Oleh Christianto Wibisono

Pada 10 Agustus 2004 saya telah menulis kolom berjudul Calon Senator Obama pernah SD di Indonesia. Kolom itu merupakan indikator perspektif politik AS ketika dalam Konvensi Nasional Partai Demokrat, Obama tampil memukau dengan pidatonya yang dianggap merupakan re-inkarnasi mendiang John Kennedy. Ketika Kamis (3/1) malam ia berpidato menyambut kemenangan dalam Kaukus Iowa, barangkali mantan penulis pidato John Kennedy, Ted Sorensen, turut menyumbangkan substansi. Kemenangan pendahuluan Obama di Iowa merupakan terobosan yang sangat substansial. Karena penduduk kulit putih Iowa 93 persen, demikian pula New Hampshire 97 persen, yang akan menggelar primary, Selasa pagi. Obama membuktikan walaupun ia keturunan Kenya bisa menerobos sebagai presiden bukan kulit putih pertama di AS.

Masalah keturunan ini agak ruwet karena para penduduk AS keturunan Afrika dari era perbudakan, kurang begitu sreg menerima Obama sebagai bagian dari African American. Obama dianggap keturunan imigran pendatang baru dan setengah putih karena ibunya, Ann Dunham, berasal dari Kansas. Bapaknya Barak Hussein Obama Sr adalah penerima beasiswa dari Kenya dan menikahi Ann, melahirkan Obama Jr pada 1961 di Hawaii. Ketika pada 2006 Obama mengunjungi Kenya, ia disambut sebagai pahlawan dengan penuh kebanggaan karena keturunan Kenya bisa menjadi senator yang sekarang sudah meningkat menjadi capres AS.

Obama Sr memang seorang playboy yang menikah beberapa kali. Pertama sebelum Ann, di Kenya, setelah bercerai dari Ann dengan wanita kulit putih AS lain, lalu dengan dua wanita Kenya dan total menjadi bapak dari sembilan anak. Sementara Ann Dunham setelah cerai dari Obama Sr menikah dengan Soetoro dari Indonesia, yang kemudian membawa Obama melewati masa SD antara 1968-1973 di Indonesia. Setelah itu Ann bercerai lagi dari Soetoro dan kembali ke Hawaii, dan Obama Jr lebih banyak dirawat oleh kakek-neneknya dari pihak Ibu. Adik tiri perempuannya Maya Soetoro ikut pindah ke Hawaii dan menikah dengan warga Kanada keturunan Tionghoa, Konrad Ng.

Latar belakang sejarah ini sekarang mulai terkuak dan merupakan bagian dari ujian sejarah, apakah AS akan lulus sebagai negara demokrasi sejati yang tidak terhambat oleh faktor sentimen primordial seperti ras, etnis, keturunan, dan agama. Jika John Kennedy menghadapi masalah Katolik dan Mitt Romney agama Mormon, maka yang menimpa Obama adalah dua masalah sekaligus, etnis campuran imigran Kenya dan isu bahwa ia pemeluk Islam semasa hidup di Indonesia.

Kolumnis Reza Azlan dan ahli bedah Hesham Hassaballa adalah dua tokoh Muslim AS yang memberikan analisis tajam tentang dilemma yang dihadapi Obama. Pertama, masyarakat AS akan naïf sekali bila beranggapan bahwa dengan memilih seorang kulit hitam yang masa kecilnya pernah memeluk Muslim, AS akan langsung dirangkul oleh dunia ketiga dan Timur Tengah sebagai “negara sahabat”. Kedua, karena politik luar negeri Presiden Obama, pasti tidak akan bisa melepaskan diri dari kepentingan masyarakat AS, yang sebagian masih tetap dipengaruhi faktor ketakutan terhadap terorisme walaupun sudah kapok terperosok di Irak. Ketiga, munculnya Michael Huckabee sebagai pemenang kubu Republik di Iowa membuktikan bahwa kaum evangelis tradisional merupakan kutub yang berlawanan dengan arus sekularisme Demokrat yang menunjang Obama.

Hassaballa menawarkan suatu statemen yang seyogyanya disampaikan oleh Obama secara terbuka, seperti, Kennedy mengakui faktor Katolik dan Mitt Romney mengakui faktor Mormon agar masyarakat dunia terbuka mengenai Islam. Saya kutip bagian dari masukan Hassaballa sebagai berikut:

” Some have even accused me of being a “clandestine Muslim,” a “Muslim plant” seeking to capture the White House. Yes, my middle name is “Hussein,” and there is nothing wrong with this. Now, I have said many times that I am not a Muslim, I am a Christian, who is devout and proud of his faith.

Yet, this does not mean that there is something wrong with being a Muslim. Islam is an honorable religion, the basis of a glorious civilization that has given the world some of its greatest gifts. Muslims comprise one-fiftth of the world’s population, and millions of our fellow Americans derive comfort from the Muslim faith. Indeed, there are those who claim to be Muslim who have attacked our country, who have committed inhuman acts of violence in the name of their religion.

But, these people defile the religion of Islam, and they do not represent the overwhelming majority of Muslims, across the world and here in America, who are peace-loving, law-abiding citizens who want what everyone else wants: to live in peace and security. It is high-time that we as Americans, citizens of the greatest nation on earth, to repudiate and reject the politics of division, fearmongering, and hate. We can do better as a nation, and let us start today.”

Bila hari Selasa besok Obama kembali menang dan mengalahkan Hillary berturut turut, maka tampaknya Obama akan menjadi unstoppable -tidak akan terbendung lagi pada konvensi Nasional Demokrat Agustus 2008. Obama benar-benar menjadi kekuatan dahsyat yang bahkan mengalahkan dinasti Clinton yang didukung oleh dinasti Kennedy. Saat ini dana kampanye Obama yang didukung oleh konglomerat George Soros, Warren Buffet, setara dengan dana yang dihimpun Hillary. Tapi, pesona Obama sudah jauh meninggalkan Hillary, bahkan di kalangan pemilih wanita dan kaum muda kulit putih. Disimpulkan bahwa Hillary hanya didukung oleh generasi tua yang merupakan masa lalu, sedang Obama menjanjikan harapan untuk perubahan.

Interdependensi

Kalau Kenya membanggakan Obama sebagai salah satu keturunan warga Kenya dan Indonesia berbangga pernah menjadi “:wali” sewaktu Obama masih SD, bagaimana elite Indonesia bisa memanfaatkan atau ikut mempengaruhi percaturan pilpres AS.

Selama ini elite Indonesia hanya berteriak-teriak tidak mau didikte Washington. Padahal, seluruh dunia tahu bahwa dalam era globalisasi ini, interdependensi sudah demikian hebat, sehingga jika orang mempunyai karakter dan kelihaian maka yang terjadi ialah skenario saling mempengaruhi. Kenya akan merujuk faktor leluhur untuk memperoleh perhatian AS dan Presiden Obama. Dunia akan menguji apakah AS benar-benar menjadi pimpinan global yang punya otoritas moral untuk mendikte orang lain.

Agar mengikuti teladan meritokrasi, seorang presiden keturunan dunia ketiga menduduki Gedung Putih. Jika Indonesia mau berperanan maka harus siap canggih dengan bukti timbal balik, bahwa di negara Pancasila Indonesia, seorang Papua Kristen atau Tionghoa Budhis juga bisa menjadi Presiden Republik Indonesia. Apakah Jakarta siap untuk itu atau akan ketinggalan meneladani terobosan Obama.

Penulis adalah pengamat masalah nasional dan internasional

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2008/01/07/index.html

Facebook Comments