Petani Terima Rekayasa Genetika dengan Syarat

Monday, February 25, 2008
By katitira

JAKARTA—MI: Petani tidak akan menghambat upaya peningkatan produktivitas pertanian melalui rekayasa genetik (transgenik) selama produk tersebut aman pangan, aman lingkungan, dan menguntungkan bagi petani.

“Prinsipnya bagi kami tidak masalah, bahkan kami dukung upaya itu,” kata Sekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Rachmat Pambudy pada diskusi pakar bertema Keunggulan Bioteknologi dan Solusi Menuju Kemandirian Pangan di Jakarta, Selasa (29/1).

Dengan catatan, lanjut dia, produk transgenik itu harus hasil riset dan teknologi dari dalam negeri oleh ahli Indonesia sendiri, ditanam oleh para petani dalam negeri, dan demi kepentingan bangsa dan ketahanan pangan nasional.

“Jadi produk transgenik itu jangan sampai dikembangkan perusahaan multinasional yang datang ke Indonesia, menanam di tanah kita, lalu terjadi persaingan hasil pertanian mereka dengan petani kita, lalu mereka yang memenangkan pasar dan kita menjadi tergantung. Ini tidak benar,” katanya.

Ia mengatakan, sebenarnya Indonesia sudah kebanjiran dan dijadikan pasar produk pangan transgenik dari negara-negara maju misalnya kedelai, yang sudah menekan harga dan membuat petani dalam negeri beralih karena sulit bertahan.

Sementara itu Peneliti dari Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian Deptan, Dr Muhammad Herman mengakui,pihak swasta dari luar negeri sudah ada yang mengajukan penanaman benih hasil rekayasa genetika di Indonesia.

Hasil riset rekayasa genetika itu yakni kedelai TH (toleran herbisida), kapas Bt (toleran serangga pengerek batang), kapas TH, jagung TH dan jagung Bt oleh sejumlah perusahaan dan sudah dinyatakan aman sehingga mereka tinggal mengurus sejumlah izin lain.

Sedangkan riset tanaman rekayasa genetik di Indonesia, menurut Kapuslit Biotek LIPI Bambang Prasetya, sebenarnya sudah dilakukan, tetapi masih dalam taraf riset, belum dilepas dan belum siap untuk ditanam secara komersial.

Pihaknya, lanjut dia, masih ragu-ragu untuk secara intensif melakukan riset rekayasa genetika apa lagi sampai melepas hasil-hasil riset tersebut karena selain masih kontroversi juga belum didukung peraturan yang lengkap.

“Padahal jika Indonesia tidak ikut serta mengembangkan rekayasa genetika, Indonesia akan semakin tertinggal. Sementara pangan transgenik sudah membanjiri pasar Indonesia dan dikonsumsi sejak bertahun-tahun lalu tanpa masyarakat mengetahui apakah makanan yang dimakannya hasil transgenik atau bukan,” tambah Rachmat lagi.

Ia menegaskan lagi, rekayasa genetika mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian dengan mengurangi banyak komponen biaya produksi seperti pestisida, penggunaan air, ketahanan terhadap lahan kering dan asam dan lain-lain yang bisa menguntungkan petani. (Ant/OL-06)

Sumber:http://www.mediaindonesia.com/, on line tgl. 24 Feb. 2008 (DE)

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

February 2008
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829