Oleh Amanda Putri Witdarmono

Sejak Orde Baru, sistem pendidikan di Indonesia amat menekankan pencepatan kenaikan tingkat melek aksara (literacy). Bila jumlah penduduk yang mampu membaca dan menulis bertambah, mutu sumber daya manusia juga akan meningkat. Melalui peningkatan ini, Indonesia akan lebih siap bersaing di kancah dunia.Kini, melek aksara saja tidak cukup. Demi kemajuan dan perkembangan manusia, definisi teknis literacy sudah diubah. Muncul beberapa pengertian baru, seperti music literacy (kemampuan memahami musik), media literacy (kemampuan memahami media), dan beragam literacy lainnya.

Di banyak negara, kesadaran dan pemahaman tentang berbagai jenis literacy menjadi modal untuk meningkatkan standar mutu pendidikan. Siswa tidak cukup hanya dituntut mampu membaca dan menulis. Mereka harus mampu memahami apa yang mereka baca dan tulis.

Ini terlihat sederhana, tetapi kemampuan untuk memahami memerlukan keterampilan kognitif dan keterampilan praktis yang kompleks.

Di sinilah pemahaman literacy ditingkatkan, dari sekadar melek abjad (alphabet literacy) menjadi melek situasi (situation literacy), atau mampu memahami situasi.

”Situation literacy”

Pengertian situation literacy muncul karena dalam tiap peristiwa selalu ada berbagai faktor, yang menjadi bahan pertimbangan untuk bersikap.

Misalnya, dalam isu pemanasan global, orang dapat bersikap prihatin terhadap dunia yang kian panas, atau sebaliknya, bersikap sinis. Perbedaan sikap itu amat ditentukan keluasan pengetahuan dan minat seseorang terhadap isu pemanasan global. Orang bersikap prihatin karena baginya, isu paling penting adalah nasib generasi mendatang. Sebaliknya, orang bersikap sinis karena baginya mengurangi pemanasan global adalah memangkas keuntungan komersial.

Situation literacy memiliki beragam aspek. Pertama, orang harus memahami apa yang sedang terjadi. Misalnya, saat seorang guru menghadapi seorang siswa yang terlambat, guru itu harus sadar dan memahami, siswa itu melanggar peraturan sekolah. Guru itu harus bisa mengidentifikasi faktor-faktor penting apa saja yang ada dalam peristiwa itu. Hasil identifikasi ini tergantung dari isu yang menjadi minat dan perhatian guru. Dalam kasus ini, isu yang menjadi perhatian guru adalah tanggung jawab siswa terhadap keterlambatannya, bukan hukuman yang pantas diberikan.

Langkah berikut, bagaimana mengambil keputusan atas peristiwa itu berdasar identifikasi guru tentang tanggung jawab siswa terhadap keterlambatannya. Katakanlah, siswa itu berasal dari keluarga kurang mampu, dan guru tahu, tiap malam siswa itu harus menjaga warung keluarga. Dengan pertimbangan bahwa siswa itu harus menyeimbangkan kegiatan sekolah, kehidupan sosial, dan keharusan bekerja, guru dapat menyimpulkan, siswa mungkin amat letih. Jika ia terlambat bangun, itu bukan kesalahannya secara menyeluruh. Berdasar kesimpulan itu, guru mengizinkan si siswa untuk mengikuti pelajaran. Keputusan guru terhadap muridnya yang terlambat merupakan gambaran praktik situation literacy.

Manfaat

Situation literacy itu penting karena melibatkan dan mengembangkan pemikiran kritis. Situation literacy memengaruhi cara orang menimbang dan memutuskan. Hasilnya berpengaruh langsung pada realitas sehari-hari. Yang lebih penting adalah pengaruh jangka panjang yang terkait kemajuan orang itu sendiri.

Situation literacy membuka perspektif seseorang terhadap sebuah keadaan dari sudut positif maupun negatif. Keputusan yang diambil atas dasar perspektif itu hampir selalu memberi manfaat khusus bagi orang bersangkutan. Di sinilah pentingnya kemampuan untuk melihat berbagai faktor atau sudut pandang yang ada pada setiap situasi.

Orang yang terbiasa menanggapi sebuah keadaan dengan positif dan efektif akan menimba kecerdasan praktis, yang mungkin bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Susastra

Latihan terbaik untuk mengembangkan situation literacy adalah melalui susastra, yang memuat berbagai narasi, persoalan, dan masalah. Aneka isi susastra itu merupakan situasi fiksi, di mana orang belajar mengambil sikap dan membuat keputusan.

Di sekolah, latihan untuk mencapai situation literacy dapat dilakukan melalui bimbingan guru saat ”memoles” siswa terampil membaca dan memahami bacaan. Siswa dapat didorong untuk selalu berpikir kritis dengan latihan menganalisis lima W (who, what, where, when, why) dan satu H (how) pada bacaan. Mereka juga dapat diajak bertukar pendapat tentang situasi fiksi susastra yang sedang dipelajari.

Saat dilakukan praktik situation literacy pada susastra, otomatis keterampilan siswa membuat keputusan positif dan efektif tentang situasi di dunia nyata juga diasah. Sikap kritis atas situasi nyata juga dikembangkan.

Dalam kerangka ini, membaca susastra menjadi hal yang amat bermanfaat. Selain memberi banyak pengetahuan, susastra juga memberi ”panggung” untuk praktik literacy, pemahaman praktis, dan pemikiran kritis.

Bangsa yang maju adalah bangsa yang terbiasa berpikir kritis.

Amanda Putri Witdarmono Mahasiswi Jurusan Elementary Education pada School of Education, Boston University, AS

Sumber: http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.08.03073542&channel=2&mn=11&idx=11

Facebook Comments