Oleh: Vincent Harefa*

Ya’ahowu fefu …

Saya mau sharing sedikit tentang pengamatan saya sewaktu berkunjung ke Nias. Semoga ada follow up dari pihak-pihak yang terkait, sehubungan dengan Tertib Lalu Lintas Jalan Raya di Kota Gunungsitoli.

Dalam rangka Natal dan Tahun Baru kemarin saya pulang kampung ke Gunungsitoli. Ada beberapa hal yang membuat saya gemas tentang penerapan peraturan lalu lintas di jalan raya.

Pertama, sebagian besar sepeda motor tidak memakai kaca spion, sehingga para pemakai motor tentunya tidak dapat melihat situasi jalan di belakangnya. Iseng-iseng saya hitung dan bisa saya katakan perbandingan sepeda motor yang memakai kaca spion hanya 1:20. Pernah beberapa kali saya memakai sepeda motor saudara saya dan saya merasa “ngeri” karena beberapa kali ada mobil yang tiba-tiba menyalip saya tanpa saya tau dan mobil tersebut juga tidak membunyikan klakson.

Kedua, yang saya tau dan saya yakin pembaca juga tahu, bahwa pejalan kaki dan penyeberang jalan harus didahulukan. Sepertinya hal itu tidak berlaku di kota Gunungsitoli. Kebetulan rumah saya ada di pinggir jalan provinsi (atau jalan kabupaten ?) dan saya seringkali menyeberang jalan. Beberapa kali kejadian pada saat saya atau orang lain menyeberang, walaupun kita sudah memberi isyarat tangan, tetap saja sepeda motor atau mobil yang lewat meluncur terus tanpa memperlambat kendaraannya, bahkan membunyikan klakson berulang-ulang. Jadi, seakan-akan harus dia yang lewat lebih dulu.

Dan ketiga, pemakaian helm juga sangat minim, terutama yang dibonceng, rata-rata tidak memakai helm. Apalagi di hari libur/minggu, di pusat kota saja bisa dikatakan 80% tidak memakai helm.

Waktu kumpul dengan saudara-saudara dan kami mendiskusikan hal ini, ada saudara saya yang bekerja di RS Gunungsitoli dan dia informasikan bahwa pasien-pasien yang paling banyak masuk Unit Gawat Darurat (UGD) adalah korban kecelakaan lalu lintas dan hampir tiap hari ada yang meninggal.

Tentunya hal ini sangat menyedihkan dan sangat diharapkan ada perbaikan dari pihak-pihak yang berwenang, terutama dalam hal penegakan peraturan kelengkapan sepeda motor, pemakaian helm, dan tentunya seleksi pemberian sim yang ketat.

Demikian sharing saya dan semoga bermanfaat bagi kita semua.

Ya’ahowu Ndröfi Sibohou 2008

* Tulisan ini muncul di Nias Community Forum (NCF) – Kamis, 10 Januari 2008. Atas seizin penulisnya artikel itu ditayangkan dalam situs ini.

Facebook Comments