Oleh Dwi Andreas Santosa

Kenaikan harga komoditas pangan yang terjadi di dunia merupakan gabungan dari tiga faktor yang saling memperkuat, yaitu kenaikan harga minyak bumi yang meningkatkan biaya produksi, perubahan iklim global, dan konversi komoditas pangan ke bahan bakar nabati atau BBN.Perubahan iklim menyebabkan sebagian gandum di Argentina mengalami kerusakan akibat musim dingin yang hebat. Di sisi lain gandum di Australia mengalami kekeringan yang parah menurunkan produksi hingga lima juta metrik ton tahun 2007.

Tahun 2008 ini produksi gandum dunia diperkirakan akan menurun karena sebagian petani gandum beralih menanam kedelai dan jagung yang dinilai lebih menguntungkan.

Konversi

Jagung juga setali tiga uang. Amerika Serikat (AS), salah satu produsen jagung dan pangan transgenik terbesar di dunia, meningkatkan areal tanam jagung pada tahun 2007. Peningkatan areal itu ternyata tidak diikuti peningkatan produksi dan kemampuan pasokan karena hasil per hektarnya menurun. Stok jagung dunia dan harga langsung terpengaruh karena di saat bersamaan kebutuhan jagung untuk pakan dan konversi ke BBN di AS meningkat tajam.

Kondisi kedelai lebih parah lagi. Jumlah luas tanam dan panen kedelai di AS tahun 2007 menurun yang menyebabkan produksi total ikut menurun. Pada akhir tahun pemasaran di musim panas tahun 2008, kelangkaan kedelai akan terjadi karena stok tersisa hanya untuk 21 hari. Negara produsen kedelai utama lainnya mengalami nasib sama. Jumlah hujan yang kurang dari normal pada tahun 2007 telah menurunkan produksi kedelai di Amerika Latin, terutama Argentina dan Brasil. Panen kedelai dunia diperkirakan akan turun 6,5 persen di tahun 2008.

Harga jagung akan mencapai rekor tertinggi dalam 11 tahun terakhir, kedelai dalam 35 tahun terakhir, dan gandum sepanjang sejarah di tahun 2008. Hanya dalam tempo kurang dari empat tahun, harga gandum telah meningkat hampir 300 persen. Stok global gandum mencapai titik terendah selama 26 tahun.

Akibatnya, negara seperti Indonesia yang tidak memiliki kedaulatan atas pangan akan menerima dampak paling parah.

Langkah Indonesia

Kedaulatan pangan tercapai bila kita tidak lagi didikte oleh fluktuasi produksi dan harga pangan internasional, tidak tergantung benih (transgenik, hibrida, dan benih unggul) yang sebagian besar dikuasai perusahaan multinasional, petani berdaulat atas tanah dan produknya terlindungi serta tidak membiarkannya berjuang sendirian di kancah persaingan global.

Hal penting lainnya adalah ”tidak peka tanda alam”. Kursi-kursi pada konferensi perubahan iklim dunia di Bali masih hangat saat banjir dan longsor melanda sebagian Jawa Tengah dan Jawa Timur dalam skala yang belum pernah terjadi selama 40 tahun terakhir. Lalu dinyatakan, itu tidak akan memengaruhi ketahanan pangan kita di tahun ini.

Kelompok yang paling parah menerima dampak perubahan iklim global adalah petani kecil atau petani subsisten di negara berkembang (Morton, 2007). Kepekaan mereka yang tinggi terhadap perubahan iklim disebabkan sebagian besar dari mereka hidup di wilayah tropis dan berbagai kecenderungan sosio-ekonomi, demografi dan kebijakan pemerintah membatasi kemampuan mereka untuk beradaptasi.

Perubahan hidrologis

Perubahan hidrologis akan memengaruhi seluruh proses dalam tanah ke arah negatif. Erosi tanah akan meningkat di seluruh dunia. Menurunnya daya dukung tanah akan berdampak langsung ke produksi pangan. Banjir dan kekeringan ekstrem akan lebih sering terjadi (Schmidhuber dan Tubiello, 2007) yang mengancam pasokan pangan global. Produksi biji-bijian, terutama jagung, di negara tropis akan mendapat dampak terbesar dan diperkirakan menurun hingga 10 persen tahun 2055.

Untuk Indonesia, musim hujan yang diawali dengan curah hujan di atas normal merupakan tanda alam yang patut diwaspadai karena musim hujan kemungkinan lebih pendek dan kemarau lebih panjang. Memasang target peningkatan produksi (padi lima persen, kedelai 20 persen, dan jagung 20 persen) tanpa meninjau ulang berbagai aspek terkait kedaulatan pangan dan adaptasi terhadap perubahan iklim akan menjadi retorika belaka.

Dwi Andreas Santosa Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB

Sumber: http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.01.24.03234292&channel=2&mn=11&idx=11

Facebook Comments