Oleh Emil Abeng

Syahdan, tim pakar Australia memandang ekonomi Indonesia lima tahun sebelum krisis. Mereka melukiskan Indonesia sebagai “naga kecil” yang memberikan rasa optimis pada kawasan. Dalam buku Australia Business Challenge: South East Asia in 1990s yang dikeluarkan East Asia Analytical Unit, Department of Foreign Affairs and Trade and Austrade tahun 1992, dengan tajam ditulis bahwa Indonesia adalah negara yang akan masuk ke era industrialisasi. Seluruh makro Indonesia dan kawasan Asia Tenggara saat itu sangat positif.

Tak mengherankan banyak anak muda Indonesia melihat masa depannya dengan cerah. Sebagaimana dilaporkan oleh pemerintah Australia, pada 1992 tercatat 3.500 pelajar dengan biaya sendiri belajar di Australia. Itu pun belum termasuk orang-orang yang dikirim melalui program beasiswa pemerintah. Konon, jumlah pelajar Indonesia yang berada di Eropa, Amerika, dan Timur Tengah mencapai ratusan ribu. Dengan status pelajar, mereka membawa pulang banyak hal baru dari soal ekonomi, sosial, politik, kemasyarakatan hingga teknik dari negeri yang relatif lebih maju. Mereka diibaratkan sebagai “pensil” yang telah diserut dan dipersiapkan untuk menulis dengan baik pada lembaran baru.

Tapi, apa daya? Banyak hal yang sudah merupakan kelaziman di tengah suatu masyarakat yang maju di pelosok dunia – masih menjadi hal yang baru atau mungkin sama sekali belum dikenal masyarakat Indonesia. Pada akhirnya, banyak dari mereka yang mengalami culture shock ketika kembali ke Tanah Air. Umpamanya saja tentang regenerasi kepemimpinan yang berjalan lambat di Indonesia.

Kekhawatiran generasi muda kemudian menjadi kenyataan. Regenerasi kepemimpinan di negeri ini memang tidak berjalan dengan mulus. Terlebih, banyak pengambil keputusan umumnya orang dengan paradigma lama, tidak menyadari perkembangan global. Hasilnya, negeri yang disebut sebagai “naga kecil” diterpa krisis ekonomi atau mungkin disebut soft revolution dan dampaknya hingga kini dirasakan belum berkesudahan.

Teori Adam Smith yang mengatakan bahwa suatu revolusi akan berdampak kemunduran ekonomi 30 tahun ke belakang kemudian menjadi kenyataan. Karena, jika diamati banyak anak muda merasa kehidupan hari-hari ini berubah drastis dan melihat masa depan semakin sulit. Tanpa suatu lompatan jauh ke depan kemunduran ini akan membuat suatu bangsa menjadi sangat terbelakang dan membuat kehilangan satu generasi (the lost generation).

Data BPS menunjukkan bahwa angka pengangguran terbuka (2006) sebesar 25,47 persen dan angka setengah pengangguran 30 juta jiwa. Lebih dari itu, angka kepesertaan pendidikan cenderung terlihat memburuk, misalnya, pada 1999 terdapat 2,3 persen anak-anak SD (usia 7-12 tahun) atau sekitar 6 juta tidak bersekolah yang meningkat menjadi 2,4 persen atau 7,5 juta pada 2002. Demikian pula untuk SLTP (usia 12-15 tahun) meningkat dari 9,6 persen pada 1999 menjadi 10,10 persen dan diperkirakan sekitar 7 juta siswa SD/SLTP terancam putus sekolah karena ketidakmampuan biaya.

Kembali ke Kampus

Yang terpenting, kita tidak memperdebatkan angka-angka yang menjadi simbol kemiskinan seperti polemik politisi. Namun, yang pasti, akibat minimnya lapangan pekerjaan, kualifikasi skil generasi muda terdidik menjadi over qualified. Sering terjadi anak-anak muda lulus sebagai sarjana, namun tidak tertampung di pasar tenaga kerja akibat lesunya industri dan jasa. Yang beruntung lari ke luar negeri sebagai high skill labour yang kemudian kita kenal sebagai the brain drain. Sebagian kecil, dapat tertampung di multinational company dan local company di Indonesia.

Tapi, ini pun biasanya menghadapi masalah remunerasi, tidak sesuai dengan job spesifikasi, sehingga terkadang pendapatan selalu kalah cepat dengan laju inflasi. Ada juga yang akhirnya kembali ke kampus meneruskan studinya – walaupun setelah studi selesai labour market belum juga mampu menampung mereka. Saat ini, jarang ada perusahaan mau menampung PhD usia 30 tahunan untuk pekerjaan manajerial dengan standar gaji (internasional) US$ 6.000 per bulan?

Lalu ke mana sebagian besar lagi dari generasi muda mencari penghidupan? Yang menarik, mereka menjadi pengusaha “terpaksa” dan sering hanya dengan modal nekat. Banyak yang memulai bisnis dengan skala pas-pasan, cenderung sangat mikro, seperti, pengelolaan warnet, penyewaan permainan anak, berdagang sembako hingga calo proyek. Selebihnya, bekerja di sektor informal seperti pedagang kaki lima atau warung kecil-kecilan.

Di sini, sebenarnya generasi muda berharap para pengambil keputusan (baca: para penguasa) melaksanakan hal-hal konkret membantu memecahkan masalah riil. Namun, setelah 10 tahun reformasi, kita belum melihat dan merasakan berbagai kenyataan yang sesuai harapan. Bangsa ini terlihat masih berkutat pada permasalahan itu-itu saja, pergantian presiden, perebutan jabatan politis, BUMN, bentuk negara, suap-menyuap, korupsi akut dalam sistem yang sebetulnya masalah-masalah itu seharusnya sudah terpecahkan 30 – 40 tahun yang lalu!

Yang pasti, kita belum – atau mungkin – tidak mempunyai visi memecahkan masalah nyata, sementara bangsa lain sudah berbicara visi meningkatkan kemakmuran hingga 50 tahun ke depan.

Program Kesadaran

Dengan kondisi seperti sekarang, terlebih terjadinya berbagai bencana alam, minimnya layanan sarana dan prasarana umum, rantai birokrasi yang tidak efisien, dan rendahnya kualitas kesehatan dan pendidikan, makin sulitnya kehidupan generasi muda utamanya akibat angka pengangguran yang tinggi ditambah banyaknya korupsi oknum pejabat di pemerintahan.

Generasi muda pun mengalami apa yang disebut the lost opportunity and the lost income yang membuat bukan saja pola pikir menjadi irasional, namun juga menciptakan the lost generation. Pada situasi seperti ini, tak heran, profesi yang laku keras adalah paranormal.

Fakta tersebut mengingatkan kita atas berbagai hal yang tengah menggejala di masyarakat. Boleh saja kita waswas, namun itu saja tidak cukup. satu-satunya cara adalah adanya National Conscious Program. Yakni, kesadaran dan pemahaman tentang masa depan yang baik bagi kaum muda. Namun, untuk sampai ke sana, setidaknya ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi oleh seluruh komponen bangsa.

Pertama, mindset atau pola pikir generasi muda harus mempunyai kesadaran dan memahami gambaran apa yang terjadi secara global, nasional serta lingkungan sekitar kita. Yang pasti era sekarang sudah jauh berbeda dengan kondisi tahun 90-an apalagi tahun 70-an dan 80-an, terutama dengan ketatnya persaingan ekonomi bangsa di dunia.

Tentu tidak ada yang memiliki kemampuan menyeluruh mengenai permasalahan bangsa. Tapi, generasi muda tahu persis kelemahan diri bangsanya. Untuk itu tidak ada kata lain bagi generasi muda untuk saling mendukung. Hilangkan seluruh atribut, stereotype, dan sekat pemisah, karena permasalahan bangsa harus diselesaikan. Kaum muda harus duduk bersama dan melakukan satu tujuan yang sama, yakni membawa bangsa ini keluar dari kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan, sekaligus memastikan bahwa krisis bangsa ini tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.

Yang kedua, melakukan karya nyata dan mengurangi berwacana, karena ingat pepatah nothing comes easy. Sekarang banyak kaum muda yang berpikiran idealis ketika tampil di forum, namun ketika kembali ke dunia nyata, karena tuntutan perut, menjadi sangat “pragmatis”. Yang terpenting, bagi yang belum besar, jangan bermimpi kita hidup mudah kemudian akan kaya raya, karena hal tersebut hanya terjadi di sinetron. Pada sisi lain, bagi yang kuat, saat ini adalah momentum tepat untuk menunjukkan tanggung jawab sosial. Banyak pengusaha kecil yang berhasil karena bimbingan pengusaha yang sudah mapan melalui program Bapak Angkat.

Mungkinkah ini dilakukan? Pasti, karena semuanya disatukan rasa senasib sepenanggungan. Tentu akan banyak tembok tebal, rintangan, yang akan dihadapi. Satu di antaranya adalah banyaknya paradigma lama pada orang-orang yang masih memegang kendali keputusan. Tapi, perlahan dan pasti, akan tersisihkan. Maka, tahun 2008 ke depan adalah saatnya membuka pintu untuk tampilnya generasi-generasi baru di berbagai bidang yang akan mencegah the lost generation dan the lost opportunity.

Penulis adalah pelaku bisnis

sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2008/01/07/index.html

Facebook Comments