[GUNUNG SITOLI] Indonesia masih memiliki banyak daerah yang mengalami ketertinggalan pada hampir seluruh sektor di tengah kemajuan yang semakin pesat. Tanpa pendidikan yang baik tidak mungkin masyarakat bisa berkembang lebih baik dan terbebas dari ketertinggalan.

Hal itu dikemukakan pendiri Yayasan Pelita Harapan James T Riady dalam peresmian dan pembukaan Sekolah Lentera Harapan (SLH) di Desa Afia, Gunungsitoli Utara, Kabupaten Nias, Sumatera Utara, Selasa (15/1).

Dia menjelaskan, urgensi pendidikan tersebut juga berkaitan dengan kemajuan yang sangat cepat namun menghasilkan disparitas yang semakin besar. Dia mengatakan, pada satu sisi ada orang yang semakin hari semakin kaya sementara di sisi lain banyak kantong-kantong kemiskinan.

Disparitas juga terjadi antara yang terdidik dan tidak terdidik, sehat dan tidak sehat, memiliki peluang dan tidak memiliki peluang. “Kalau kita melihat secara jujur situasi seperti ini kita sadar bahwa kuncinya adalah pendidikan,” tegas dia.

Menurutnya, bila tidak ada fokus dan prioritas pada pendidikan, disparitas tersebut tidak akan berkurang. Menurut dia, pendidikan terkait dengan upaya mengangkat human capital masyarakat agar bisa hidup lebih baik.

Berkaitan dengan itu, Yayasan Pelita Harapan ikut berkontribusi untuk membangun sekolah-sekolah dengan fokus utama membangun sekolah-sekolah di daerah tertinggal, termasuk di Pulau Nias. Namun, James mengatakan, pendidikan tanpa pondasi yang benar juga tidak akan membawa perubahan.

Nilai Kristiani

Menurut dia, tiga pondasi utama kehidupan yang harus diperhatikan adalah sekolah, pendidikan dan gereja. Ketiga pondasi utama itu saling terkait, tidak terpisahkan, namun keluarga merupakan pondasi yang paling utama.

Dalam kesempatan itu, James Riady juga menekankan perlunya peningkatan kualitas pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai Kristen, yang diharapkan menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan dapat bersaing. Untuk itu diperlukan komitmen dan keseriusan semua pihak dalam meningkatkan kualitas pendidikan Kristen yang merosot tersebut di tengah perubahan dunia yang be- gitu cepat.

Dia menekankan pengembangan pendidikan yang berbasis nilai-nilai Kristen tersebut sangat penting di tengah perubahan dunia yang begitu cepat dan menuntut adaptasi setiap orang. Perubahan yang sangat cepat tersebut harus diimbangi dengan nilai dan moral Kristiani, sehingga perubahan tersebut bermanfaat bagi setiap manusia. Basis pendidikan Kristen tersebut harus dilandasi dari keluarga, sekolah dan gereja.

“Banyak sekolah-sekolah dan model pendidikan yang dikembangkan dunia modern saat ini, namun minim sekali yang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan secara utuh. Sekolah-sekolah yang berbasis pada nilai-nilai Kristen menjadi jawaban dalam krisis dunia pendidikan saat ini. Namun langkah seperti ini butuh komitmen dan keseriusan semua pihak untuk memulainya, ” kata James.

Dijelaskan, pengembangan pendidikan tersebut juga harus menjangkau daerah-daerah tertinggal dan terpencil untuk mendorong pembangunan manusia. Untuk itu, pengembangan daerah-daerah terpencil, seperti di Nias, juga membutuhkan komitmen, khususnya dari tenaga pendidik.

Rektor Universitas Pelita Harapan, Jonathan L Parapak dalam kesempatan itu juga menyoroti makin merosotnya pendidikan Kristen yang pernah menjadi kebanggaan pendidikan di Indonesia. Keunggulan kualitas pendidikan Kristen tersebut dimotori oleh gereja-gereja yang sudah pudar dalam 20 tahun terakhir.

“Saya berasal dari Toraja yang mirip dengan kondisi di Nias. Satu-satunya anugerah Tuhan adalah sumber daya manusia. Inilah menjadi perhatian kita bersama untuk mengangkat kualitas sumber daya manusia. Dua puluh tahun lalu pendidikan Kristen menjadi kebanggaan banyak orang, tetapi sekarang sudah ketinggalan, apalagi peran gereja pun sudah berkurang,” ujar Jonathan yang juga pengurus Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Kristen se-Indonesia (BKSPTK). [H-12]

Sumber: www.suarapembaruan.com, Last modified: 15/1/08

Facebook Comments