Bersiap-siaplah untuk mengencangkan ikat pinggang saat harus menyekolahkan anak ke luar negeri. Biaya pendidikan yang terus meroket, apalagi jika mata uang negara yang bersangkutan lebih sering menguat dibandingkan dengan rupiah, kerap kali bergerak tak sejalan dengan penghasilan orangtua di dalam negeri. Apalagi jika perguruan tinggi yang hendak dipilih adalah universitas swasta, ternama, dan menjadi incaran calon mahasiswa dari berbagai belahan dunia. Tanpa bantuan beasiswa, tampaknya impian itu hanya akan sebatas angan-angan.

Yang pertama harus diingat adalah jangan berharap uang kuliah mahasiswa internasional sama besar dengan mahasiswa lokal. Meski umumnya jumlah mahasiswa asing tidak lebih dari 25 persen dari total mahasiswa, besaran uang kuliah mereka kadang kala bisa mencapai lebih dari 10 kali lipat dibandingkan dengan biaya normal mahasiswa setempat.

Harvard University yang menjadi perguruan tinggi nomor satu di AS dan juga urutan teratas di dunia, misalnya, mengutip biaya kuliah untuk mahasiswa internasional pada tahun ajaran 2007-2008 mendatang sebesar 35.000 dollar AS (Rp 315 juta) setahun. Ini masih belum termasuk akomodasi yang mencapai hampir 11.000 dollar AS (Rp 99 juta), juga biaya hidup dan asuransi yang mencapai 7.800 dollar AS (Rp 70 juta). Artinya, dalam setahun, orangtua harus siap dengan hampir Rp 500 juta untuk biaya kuliah S-1 (undergraduate) atau Rp 2 miliar sampai sang anak menyelesaikan empat tahun kuliah.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengirim anak ke Yale University—yang bersama Harvard University dan enam universitas elite lain di wilayah timur laut AS biasa disebut “Ivy League”—juga tak sedikit. Mahasiswa internasional S-1 tahun ajaran mendatang dipungut 33.000 dollar AS (Rp 297 juta) dengan akomodasi 10.000 dollar AS (Rp 90 juta).

Untuk kawasan Amerika Utara, pilihan berkuliah di Kanada masih sedikit ringan meski tidak bisa digolongkan sebagai murah. Ambil contoh, program Magister Administrasi Niaga (MBA) di McGill University (urutan 12 di kawasan Amerika Utara dan 21 di tingkat dunia). Mahasiswa asing di sini harus membayar uang kuliah sebesar 20.000 dollar Kanada (Rp 174 juta). Bandingkan dengan 5.000 dollar Kanada (Rp 43,5 juta) yang harus dibayar mahasiswa Kanada nonpenduduk Quebec, atau bahkan mahasiswa Quebec yang “hanya” perlu menyediakan 1.700 dollar Kanada (Rp 14,8 juta).

Angka itu pun sebenarnya belum termasuk dengan tetek-bengek kutipan, seperti penggunaan komputer, yang bisa membengkakkan uang kuliah menjadi 22.000 dollar (Rp 191 juta). Selain itu, untuk biaya buku, apartemen, makanan, transportasi, dan kebutuhan pribadi lain, dibutuhkan sekurangnya 15.000 dollar Kanada (Rp 130 juta) untuk hidup di Montreal, Quebec. Total dibutuhkan sekitar Rp 330 juta dalam setahun.

Adapun University of British Columbia yang berada di pantai barat Kanada, tepatnya di kota Vancouver, memungut uang kuliah dari mahasiswa internasional S-1 tahun 2006-2007 ini sekitar 17.000 dollar Kanada (Rp 148 juta) atau empat kali lipat dari mahasiswa lokal yang hanya membayar 4.000 dollar Kanada (Rp 35 juta). Ini belum termasuk akomodasi yang sekitar 6.000 dollar Kanada (Rp 52 juta) hanya untuk delapan bulan pemakaian.

Hampir sama

Bagaimana dengan kawasan Eropa? Mengambil contoh Cambridge University yang menjadi perguruan tinggi paling diunggulkan di Eropa (nomor dua di dunia di bawah Harvard University) dalam survei The Times Higher Education Supplement (THES), kita akan menemukan jumlah uang kuliah yang juga tidak kecil. Untuk kelompok mata kuliah ilmu sosial besarnya sekitar 9.000 poundsterling (Rp 168 juta), sedangkan kelompok teknologi sekitar 12.000 poundsterling (Rp 225 juta) bagi mahasiswa internasional S-1 tahun ajaran 2007-2008 yang akan datang. Bahkan, untuk yang mengambil kuliah kedokteran umum atau kedokteran hewan, biaya setelah tahun ketiga—saat mereka harus masuk klinik—bisa melonjak 2,5 kali lipat.

Di luar pungutan universitas, Cambridge University juga memungut biaya college yang besarnya beragam, tetapi umumnya bergerak antara 3.300-4.400 poundsterling (Rp 61 juta-Rp 82 juta) setahun. Adapun biaya hidup tahun ajaran mendatang ini diperkirakan berkisar 6.750 poundsterling (Rp 126 juta) hingga 8.000 poundsterling (Rp 150 juta).

Pungutan uang kuliah lebih tinggi dikutip oleh London School of Economics (LSE), sebuah perguruan tinggi yang masuk dalam peringkat ke-4 di Eropa atau 17 di dunia. Mahasiswa asing S-1 tahun ajaran 2007-2008 bakal dikenai hampir 12.000 poundsterling (Rp 225 juta) setahun, sementara biaya hidup bisa mencapai jumlah yang sama untuk 12 bulan.

Jika dikalkulasikan antara uang kuliah dan biaya hidup, tampak bahwa mengirimkan anak ke perguruan tinggi bergengsi di Inggris hampir sama mahalnya dengan menyekolahkan ke Amerika Serikat.

Berbeda dengan di Inggris, uang kuliah di perguruan tinggi di Eropa kontinental tidak mencekik leher, bahkan tak jarang gratis. Namun, hambatan utamanya adalah soal bahasa. Umumnya, universitas-universitas di kawasan itu menggunakan bahasa nasionalnya sebagai bahasa pengantar, kecuali untuk program-program yang sejak awal memang disiapkan berbahasa Inggris, yang tentu saja menerapkan uang kuliah khusus.

ETH Zurich yang mendapat peringkat 6 di Eropa (urutan 24 dunia) dalam survei THES, misalnya, hanya memungut biaya per semester sebesar 580 frank Swiss (Rp 4,4 juta) atau tak sampai Rp 10 juta dalam setahun. Biaya hidup sederhana berkisar 1.000-1.500 frank Swiss (Rp 7,6 juta-Rp 11,5 juta) sebulan. Jika menggunakan angka yang paling mahal, untuk hidup dibutuhkan sekitar Rp 138 juta setahun atau Rp 148 juta kalau dihitung berikut dengan uang kuliah.

Bahkan, University of Heidelberg, sebuah universitas tertua di Jerman, tidak menarik biaya kuliah dari mahasiswanya (termasuk mahasiswa asing) dengan syarat mereka adalah mahasiswa program studi jangka panjang dan bisa menamatkan belajarnya sesuai waktu. Kalaupun mereka melewati jangka waktu sampai dengan empat semester, biaya kuliah yang dipatok pun relatif rendah, yaitu hanya sekitar 500 euro (Rp 6,3 juta) untuk satu semester atau Rp 12,6 juta setahun.

Di luar itu, mahasiswa setiap tahunnya perlu mengalokasikan dana untuk hidup, seperti akomodasi 3.600 euro (Rp 45 juta), asuransi kesehatan 600 euro (Rp 7,5 juta), transpor 120 euro (Rp 1,5 juta), kartu makan di kampus dan registrasi 200 euro (Rp 2,5 juta). Biaya hidup setiap bulan diperkirakan sekitar 600 euro atau setahunnya 7.200 euro (Rp 90 juta).

Bisa separuhnya

Sementara itu, memasuki kawasan Asia Pasifik, peta perbandingan biaya yang harus dikeluarkan mahasiswa asing menjadi beragam. Mahasiswa asing yang ingin berkuliah di Australian National University (ANU), Canberra, misalnya, harus siap untuk merogoh kantong setahunnya antara 18.000-21.000 dollar Australia (Rp 144 juta – Rp 168 juta) untuk program S-1, bergantung pada bidang studi yang diambil.

Dalam perhitungan ANU— perguruan tinggi nomor dua di Asia Pasifik dan nomor 16 di dunia—biaya hidup yang dibutuhkan mahasiswa (termasuk di dalamnya adalah akomodasi, makanan, buku dan fotokopi, transportasi, hiburan, telepon, serta asuransi kesehatan) mencapai 18.600 dollar Australia (Rp 149 juta) setahun. Total Rp 300-an juta setahun tentu masih lebih murah dibandingkan dengan Inggris dan AS.

Sementara National University of Singapore (NUS)—yang berhasil menjadi nomor tiga di kawasan Asia Pasifik dan nomor 19 di dunia—memiliki rentang biaya kuliah yang cukup lebar. Untuk ilmu-ilmu sosial, NUS mengutip dari mahasiswa asing S-1 sebesar 26.000 dollar Singapura (Rp 156 juta), musik 53.000 dollar Singapura (Rp 318 juta), dan 99.000 dollar Singapura (Rp 594 juta) untuk kedokteran. Ditambah biaya hidup (termasuk akomodasi dan makanan) yang setahunnya sekitar 8.000-12.000 dollar Singapura (Rp 48 juta-Rp 72 juta), mahasiswa yang mengambil program studi ilmu-ilmu sosial perlu menyediakan dana sekitar Rp 200 juta. Sebuah angka yang jauh lebih ringan ketimbang mengirim anak ke Yale University yang membutuhkan dana dua kali lipat. (fit)

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0707/24/PendLN/3711974.htm, On line pada tgl. 10 Jan. 2008

Facebook Comments