NIAS – Peralatan navigasi untuk pemanduan lalu lintas udara (air traffic control) di Bandara Binaka, Kabupaten Nias sudah sekitar dua tahun tidak berfungsi. Akibatnya, pemanduan pesawat di bandara di daerah yang masuk kategori rawan bencana atau gempa tersebut dilakukan secara visual dan hanya mengandalkan komunikasi radio.

“Bandara ini hanya memiliki peralatan VHF Omnidirectional range (VOR) dan distance measure equipment (DME) yang telah berumur sekitar 10 tahun. Kedua alat itu sudah tidak berfungsi sejak gempa pada 2005. Namun, sebelumnya juga sudah sering mengalami kerusakan. Peralatan non-directional beacon (NDB) juga rusak,” ujar Pemandu Lalu lintas udara Bandara Binaka Selamat Duha kepada Investor Daily di Bandara Binaka, Kabupaten Nias, Minggu (17/01).

Dia mengatakan, masalah kerusakan peralatan tersebut telah dilaporkan kepada pemerintah tapi sampai saat ini belum mendapat respons. “Jadi, kami hanya memandu secara visual dan juga melalui radio VHF dan SSB untuk berkomunikasi dengan pesawat. Tapi, pada umumnya, para pilot sudah mengetahui masalah tersebut karena telah dimasukkan dalam notice to airman (NOTAM),” kata dia.

Selamat menjelaskan, peralatan VOR itu berfungsi sebagai pemberi petunjuk kepada pilot mengenai posisi bandara. DME berfungsi memberikan informasi mengenai jarak antara pesawat dan bandara. NDB merupakan alat pemberi petunjuk mengenai jalur penerbangan (airways) dan posisi bandara yang dilintasi melalui sistem sinyal.

Selamat juga mengeluhkan jumlah petugas ATC yang sampai saat ini cuma satu orang dari idealnya tiga sampai empat orang. Selama ini, jelas dia, pengadaan petugas ATC tersebut tergantung penempatan dari pusat (Dephub, red). “Kami berharap, lebih baik memanfaatkan atau mendidik petugas dari Pulau Nias melalui penerimaan pegawai secara lokal bila kesulitan bagi petugas yang berasal dari daerah lain,” harap Selamat yang merupakan petugas ATC satu-satunya di bandara kelas 3B tersebut.

Masalah lainnya adalah kekurangan daya listrik yang secara umum terjadi di Pulau Nias. Beberapa peralatan di bandara tersebut akhirnya tidak dapat difungsikan dengan baik. Selain itu, fasilitas pengecekan barang (semacam X-Ray, red) juga rusak. Menurut salah satu petugas di bandara tersebut, fasilitas itu mengalami rusak sekitar dua minggu lalu.

Dihubungi terpisah, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Budhi Muliawan Suyitno mengatakan akan mengecek masalah tersebut. Dia mengatakan, setelah pengecekan, akan dipertimbangkan penganggaran perbaikan peralatan tersebut melalui anggaran biaya tambahan (ABT) 2008. “Untuk APBN 2008, sudah tidak mungkin. Setelah pengecekan, akan diupayakan penganggarannya melalui ABT,” jelas dia.

Menara ATC Baru

Selamat mengungkapkan, saat ini gedung ATC yang baru, sedang di bangun dengan dana dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Nias. Namun, dia mengatakan, belum mengetahui apakah pengadaan peralatan navigasinya dibiayai oleh BRR atau Departemen Perhubungan (Dephub). Pembangunan menara setinggi sekitar 16 meter tersebut saat ini sudah mencapai sekitar 70%.

Dihubungi terpisah, Manajer Komunikasi BRR Immanuel Migo mengungkapkan, pembangunan menara ATC tersebut sepenuhnya dibiayai oleh BRR, termasuk peralatannya. Namun, dia belum bisa menyebut besar biaya pembangunan tersebut.

Sebelumnya, Bupati Kabupaten Nias Binahati B. Baeha mengungkapkan, landasan pacu bandara tersebut akan diperpanjang menjadi 2400 meter yang agar bisa didarati pesawat yang lebih besar. Terminal kedatangan dan keberangkatan juga akan dipindahkan ke gedung baru yang saat ini sedang dalam tahap pengerjaan dan dibiayai BRR. Sedangkan, terminal keberangkatan dan kedatangan yang ada saat ini akan dijadikan apron atau parkir pesawat.

Frekuensi penerbangan di Bandara Binaka meningkat drastis saat terjadi gempa dan sesudahnya pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi. Saat ini, rute Bandara Polonia Medan-Binaka Nias diterbangi Merpati Nusantara Airline sebanyak empat kali dalam sehari. Sedangkan, maskapai Sabang Merauke Air Charter (SMAC) yang mengoperasikan pesawat Fokker 50 milik Maskapai Riau Airlines terbang satu kali sehari dan dua kali pada hari Sabtu. (Etis Nehe)

Facebook Comments