*Akademisi yang Bergelar Doktor Sibuk dengan Jabatannya

BANDUNG, (PR).-Hanya lima peneliti asal Indonesia memiliki publikasi internasional yang lebih dari 40 karya penelitian pada 2007. Padahal, jumlah publikasi penelitian dalam jurnal internasional adalah salah satu indikator daya saing bangsa Indonesia.

Hal ini terungkap dalam seminar nasional kimia 2008 bertajuk “Sinergitas Kimia dan Pendidikan Kimia Dalam Upaya Meningkatkan Daya Saing Bangsa,” di auditorium FP-MIPA UPI Jln. Setiabudhi No. 229 Bandung, Sabtu (2/2).

Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, jumlah publikasi Indonesia sangat sedikit. Data LIPI menyebutkan, pada 2004 publikasi ilmiah di Indonesia hanya 371, sedangkan Malaysia menghasilkan 700 publikasi ilmiah, Thailand 2.125, dan Singapura 3.086. Sementara itu, dari jumlah penelitian yang dipatenkan di Amerika pada 2006, Indonesia dengan angka 43 berada di bawah Malaysia, Thailand, dan Filipina, yang masing-masing mematenkan 694, 164, dan 145 publikasi ilmiah.

Pakar kimia dan pendidikan kimia, Prof. H. Effendy, Ph.D. yang hadir sebagai pembicara sesi pertama mengatakan, penyebab Indonesia miskin publikasi internasional adalah akademisinya, terutama yang bergelar doktor, sibuk dengan jabatan. Pada banyak kasus, mereka memilih untuk memburu dana hibah serta menjadi konsultan dan asesor. “Dana hibah memang perlu, tetapi tetap harus ada kesadaran bahwa semua dosen perlu waktu untuk penelitian,” tuturnya.

Menurut Effendy, seharusnya publikasi ilmiah internasional menjadi syarat yang harus dipenuhi setiap doktor yang akan diangkat menjadi guru besar. “Etos kerja yang rendah dan kurangnya insentif untuk para akademisi yang meneliti juga jadi masalah,” ujarnya menambahkan.

Hal yang sama dipaparkan oleh pembicara sesi kedua, Direktur Pusat Penelitian Kimia LIPI, L. Broto S. Kardono, Ph.D. Dia mengatakan, rasio anggaran litbang nasional terhadap produk domestik bruto (PDB) semakin turun. Broto mengambil contoh perbandingan rasio anggaran pada 1969 sebesar 0,19 persen, lalu pada 1982 sebesar 0,5 persen. Padahal, di negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Norwegia, Jepang, dan Korea Selatan, anggaran litbang nasional mereka terus meningkat. “Soalnya, anggaran itu berpengaruh pada kemajuan industri manufaktur suatu bangsa walaupun hasilnya baru dirasakan bertahun-tahun kemudian,” tutur Broto menjelaskan.

Kenyataan ini tidak sejalan dengan visi Indonesia yang menyebutkan bahwa pada 2025, iptek digunakan sebagai kekuatan utama untuk kesejahteraan rakyat yang berkelanjutan, dan peradaban bangsa.

Selain miskin publikasi ilmiah internasional, Indonesia juga kekurangan penulis buku kimia. Effendy mengungkapkan, pekerjaan menulis memang membutuhkan komitmen yang tinggi seperti waktu dan konsentrasi. “Referensi untuk menulis juga mahal loh! Buku luar negeri itu, rata-rata harganya Rp 1 juta. Belum lagi jurnal yang tidak gratis. Kalau mau ambil dari internet, biaya download 20 dolar AS per artikel,” ujarnya.

Lebih jauh Effendy menyatakan keprihatinannya terhadap buku-buku kimia karya penulis Indonesia yang sudah tidak up-to-date. Banyak buku yang menurut dia masih mengandung teori-teori yang sesungguhnya sudah dianulir atau berkembang lebih jauh. Akibatnya, pengetahuan yang diserap oleh anak didik adalah pengetahuan yang salah. Untuk mengatasi masalah ini, Effendy mengaku saling mengingatkan di antara sesama penulis buku. “Selain itu, pemerintah juga sudah menerapkan aturan yang ketat untuk setiap buku pelajaran. Sebelum terbit, buku harus ditelaah oleh pakar yang kompeten, lalu direvisi kalau ada salah, baru diberi sertifikat oleh Diknas bahwa buku itu sudah layak terbit,” ucapnya. (CA-180)***

Sumber: Pikiran Rakyat (5 Pebruari 2008)

Facebook Comments