Oleh Rizal Mallarangeng

Pertemuan pertama saya dengan Profesor Sadli sampai sekarang masih terus membekas.
Pada Mei 1996, saya baru tiba dari Ohio, Amerika Serikat, untuk melakukan penelitian disertasi di Jakarta. Saya ke rumah Prof Sadli di Jalan Brawijaya III untuk meminta waktu wawancara tentang pengalaman dia selama menjadi teknokrat di bawah Pak Harto.Di luar dugaan saya, dia langsung menerima saya dan malah meminta untuk menemaninya makan gado-gado. Saya pikir, sudah untung kalau dia bisa bertemu saya—yang waktu itu belum dikenalnya sama sekali—selama sejam. Ternyata, dengan ramah, terbuka dan antusias dia menjawab semua pertanyaan, dan pertemuan di rumahnya yang teduh dan sederhana itu berlangsung tiga setengah jam.

Keramahan dan keterbukaan itulah yang langsung terkenang kembali, saat saya menerima berita duka dari seorang sahabat bahwa Prof Sadli telah meninggalkan kita semua.

Perintis

Prof Sadli adalah bagian kelompok kecil yang merintis jalan baru dalam sejarah Indonesia.

Generasi Soekarno, Hatta, dan Sjahrir adalah bagian dari tradisi sosialisme, dalam berbagai variannya. Tradisi ini menjadi paradigma dalam pembangunan ekonomi Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga berakhirnya era Orde Lama.

Prof Sadli dan kawan-kawannya yang dipimpin Prof Widjojo Nitisastro menawarkan sebuah pandangan berbeda, dan bekerja di bawah Pak Harto untuk mewujudkan pandangan itu.

Dalam masa peralihan 1965-1966, di ujung keruntuhan Orde Lama dengan krisis ekonomi yang menyertainya, mereka menawarkan sebuah tracee baru, sebuah cara baru dalam melihat masalah-masalah pembangunan ekonomi secara modern serta penghargaan yang lebih besar terhadap unsur-unsur yang bekerja di dalamnya, seperti mekanisme pasar, investasi, produktivitas, inflasi, dan sebagainya.

Mereka tidak menolak nasionalisme dan patriotisme. Justru sebaliknya, mereka adalah kaum patriot yang menggunakan ilmu ekonomi modern untuk mencapai tujuan besar, yaitu peningkatan kesejahteraan rakyat.

Selama lebih kurang 30 tahun, di tengah pasang surut kekuasaan, dalam tarik-menarik kepentingan yang ada di dalam rezim Orde Baru, kelompok kecil ini, yang oleh David Ransom pada tahun 1970 disebut sebagai Mafia Berkeley, berhasil mendekati tujuan besar itu dan meletakkan dasar-dasar ekonomi modern di Indonesia. Kita berutang budi kepada mereka.

Prof Sadli sendiri, dalam dunia kebijakan, ikut menjadi pelaku langsung perubahan dengan menjadi Ketua Tim Teknis Penanam Modal pada 1967-1973. Dalam posisi ini, bersama almarhum Sultan Hamengku Buwono IX dan Widjojo cum suis, Prof Sadli memperkenalkan UU PMA No 1/1967. Aturan investasi baru inilah yang mulai membuka perekonomian Indonesia, meninggalkan warisan lama, dan menjadi salah satu milestones dalam sejarah pembangunan kita.

Setelah itu, Prof Sadli menduduki beberapa peran penting lain dalam dunia kebijakan, termasuk Menteri Tenaga Kerja (1971-1973) dan Menteri Pertambangan (1973-1978). Tetapi bagi saya, peran paling penting dan strategis Prof Sadli justru saat dia sudah di luar orbit kekuasaan.

Prof Widjojo, dari segi karakter dan pembawaan, amat cocok untuk terus membantu Pak Harto dan mengawal langsung pembangunan ekonomi dalam orbit kekuasaan. Prof Sadli, dengan kepribadiannya yang terbuka, sering terus terang, dan kadang dengan gaya bicara yang tajam, tidak terlalu pas ada di orbit itu dalam waktu terlalu lama.

Di luar kekuasaan

Justru di luar kekuasaan, Prof Sadli tumbuh menjadi seorang public intellectual, ekonom yang menulis secara populer untuk membujuk, mengkritik, atau mengenalkan isu-isu tertentu.

Tulisannya ringan, enak dibaca, no-nonsense approach, dengan penuturan mengalir. Dalam kategorisasi Isaiah Berlin, Prof Sadli adalah tipe fox, orang yang selalu ingin mencari penyelesaian persoalan tidak dengan satu atau dua jawaban besar, tetapi dengan melihat aneka kemungkinan yang bisa dimanfaatkan, jika perlu dengan langkah-langkah kecil dan sederhana.

Prof Widjojo, karena posisinya saat itu, tidak mungkin banyak menulis dan berbicara kepada publik. Jadi ada semacam pembagian kerja, kaum teknokrat yang berada di dalam kekuasaan membuat kebijakan, sementara Prof Sadli, bersama beberapa ekonom lain, mengulasnya, menjelaskan secara populer kepada masyarakat, dan jika perlu sekaligus mengkritik.

Peran seperti itu ternyata terus berlanjut. Setelah Pak Harto turun dan kaum teknokrat pensiun, reformasi bergulir, tetapi Prof Sadli terus menulis, malah kian produktif. Bahkan lewat internet, beberapa kali saya mendapat forward surat pribadi Prof Sadli yang ditujukan kepada Prof Liddle, guru besar ilmu politik di Columbus, Ohio, AS, berisi penjelasan rinci tentang isu-isu mutakhir dalam ekonomi Indonesia.

Dalam tulisan-tulisannya di tahun-tahun terakhir, tetap terbaca kesetiaan Prof Sadli terhadap semangat tracee baru. Ia menyambut era demokrasi dengan tangan terbuka, meski agak khawatir bahwa populisme lama akan kembali dengan wajah baru.

Tetapi dia sadar, he has done his part. Perjuangan selanjutnya harus dilakukan oleh generasi yang lebih muda.

Selamat jalan, Prof Sadli.

Rizal Mallarangeng Direktur Eksekutif Freedom Institute, Jakarta

Sumber: http://202.146.5.33/kompas-cetak/0801/11/opini/4153733.htm

Facebook Comments