Harapan Barack Obama untuk menjadi orang kulit hitam pertama yang menjadi presiden Amerika makin besar setelah keluarga Kennedy menyatakan secara resmi dukungan mereka kepadanya. Senator Edward (Ted) Kennedy, Caroline dan Patrick Kennedy secara terbuka memberikan dukungan kepada Obama dalam suatu pertemuan untuk mendukung Obama di American University, Washington, Selasa 28 Januari 2008.

Caroline Kennedy dalam pengantar singkatnya menjelaskan bahwa Obama “sedang mengilhami seluruh rakyat Amerika, muda dan tua, untuk percaya pada diri sendiri, dan mengaitkan keyakinan itu dengan idea-idea tertinggi – idealisme pengharapan, keadilan, kesempatan dan perdamaian – dan mendesak kita untuk membayangkan bahwa karya-karya agung dapat kita realisasikan secara bersama-sama.”

“Saya merasakan perubahan,” kata Ted Kennedy.

“Sekali waktu dulu ada seorang kandidat muda yang mencalonkan diri jadi presiden, menantang rakyat Amerika untuk melewati garis batas. Dia mendapat kecaman dari presiden Demokrat sebelumnya,” Kennedy membuka pidato dukungannya kepada Obama.

“Presiden tersebut, Harry Truman, meminta kesabaran. Dan John Kennedy menjawab: ‘Dunia sedang berubah. Cara-cara lama tidak menyelesaikan persoalan. Sekaranglah waktunya bagi kepemimpinan generasi baru.’ Demikian juga Barack Obama.”, tandas Kennedy.

“Barack Obama akan menjadi seorang presiden yang menolak terperangkap dalam pola-pola lama,” kata Kennedy. “Dia adalah pemimpin yang memandang dunia dengan jernih tanpa sinis. Dia seorang pejuang yang memahami betul dasar keyakinannya tanpa memusuhi pihak-pihak yang berbeda pendapat dengannya”.

Dukungan keluarga Kennedy kepada Obama merupakan pukulan besar bagi kubu Hillary Clinton yang dalam beberapa hari terakhir terperangkap dalam kampanye negatif.

Pada awalnya Senator Kennedy bersikap netral, hal yang sangat logis karena dia adalah sahabat lama pasangan Clinton dan juga lumayan dekat dengan Obama. Perubahan sikap Ted Kennedy terjadi karena dua hal. Pertama, setelah kaukus di Iowa di mana Obama unggul atas John Edwards, dia melihat bahwa Obama memiliki kemampuan menarik simpati orang-orang kulit putih. Kedua, ia juga marah melihat tim kampanye Clinton yang menyerang kubu Obama secara negatif melalui isu ras. Keluhannya dia sampaikan langsung kepada Bill Clinton lewat telefon.

Kamarahan itu muncul lewat pidato di American University kemarin.
“Kita akan menutup halaman politik gaya lama, politik kepalsuan dan distorsi,” teriak Kennedy. “Dengan Obama kita menutup buku tentang politik lama ras melawan ras, jender melawan jender.”

Kebanyakan audiens dalam pertemuan itu belum lahir ketika John F. Kennedy memimpin Amerika dalam waktu yang sangat singkat, tetapi ada juga sejumlah kecil yang memiliki koneksi dengan Kennedy secara personal.

“Sejak awal kampanyenya kami telah merasa bahwa dia mirip John F. Kennedy yang bisa mengilhami generasi muda untuk datang ke Washington, sebagaimana John mengilhami kami,” kata Barbara Franklin, 69, pensiunan pengacara perburuhan yang pindah ke Washington pada tahun 1961 pada awal-awal meletusnya idealisme. (fox/gu*)

Facebook Comments