Rahasia Meede, Misteri Harta Karun VOC

Tuesday, January 8, 2008
By nazese

….Yaahowu
Yang terempas dan Yang Putus
Miwo manu si mendrua….

Kalimat di atas menjadi pembuka bab 46, halaman 405 buku Rahasia Meede karya ES Ito. Tentu saja saya tidak tahu alasan ES Ito menggunakan bahasa Nias dalam novel sejarahnya. Akan tetapi kalimat-kalimat yang tertera dalam bahasa Nias termuat berkali-kali. Sebuah novel sejarah yang mengagumkan. Pembaca akan berkelana dalam detail sejarah nusantara 350 tahun yang lalu. Mengenal rekaan watak gubernur jendral VOC di masing-masing periodenya. Kekuasaan kolonial dipertontonkan secara atraktif di mana pembaca berada pada posisi “dipaksa” merasakan dan menilai urut-urutan sejarah nusantara yang terjajah. Tentunya, bukan sejarah darah-darah tetapi lakon Belanda dalam memangsa harta republik.

Kepuasan membaca buku ini semakin kompleks, karena pembaca diajak melihat sejarah dengan setting tahun 2000an. Batavia-Kota dicacah dengan cantik oleh ES Ito, sama cantiknya dengan uraian ES Ito tentang tali temali Jakarta dengan pulau Siberut, pulau Banda dan Kepulauan Seribu. Novel ini membuat pembaca mendapatkan kenyamanan mengenal suku Mentawai dengan sikerei-nya, lekuk-lekuk tanah Banda dengan perkebunan palanya dan Jakarta-kota dengan bangunan tuanya.

Saya mungkin salah dalam menganalisa buku ini, tetapi saya berkeyakinan riset sejarah yang dilakukan ES Ito bisa menjadi acuan untuk mengembangkan nalar dan kekritisan kita dalam melihat Nusantara. Tesis-tesis ES Ito tentang kebudayaan dan kemoderenan adalah hal menarik. Sama menariknya dengan kalimat-kalimat ES Ito yang menggugah cita rasa kecintaan dan idealisame terhadap Indonesia sebagai suatu bangsa.

Kalek alias Attar Malaka, Batu Noah Gultom alias Batu August Mendrofa, Cathleen Zwinskel adalah tiga tokoh fiksi yang mendapat peran dalam novel sejarah ES Ito. Dan bahasa Nias sebagai satu kekayaan bahasa menjadi pilihan ES Ito untuk dijadikan bahasa sandi antar pelakon utama. Jadi jangan kaget, dalam beberapa dialog penting antara Kalek dan Batu menggunakan bahasa Nias kita.

Apresiasi luar biasa untuk ES Ito. Riset dan ketelitiannya dalam merangkai detail sejarah nusantara dan frase-frase nilai/budaya yang dituturkan melalui cerita Hatta dan Gandhi adalah bonus yang berarti buat pembaca. Membaca Rahasia Meede-ES Ito sama dengan berusaha menambah kapasitas kesejarahan kita atas Nusantara, menambah referensi kita atas bentuk penuturan sastra. Sastra Indonesia semakin kaya dengan ES Ito.

…Ehalawa (Adaleide, Aus), pesan waktu dari Nias adalah isyarat dan kode masa lalu yang tidak terbaca generasi sekarang…”. Tulisan itu termuat dalam ucapan terima kasih buku Rahasia Meede. ES Ito benar-benar membuktikan kebenaran sastra bukan saja lahir dari imajinasi cerdas tetapi juga hasil riset dari penulisnya.

Selamat buat ES Ito. Dan kehormatan besar bagi Nias kami yang bahasanya digunakan dalam novel sejarah ini. Mudah-mudahan penggunaaan bahasa Nias tidak hanya untuk menambah kemisteriusan jati diri penulis seperti yang tertera dalam uraian ‘tentang penulis’,…ES Ito lahir pada sembilan ratus delapan puluh satu. Ibunya adalah seorang petani, bapaknya adalah seorang pedagang”.

Peresensi:
Ilham Mendröfa
www.niasonline.net
02/01/08
______________________________________________
Judul Buku : Rahasia Meede, Misteri Harta Karun VOC
Pengarang : ES Ito
Penerbit : Hikmah, PT. Mizan Publika
Jenis buku : Novel Sejarah
Lembar Isi : 675 halaman
______________________________________________
Keterangan Gambar:

  1. ES Ito dengan kakaknya Uni Sesriwati yang diakuinya sebagai Guru Hidup. (gambar kiri atas)
  2. Dr Asvi Warman Adam (Sejarawan LIPI) dan Indra Jaya Piliang (CSIS) dalam Launching Novel Rahasia Meede, Bakoel Coffe-Menteng, 27/12/07. (gambar bawah kanan)

10 Responses to “Rahasia Meede, Misteri Harta Karun VOC”

  1. 1
    Moyo Says:

    Yohanes lahir di Padang, seorang Indo-Nias, ibunya perempuan Nias bernama Mak Truni. Dia salah satu tokoh novel “Borneo van Zuid naar Noor” karya Michaël Theophile Hubert Perelaer (1861). Terjemahan novel ini berjudul “Desersi: Menembus Rimba Raya Kalimantan” (2006).

    Salah satu tokoh novel ES Ito bukan Indo-Nias, tapi putra Nias, Batu Noah Mendrofa [eloknya ditulis Mendröfa], lulusan SMA Taruna Nusantara yang kemudian menjadi perwira intelejen bernama Rudi Damhuri alias Lalat Merah. Ketika menyamar jadi wartawan, Batu bernama Batu Noah Gultom. Dalam Operasi Omega, Batu ketemu teman SMA-nya, putra Bugis bernama Attar Malaka alias Kalek, aktivis “gerakan bawah tanah” Anarki Nusantara.

    Kedua tokoh, Batu dan Kalek, sering menggunakan bahasa Nias. Tidak hanya di bab 46 mereka berbahasa Nias, juga di bab 55 dan 63. Kalek memanggil Batu, awogu [eloknya awögu] artinya kawanku (hal. 372), dan seterusnya menyapa Batu “wogu”. Bahasa Nias, menurut ES Ito, merupakan jenis bahasa yang tidak bisa dimasukkan dalam rumpun mana pun bahasa daerah dalam serakan kepulauan Nusantara. Bahasa yang nyaris terlupakan di tengah hiruk pikuk globalisasi (hal. 405).

    Sedikit perlu diluruskan, Ito menulis bahasa Nias: “La Niha” atau “Lai Niha”. Eloknya bahasa Nias dari “bahasa Nias” adalah “Li Niha”. Ada juga sedikit pertanyaan. Batu yang orang Nias, ketika menyamar jadi Gultom, berinteraksi dengan wartawan senior Parada Namora Gultom, putra Batak asli. Mengapa Parada bisa luput melihat Batu yang “Batak palsu” itu? Terkesan Ito kehilangan detil dalam narasinya, karena rata-rata orang Nias dan orang Batak bisa dibedakan secara fisik atau dialek. Atau, mungkin Batu perlu belajar bahasa Batak, sehingga Parada dapat diyakinkan bahwa Batu orang Batak semarganya.

    Ito lebih dari sekedar mengangkat bahasa Nias, dia mencitrakan putra Nias, di samping putra Bugis, sebagai tokoh yang dalam novelnya merupakan figur terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini. Apresiasi tinggi dan saohagölö terutama buat Ito. Juga buat sang narasumber, Ehalawa yang disebut dalam “Ucapan terima kasih” (hal. 673). Ya’ahowu!

  2. 2
    borokoa Says:

    Moyo menulis: “Salah satu tokoh novel ES Ito bukan Indo-Nias, tapi putra Nias, Batu Noah Mendrofa [eloknya ditulis Mendröfa], …”.

    Moyo ‘diplomatis’ dalam meluruskan, sehingga menggunakan kata ‘eloknya’ dan bukan ‘seharusnya’ dalam meluruskan penulisan ‘o’ menjadi ‘ö’, salah satu ciri khas Li Niha, yang bukan ‘La Niha’ atau ‘Lai Niha’ 🙂

    Ilham menulis: “Saya mungkin salah dalam menganalisa buku ini, tetapi saya berkeyakinan riset sejarah yang dilakukan ES Ito bisa menjadi acuan untuk mengembangkan nalar dan kekritisan kita dalam melihat Nusantara.”

    Ilham menggunakan istilah riset; dalam bahasa Indonesia kita juga mengenal kata lain yang searti: penelitian. Dalam penelitian unsur ketelitian sangat sentral, terlebih ketika itu menyangkut hal-hal yang sifatnya ‘mendasar’, seperti penulisan ‘ö’ dan ‘Li Niha’ bagi ‘objek’ riset (penelitian) yang mau diangkat.

    Ada kesan, sang peneliti yang novelis tak sempat ‘terpesona’ atau ‘mengerutkan’ dahi ketika melihat karakter aneh (menurut orang Indonesia umumnya) dalam istilah semacam: “Miwo manu siföföna”, “Möi zamölö”, dan “Mendröfa”. Ada juga kesan, sang novelis tidak sempat memanfaatkan secara optimal sumber-sumber informasi yang tersedia …

    Terlepas dari beberapa ‘kesilafan’ di atas, ‘feeling’ saya (yang masih belum memiliki novel ini) berkata: novel ini benar-benar menarik. Seorang teman yang telah membaca novel Es Ito berkomentar: “Baca Meede kayak baca Kho Ping Ho.” Dan bagi saya yang penggemar Kho Ping Ho, “berbahagialah orang yang pernah menikmati nikmatnya membaca cerita-cerita silat Kho Ping Ho”. 🙂

    Hoa … hoa…,

    Borokoa

  3. 3
    Jenk Iskhan Says:

    Bung Moyo sedikit “keseleo” ngetik nama Batu. Sebagai putra Nias, dalam Rahasia Meede Batu adalah Batu August Mendrofa, dan sebagai perwira muda intelijen dia Roni Damhuri.

    Kata Kalek kepada Batu: “Kaubisa menjadi siapa saja dalam dunia kepalsuan ini. Alias Batu Noah Gultom, alias Roni Damhuri, atau mungkin Lalat Merah. Tetapi, bagiku kau tetap saja si bodoh yang dalam lima langkah sudah kehilangan ster. Tidak Wogu, kautetap Batu August Mendrofa. Putra Nias, sahabat yang aku tidak ingin celakai. Aku menjaga kerahasiaan identitasmu agar permainan ini berjalan sebagaimana mestinya.” (hlm. 482).

    Rahasia Meede berkisah perburuan harta karun (emas) VOC. Cerita silat Kho Ping Ho banyak berkisah perburuan kitab pusaka atau senjata pusaka. Kedua novel sejarah ini penuh “suspense” dan imajinatif… miriplah. Salut buat Uda Ito.

  4. 4
    Sin Liong Says:

    Ketika emas VOC ketemu di pulau Onrust… terjadi tragedi. Kalek memicu granat milik Batu, melemparkannya ke tumpukan mesiu. Ledakan memecah keheningan pulau itu, menewaskan orang-orang di sekitarnya… Paling tidak, Cathleen Zwinckel dan Amelia Lusiana Sumawinata yakin, Attar Malaka dan Batu August Mendrofa tewas. ES Ito tak negasin bila Kalek dan Wogu tewas.

    Logika cerita Kho Ping Hoo bisa bermain… sebelum ajal berpantang mati. Boleh jadi Kalek dan/atau Wogu belum tewas… Ikut riwayat Kwee Seng yang terjatuh ke jurang kagak mati. Kwee Seng tiba di Neraka Bumi, dan kelak muncul lagi berjuluk Kim-mo Taisu (Guru Besar Setan Emas) yang bikin geger dunia kang-ouw… heheheee-eh… 🙂 Bila Wogu akan hidup lagi di novel ES Ito berikutnya, aku usul nih… Batu August Mendrofa dipertemukan dengan Sibowo Döfi Madala, tokoh dalam dongeng Nias… biar tambah seru…bagaimana menurut Bang Borokoa?

  5. 5
    Toni Hia Says:

    wahhh… menggoda juga kisah Batu Mendrofa ini… jadi pengen baca nih.
    tentang Kim-mo Taisu, bukan kah dia suhu dari Pendekar Suling Emas Kam Bu Song suaminya Putri Yalina Ratu Khi-tan? anak Suling Emas dan Yalina kan Mutiara Hitam yg pernah jadi panglima Mancu? he-he-he kita jadi reuni nih… para penggemar cersil… ciaaaat….!!! 🙂

  6. 6
    Sof Lase Says:

    Setelah baca ‘Rahasia Meede, Misteri Harta Karun VOC’ komentarku singkat saja, “ES Ito telah memukau saya…!”.

  7. 7
    rosdiana Says:

    ES ITO gw mo nanya neech… apa Anda pernah ke Nias? Koq piawai cerita soal Nias… keren dech!

  8. 8
    Mimie Says:

    Resensinya aja bagus. E.S Tito, anak bangsa yang negeri yang peduli, meskipun Negeri kadang melupakan anak-anaknya. Te … O….Pe tuk E.S Tito, Salut !!!!

  9. 9
    Asaaro Zai Says:

    Setahun yang lalu, seorang teman merekomendasikan saya untuk membaca Novel Rahasia Meede. Terus terang saya sempat mengabaikannya, karena belum pernah saya membaca hasil karya anak bangsa yang menandingi karya Dan Brown (The Da Vinci Code, Digital Fortress, dll)

    Tetapi setelah membacanya, saya tidak berlebihan kalau E.S. ITO bisa disejajarkan dengan Dan Brown. Luarrrr Biasa. Kemampuan mengkombinasikan fiksi dan fakta yang mampu memadukan imajinasinya dengan latar belakang sejarah merupakan daya tarik novel ini.

    Batu August Mendrofa dari Nias dan Attar Malaka putra Bugis sebagai tokoh utama menambah apresiasi buat E.S. ITO. Beliau mampu melibatkan semua daerah sebagai setting cerita, mulai daerah Mentawai sampai dengan Papua. Salut buat E.S. ITO.

    Lebih bangga lagi, ternyata Bapak E. Halawa tertera dalam lembar ucapan terima kasih E.S. ITO, mungkin pak Halawa menjadi narasumber beliau.
    Saohagolo

  10. 10
    Arifman hulu Says:

    Ketinggalan pi-bu saya,maklum baru turun gunung,19 tahun di gunung thay-san. Ngomong-ngomong tentang dunia persilatan dan kho ping hoo, sy jd terusik nih,mohon maaf kepada para pangcu klu sy gabung disini. Kho ping hoo emang the best dan tak terlupakan, klu boleh sy referensikan bbrp buku dan karya dr pengarang lain yg hampir menyamai kho ping hoo, sprt : senopati pamungkas karya arswendo atmowiloto, tikam samurai, perang pariaman karya makmur hendrik, manusia harimau n series karya Sb.Chandra dan tentunya karya-karya Es ito. Sy jamin buku-buku pusaka yg sy sebut diatas bisa memuaskan para pangcu. (to komunitas penggemar kho ping hoo) ya’ahowu

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

January 2008
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031