Feb. 2008

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

February 2008
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829