Puluhan ribu orang memenuhi jalan-jalan kota Solo ketika jenazah mantan Presiden Suharto tiba untuk upacara pemakaman kenegaraan. Suharto, yang turun dari kekuasaan pada tahun 1998, meninggal di rumah sakit hari Minggu kemarin (27 Januari 2008) pada usia 86 tahun setelah menderita dari kegagalan fungsi berbagai organ tubuh.

Suharto meninggalkan warisan kontroversial bagi Indonesia. Bagi sebagian kalangan, Suharto adalah seorang visioner yang membawa modernisasi bagi Indonesia. Bagi kalangan lain, beliau adalah seorang diktator korup yang membawa banyak derita bagi rakyatnya melalui pemerintahan tangan besi selama lebih dari 30 tahun.

Jenazah Suharto tiba di Solo Senin pagi untuk pemakaman di kompleks pemakaman keluarganya di Astana Giribangun, 35 km sebelah tenggara kota Solo.

Puluhan ribu orang memenuhi jalan-jalan kota Solo menunggu pemakaman mantan Presiden yang juga dikenal dengan julukan “Bapak Pembangunan” tersebut. Sebagian melambaikan tangan, yang lain melemparkan bunga.

Sebagaimana diberitakan TVRI pada acara siaran pagi tadi, keamanan di Giribangun sangat ketat, puluhan anggota polisi dan tentara berjaga-jaga di dekat tenda-tenda biru dan putih yang didirikan untuk menampung para pejabat dan tokoh-tokoh masyarakat yang akan hadir pada upacara pemakaman.

Antara melaporkan dua ton bunga jasmin dan 100 kg mawar merah telah disiapkan untuk upacara pemakaman tersebut.

Sebelumnya di Jakarta, sekitar 400 anggota TNI dan Polri berjaga-jaga di jalan-jalan dekat rumah Suharto ketika peti jenazahnya yang dibungkus dengan bendera merah putih dipersiapkan untuk diterbangkan ke Solo.

Masuknya Suharto ke rumah sakit awal bulan ini memicu perdebatan nasional tentang ‘warisan’ Suharto. Sejumlah kalangan berpendapat kesalahannya sebaiknya dimaafkan sementara pihak lain mendesak agar kasus-kasus Suharto tetap diselesaikan lewat jalur pengadilan.

Suharto naik ke panggung kekuasaan setelah beliau memimpin operasi militer pada tahun 1965 untuk menumpas apa yang disebut usaha kuteda komunis yang berlangsung pada tanggal 30 September 1965 yang dekenal dengan Gerakan 30 September (G30S). Dalam beberapa bulan setelah peristiwa itu, sekitar 500 ribu orang meninggal dalam gerakan penumpasan orang-orang yang dicurigai sebagai komunis. (*)

Facebook Comments