Oleh Etis Nehe

Tapi, di benak saya, tidak ada keingintahuan yang lebih besar selain mencari tahu alasan dibalik pemilihan Nias sebagai bagian dari mata rantai penyebaran ‘virus’ filosofi pendidikan bernama ‘transforming lives through knowledge, faith and character’ tersebut. Seluruh jawaban akhirnya terungkap dalam sebuah rangkaian apik antara motivasi, integritas, komitmen dan tindakan nyata dalam paduan apik kerendahhatian dan ketulusan untuk berbagian membangun masyarakat Nias.

Motivasi itu, terukir indah pada prasasti peresmian sekolah itu. Selain prasasti peresmian SLH yang ditandangani Bupati Binahati B Baeha, juga ada prasasti lain dengan tulisan “SEKOLAH LENTERA HARAPAN — Bangunan Sekolah Ini di Komunitas Harapan Hari Esok Didanai oleh Masyarakat Singapura, Palang Merah Singapura, Tomorrow’s Hope, Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (Sekolah Lentera Harapan). Sekolah Lentera Harapan dibangun untuk generasi-generasi baru Nias (Lentera Harapan School has been built for the new generations of Nias).”

James menegaskan tujuan kehadirannya di Nias. Bukan untuk membantu, tetapi ambil bagian untuk membangun masa depan yang lebih baik di Pulau Nias. Pulau Nias adalah bagian dari kelompok besar daerah tertinggal di tengah kemajuan dunia yang sangat pesat. Lalu, mengapa pendidikan? Menurut dia, dan hal itu berlaku sama di semua tempat, memperbaiki keadaan dengan segala ketertinggalan tersebut harus dimulai dari pendidikan sebagai solusi tepatnya. “Tanpa pendidikan yang baik tidak mungkin masyarakat menjadi baik dan terbebas dari ketertinggalan,” jelas dia. (bacat: James T Riady: Pendidikan Solusi Mengatasi Ketertinggalan).

Sementara itu, Rektor UPH Yonathan Parapak mengatakan, tujuan kedatangan mereka ke Pulau Nias adalah agar bersama-sama berjanji memajukan anak-anak bangsa dari Pulau Nias melalui pemberdayaan semaksimal mungkin melalui pemaksimalan mutu pendidikannya. Menutur dia, modal utama Pulau Nias adalah manusianya (human capital). “Hal itulah yang harus diperhatikan bersama mengenai apa yang bisa dilakukan untuk mengangkatnya bagi kepentingan gereja, pelayanan bagi Tuhan dan bagi kehidupan di tengah-tengah masyarakat,” jelas dia.

Panti Asuhan

SLH tidak berdiri sendiri. Sekitar 600 meter ke arah selatan juga berdiri kokoh pusat pelatihan sekaligus panti asuhan yang didirikan oleh Yayasan Hari Harapan Hari Esok yang merupakan perwakilan dari Tomorrow’s Hope Singapura. Di tempat itu, anak-anak yang ditampung, dididik dengan tujuan akhir, mereka menjadi sosok yang berbeda yang mengubahkan keluarga, komunitas dan pada akhirnya Pulau Nias di masa depan.

Penjelasan Chairman of Tomorrow’w Hope Singapura Christian Michael saat rombongan berkunjung ke panti asuhan tersebut sangat menggembirakan hati sekaligus miris. Mereka sangat menyadari kondisi Nias yang sangat terbelakang dan perlu pertolongan ekstra. Dari tulisan yang terukir pada tugu di depan kompleks tersebut, diketahui bahwa pembangunan tempat yang diresmikan pada 24 November 2007 tersebut merupakan keroyokan antara rakyat Singapura, Palang Merah Singapura (Singapore Red Cross), Tomorrow’s Hope, dan International Organization of Migration (IOM).

Christian yang telah bertahun-tahun tinggal di Nias, jauh sebelum kejadian gempa, mengatakan, fokus penggunaan fasilitas tersebut adalah penyiapan generasi baru masyarakat Nias yang berpendidikan, berkarakter baik dan dapat diharapkan untuk membangun Nias ke depan. “Kami berharap dan terus berdoa agar dengan proyek Tomorrow’s Hope ini bisa membawa dunia ke Nias (bring the world into Nias Island) untuk menciptakan generasi baru yang dapat diharapkan,” papar dia.

Senta Leo, Direktur Yayasan Harapan Hari Esok (Tomorrow’s Hope-nya Indonesia, red) mengatakan, bangunan yang dilengkapi dengan lima gedung pelatihan dengan delapan jenis ketrampilan ini diharapkan bisa menampung sekitar 600 orang anak. Jumlah itu merepresentasikan sekitar 600 desa di Pulau Nias. “Dengan ini, setiap desa terwakili oleh seorang anak yang didik dengan baik, mengenal Tuhan dan menjadi pembaru di masyarakatnya, apapun profesinya nanti,” ujar Senta.

Menurut Senta, salah satu cara terbaik untuk menyelamatkan Nias dari masa depan yang suram adalah menyelamatkan generasi barunya. Dengan membina anak-anak tersebut, khususnya mereka yang yatim piatu, generasi baru dengan pemahaman dan kualitas yang baik akan dibangun. “Membangun masyarakat Nias, harus memulainya dengan fokus pada generasi termudanya, yaitu anak-anak,” tukas dia.

Mengapa harus generasi termuda? Dari penjelasan sejumlah orang yang saya temui, termasuk beberapa wartawan, ternyata Pulau Nias memiliki persoalan mendasar dengan sikap mental terkait masa depan. Persoalan itu merupakan perpaduan ‘sempurna’ antara ketertinggalan, kemiskinan, tradisi/adat yang dinilai berkontribusi ‘memiskinkan’, ketiadaan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas, keterisoliran secara geografis dan kurangnya perhatian pemerintah.

Mereka berbicara pengalaman yang sudah tidak terhitung banyaknya bertemu anak-anak yang tidak bersekolah karena dipaksa orangtuanya bekerja di ladang. Ada yang tidak sekolah karena orangtuanya benar-benar tidak mampu. Ada kasus anak-anak Nias ‘diselundupkan’ ke luar Pulau Nias bahkan diperdagangkan atau diadopsi tanpa kejelasan status. Juga banyak yang terpaksa ‘harus‘ diselamatkan dari keluarganya karena sistem keluarga yang tidak kondusif untuk perkembangan anak-anak itu. Ada anak yang hidup dengan orang tua yang miskin namun juga pemabuk sehingga tidak sedikit anak-anak yang mengalami perlakuan abusif, misalnya pemukulan.

“Pada umumnya mereka yang sudah dewasa, apalagi orangtuanya, banyak yang susah diajak bicara untuk memikirkan masa depan anaknya. Susah diubah. Bisa-bisa malah kita yang dipersalahkan. Kita bisa dimarahi atau diancam. Jadi, kalau tidak memulai dengan metode ‘potong generasi’, susah mendapatkan masa depan yang baik bagi Nias,” papar salah seorang yang peduli dengan Nias tersebut. Pengamatan saya pribadi membenarkan sebagian besar kesimpulan itu.

Menurut Christian, karena kondisi itulah, lembaga tersebut berkomitmen mendidik generasi baru Nias tanpa keterputusan dengan konteks Nias yang sesungguhnya. Mereka dididik dengan pemahaman yang baru namun tempatnya tetap di Pulau Nias. Karena pekerjaan ini merupakan pekerjaan besar, maka diharapkan, melalui lembaga itu, dunia tersentuh dan bergerak mengambil bagian untuk melakukan hal serupa, untuk membangun Nias yang baru.

Sejumlah Kesempatan

Demi Pulau dan masyarakat Nias yang lebih baik ke depan, YPPH telah ambil bagian melalui penyediaan fasilitas pendidikan SLH tersebut. Selain itu, dalam ramah tamah dengan Bupati dan jajaran Muspida serta dialog dengan para tokoh gereja, sejumlah komitmen telah diberikan. Baik James maupun Jonathan Parapak membuka kesempatan bagi generasi-generasi berkualitas asal Nias untuk dididik pada berbagai program di UPH. Kesempatan untuk upgrade kemampuan para dosen juga dibuka, yakni pada program paskasarjana UPH.

Khusus untuk mereka yang hendak dididik jadi guru dengan standar pendidikan setara dengan pendidikan guru di Australia, melalui Teacher College di UPH, tersedia kesempatan yang lebih besar dan lebih dekat kepada pemuda-pemudi Pulau Nias. Lebih besar dan lebih dekat karena, sesuai permintaan para tokoh gereja, khusus untuk masyarakat Nias, tes penyaringan dilakukan tersendiri dan langsung di Nias. Tidak lagi harus ke Medan dimana selain biayanya mahal, saingan banyak, juga banyak yang terlambat mengetahui informasinya.

Juga ada kesempatan belajar pada Akademi Pariwisata di UPH untuk mengembangkan pariwisata Pulau Nias. “Namun syaratnya, harus diingat, kualitas tidak bisa dikompromikan. Seberapa pun yang sanggup silahkan masuk. Tapi harus punya talenta (kemampuan), karakter yang baik dan juga keterbebanan,” tegas James.

Facebook Comments