Membangun Pulau Nias: Bukan Membantu, Tetapi Ambil Bagian (2)

Wednesday, February 20, 2008
By susuwongi

Oleh Etis Nehe

Kami jauh tertinggal dibanding daerah-daerah lain di Indonesia. Salah satu dari enam daerah tertinggal di Sumatera Utara. Kami baru merasakan jalan hotmix setelah 62 tahun merdeka. Hanya 3-4% anak-anak yang lulus SLTA yang dapat melanjut ke perguruan tinggi karena keterbatasan ekonomi keluarga. Itu artinya 96 % lulusan SLTA di Nias terpaksa menganggur.

Demikian salah satu paparan Bupati Nias Binahati B Baeha pada penyambutan rombongan Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan James T Riady di Pendopo Bupati, Lapangan Merdeka, Gunungsitoli, Senin (14/1). Beserta jajaran Muspida Kab Nias, Binahati menyambut rombongan dari Jakarta tersebut, yang akan meresmikan Sekolah Lentera Harapan (SLH) di Desa Afia, Kecamatan Gunungsitoli Utara keesokan harinya.

Pulau Nias yang terdiri atas sekitar 150 pulau besar dan kecil yang terbagi dalam dua kabupaten, yaitu Kabupaten Nias dengan 33 kecamatan dan Kabupaten Nias Selatan (hasil pemekaran). Berpenduduk sekitar 710 ribu jiwa, mayoritas berpencaharian sebagai petani dan telah berada dalam ketertinggalan yang sangat lama.

Salah satu indikatornya, jelas Binahati, pendapatan daerah pada 2001, saat belum pemekaran yang hanya sebesar Rp 1,7 miliar. Tidak heran bila sangat tertinggal dalam hal ekonomi, infrastruktur, sarana dan prasarana kesehatan, dan juga pendidikan. Sementara saat ini, ketika target pendapatan daerah mencapai Rp 16,5 miliar, namun, kebutuhan anggaran mencapai Rp 500 miliar.

Gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004 dan gempa tektonik pada 28 Maret 2005 dengan kekuatan 8,7 SR ikut memperburuk keadaan. Perbaikan yang ada saat ini adalah kontribusi masyarakat dunia melalui sejumlah non-govermental organizations (NGOs) dan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Nias (BRR-Nias). “Kejadian hampir tiga tahun lalu itu semacam blessing in disguise. Kita tidak mengharapkanm kejadian itu, tapi entah apakah akan ada perhatian pemerintah pusat sebesar ini bila hal itu tidak pernah terjadi,“ tukas dia.

Ambil Bagian

Di hadapan jajaran Muspida maupun para tokoh pendidikan dan pemimpin gereja, James mengungkapkan dan menegaskan hal yang paling penting dalam membangun Pulau Nias. Yaitu, sesuatu yang terkait dengan sikap mental, baik dalam memahami kondisi saat ini dan masa depan Pulau Nias, mau pun dalam memahami dengan tepat keterlibatan setiap orang Nias, termasuk para donatur pada pembangunan itu sendiri. “Tidak ada seorang pun yang datang ke sini, di Pulau Nias ini untuk membantu. Setiap orang harus menyadari hal itu. Kami hadir di sini, bukan untuk membantu, tetapi ambil bagian,” tegas dia.

Sementara itu, Rektor UPH Yonathan Parapak yang juga mantan Direktur Utama PT Indosat itu mengatakan, tujuan kehadiran mereka di Nias adalah agar semua bersama-sama berjanji memajukan anak-anak bangsa dari Pulau Nias, yang diberdayakan semaksimalnya melalui pemaksimalan mutu pendidikannya. Menurut pria Toraja yang beberapa kali mengunjungi Nias saat menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi tersebut, modal utama masyarakat Nias adalah human capital-nya. Modal itulah yang harus diperhatikan untuk diangkat agar menjadi berguna bagi pelayanan bagi Tuhan, gereja dan kehidupan di tengah-tengah masyarakat.

Ah, kalimat-kalimat itu begitu penting, dan, mengusik ketenangan klasik di area comfort zone saya. Entah para pendengar lainnya. Semoga. Tapi, intinya, pesannya sangat jelas, yaitu pentingnya perubahan paradigma dalam proses membangun Pulau Nias, baik terkait pembangunan itu sendiri maupun keterlibatan setiap orang di dalamnya. Donatur, pemerintah daerah dan, tentu saja, masyarakat Nias secara keseluruhan.

Itu patut menjadi perenungan. Tidak boleh seorang pun menjadikan kondisi masyarakat Nias saat ini sebagai ajang pamer kemampuan, bahkan sekalipun dibungkus oleh pesan-pesan simbolik tindakan sosial. Kondisi terpuruk saat ini, juga tidak boleh jadi kesempatan untuk menunggu –ekstrimnya, mengemis — bantuan orang lain tanpa berusaha terlibat, bahkan walau dengan kontribusi yang paling kecil sekalipun. Di sisi lain, kondisi itu juga tidak bisa menjadi kesempatan memberikan ‘kredit’ berlebihan kepada mereka yang dinilai telah berbuat sesuatu yang lebih bagi masyarakat Nias.

Daya Tahan

Sabam Siagian, mantan Duta Besar Indonesia di Australia yang juga wartawan dan redaktur senior harian Suara Pembaruan dan The Jakarta Post mengakui bahwa Pulau Nias adalah bagian tak terpisahkan dari kondisi dari daerah-daerah yang termarjinalkan. Marjinalitas yang identik dengan ketiadaan perhatian pemerintah. Tetapi, menurut dia, persoalan paling penting saat ini adalah, bukan kondisi ketertinggalan itu sendiri. “Tetapi bagaimana bagaimana menarik saudara-saudara kita yang berada di daerah termarjinalkan itu,” kata dia dalam dialog tersebut.

Peran gereja, menurut dia, sangat vital untuk mengatasi ketertinggalan itu. Tanpa kesepakatan (kesehatian) antara lembaga gereja, perubahan akan susah diwujudkan. Dengan kesehatian itu, daya tahan masyarakat Nias dapat disiapkan. “Ada banyak bantuan, namun pada akhirnya paling penting adalah daya tahan masyarakat Nias sendiri,” jelas dia.

Memang benar, sejauh yang bisa dipantau sepanjang jalan, dari Kabupaten Nias hingga Kabupaten Nias selatan, dimana-mana terlihat hasil pekerjaan yang untuk saat ini terasa ‘melegakan.’ Tetapi sebenarnya, di sepanjang pengamatan itu juga membaur siluet kekuatiran pada masa yang akan datang. Setidaknya, setelah BRR-Nias purna tugas.

Memang telah ada berbagai upaya, mungkin dengan ‘memanfaatkan secara positif’ kehadiran BRR-Nias tersebut untuk memantapkan sejumlah target pencapaian pembanguan infrastruktur. Tetapi, siiluet yang bercerita mengenai ‘seperti apa kehidupan di Pulau Nias setelah ini’ tersebut sangat menggelisahkan. Setidaknya, hal itu tersirat jelas dari pemaparan Binahati yang terus berharap atas perhatian pihak luar. Berharap mereka tidak berpaling dari Nias yang masih sangat membutuhkan uluran tangan. Tegasnya, kondisi masyarakat maupuan pemerintah di Pulau Nias masih jauh dari bisa ‘berdiri di atas kaki sendiri.’

Tentu saja, hal itu tidak semuanya negatif. Sebab, memang harus diakui, selain keterbatasan anggaran, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) begitu nyata di depan mata, pada seluruh sektor kehidupan. Siapapun, tidak akan sanggup membenahi semuanya sendirian. Karena itu butuh dukungan dan kerjasama dari pihak-pihak lain yang memang lebih mampu, berpengalaman dan profesional. Bahkan, hal itu harus secara sengaja dan proaktif dilakukan. Menunggu, pada kondisi seperti ini, adalah tindakan bunuh diri.

Setali tiga uang dengan Sabam, James mengatakan, kondisi buruk saat ini harus dihadapi bersama dengan kepercayaan diri untuk bangkit bersama-sama melalui keterlibatan yang positif yang memungkinkan semuanya berlangsung berkesinambungan dan tepat sasaran. Tidak mungkin bangkit dari keterpurukan bila hanya melihat pada kondisi negatif yang ada, kata James. “Dahulu banyak daerah miskin di Cina yang bahkan banyak orang tidak tahu nama dan letaknya dimana. Tetapi, mereka sepakat untuk maju dan tidak mengulang-ulang memikirkan seluruh kondisi negatif mereka. Mereka tidak kalah tetapi meneguhkan hati untuk bangkit. Akhirnya, hasilnya, seperti Cina yang saat ini kita saksikan. Maju luar biasa,”papar dia.

Pada akhir sambutannya, sekali lagi dia menegaskan, membangun Pulau Nias adalah tugas bersama. Semua harus bergandeng tangan. “Tidak ada yang datang ke sini untuk membantu. Tetapi, ambil bagian,” tegas dia.

Ah, kalimat itu sangat mengganggu dan mengusik kenyamananku. Apakah Anda merasakan hal yang sama? Semoga.

14 Responses to “Membangun Pulau Nias: Bukan Membantu, Tetapi Ambil Bagian (2)”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. 11
    D3D1_Waruwu Says:

    Setuju,
    Tidak perlu banyak komentar yang penting eksennya. Terima kasih buat redaksi, karena telah mau memuat komentar dari beliau-beliau diatas termasuk aku.

    Kita berharap niasonline ini dapat bermanfa’at sebagai media sharing dan diskusi yang didalamnya ada pro dan kontra. Dan redaksi juga tidak hanya memuat komentar-komentar yang bagus-bagus tapi selalu menghargai dan memberi kesempatan kepada siapapun untuk berkomentar meskipun ada kelemahan dan kekurangan atau malah tidak terarah.

    Solusi yang terpenting bukan komentar. Tapi bagaimana ada sosusi kalau tidak ada komentar. Tapi aku sarankan baiknya komentar-komentar yang mengarah keprovokasi jangan dimuat. Bila perlu submit commentnya tidak usah dimuat.

    Thank’s

  2. 12
    Amandaya Says:

    Saya dapat memahami kehhawatiran oleh El A. Delaw dengan memakai istilah “lintah” terkait dengan artikel ini. Bagaimana tidak ada kehwatiran seperti itu, Ono Niha sendiri yang menjabat di Nias lebih mengutamakan tujuan untuk kepentingan sendiri, keluarga, dan kelompok dari membangun untuk kepentingan rakyat keseluruhan. Dan tidak segan-segan memeras rakyat untuk itu, Contoh : penerimaan pegawai, pengurusan surat-surat, dan seterus dan seterusnya. Pada hal sebelum menduduki jabatan itu selalu berteriak untuk kepentingan rakyat Tano Niha. Lihat juga BRR yang sebentar lagi habis masa kerjanya, para pemborong dan juga beberapa pejabat-pejabatnya.
    lebih mengutamakan korupsinya dari menyelesaiakan tugasnya dengan baik dan terpuji.

    Anggaplah istilah “lintah” itu merupakan peringatan bagi masyarakat Nias agar :
    1. Jangan lebih senang menerima dari memberi. Catatan : Terus terang salah satu sifat yang peru kita berantas dalam masyarakat kita,
    2. Berjuang dan bertekad membangun Nias dengan mengutamakan atas kekuatan sendiri alias percaya diri (PD). Percayalah : “bukan ilusi” Nias akan bisa bergandengan tangan dengan daerah-daerah lain yang lebih maju dalam tempo 10 tahun yang akan datang. Dan apabila masyarakat Ono Niha lebih cepat menyadari dirinya, maka dapat lebih cepat. SADAR, SADAR, DAN SADAR . NASIBMU DITANGANMU SENDIRI.

    Pengalaman saya : memang para pengusaha tidak pernah membantu tanpa “harapan uangnya akan bertambah”. OK-lah itu. Yang perlu dijaga oleh “yang sadar” jangan sampai si pengusaha menjadi “lintah”.

    Ya’ahowu

  3. 13
    Tumaro G. Says:

    Saya juga sempat simpatik dengan pendapat Bung Amandaya di atas. Kita tidak boleh percaya begitu saja dengan apa-apa yang dianggap sebagai “uluran tangan yang tulus tanpa pamrih” dari luar.

    Namun setelah membaca kembali berulang-ulang tulisan EL. A. DELAW, simpati saya kepada komentar Amandaya menjadi hambar. Terus terang selama ini, kalau ada waktu, saya selalu menyimak berbagai komentar di situs ini. Dan saya melihat komentar Bung Amandaya yang selalu memukau, membuat kita bertambah arif, mendewasakan dan mematangkan kita.

    Komentar Bung Amdandaya kali ini agaknya ‘terpeleset’, dan karenanya kurang arif. Alasannya, Bung Amandaya seakan tidak dapat membedakan ‘kekuatiran’ dengan sikap ‘antipati’ yang jelas-jelas termuat dalam komentar EL. A. DELAW.

    Ketika EL. A. DELAW menulis “Dasar Lintah?!” atau “Terlalu berharap kepada LINTAH membuat kita bodoh dan malas” masihkah pantas kita menggolongkan pernyataan itu sebagai sebuah ‘kekuatiran’ ? Bukankah itu lebih merupakan sebuah vonis yang lahir dari sikap antipati ?

    Saya kuatir, ‘kekuatiran’ Bung Amandaya (atau pemahaman Bung Amandaya atas kekuatiran EL. A. DELAW) kali ini kurang pas 🙁

    Tumaro G.

  4. 14
    Amandaya Says:

    Saya berusaha melihat apa “ada” nya.

    Saya berusaha melihat kekuatairan El. A. Delaw seperti apa adanya. Tidak menilai.

    Yang penting bagi Ono Niha, “sadar” kenyataan sebagaimana “ada” nya.

    Kalau “sadar” berarti mengenal “diri” sendiri. Dengan sadar diri, maka berpikir dan bertindak positif menghadapi tantangan dan hambatan dan terhindar dari cara-cara tidak terpuji misalnya : atas dasar “antipati” (istilah Bung Tumaro G. )

    Saohagolo

Pages: « 1 [2] Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

February 2008
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829