Oleh L Wilardjo

Setelah “Dik Pendi” mendirikan Republik Mimpi, Karlina Supelli (STF Driyarkara) merenungkan “Republik Alpa” (Kompas, 31/12/2007). Keduanya adalah parodi negeri yang oleh SBY-nya Republik Mimpi disebut “republik tetangga kita”.

Di Republik Alpa ada dua kasta. Kasta atas ialah kaum minoritas (dalam jumlah), tetapi mayoritas (dalam kepintaran, kekayaan, dan kekuasaan). Sebut mereka “Si Elite”. Sebaliknya, kasta bawah ialah kaum mayoritas (dalam kapita), tetapi minoritas (dalam kapital). Sebutlah mereka “Si Jelata”. Karena kealpaan Si Elite, republik ini merana sehingga dicemoohkan saudara-saudara serumpunnya di negeri jiran.

Si Jelata merupakan korban keserakahan Si Elite. Ia digusur, dipinggirkan, dan dibebani berbagai pungutan. Ia juga didera bencana alam akibat ulah Si Elite. Si Elite-lah yang melakukan pembalakan liar, mengalihfungsikan hutan, rawa, hutan bakau, ka- wasan perbukitan, dan menguras sumber daya alam. Si Elite jugalah yang mengorupsi sisa pendapatan negara setelah dipotong bunga dan cicilan utang. Si Jelata harus menanggung akibatnya.

Dua pilihan

Pertanyaan Karlina ialah yang mana dari dua alternatif yang ada yang kita ambil untuk mengurangi bencana? Alternatif pertama ialah “berharap dengan gagap akan ada perubahan radikal dalam cara merawat hidup bersama”. Ini memerlukan konsientasi dan advokasi pemberdayaan Si Jelata. Seperti dalam setiap perjuangan, harus ada unsur mili- tansi dalam advokasi itu. Begitulah pendapat Dorothee Soelle, teologiwati Jerman yang feminis. Menurut Karlina, perubahan radikal ini nyaris muhal dalam tata ekonomi-politik yang dijalankan dengan kebebalan.

Alternatif yang kedua ialah yakin bahwa “kelompok paling rentan pun mampu menghidupkan kembali … penyangga hidup bersama mereka”. Meski ada kendala yang menghadang di jalur ini, Karlina condong ke sini.

Rentan atau rawan?

Barangkali yang dimaksudkan Karlina dengan “paling rentan” ialah the most vulnerable. Zainal Bagir (Pusat Kajian Agama dan Lintas-Budaya UGM) juga memadankan “kerentanan” dengan vulnerability. Menurut saya, “kerawanan” lebih tepat. Rentan berarti tidak mampu menolak masuknya imbas, tetapi imbas ini tidak selalu negatif.

Kalaupun yang masuk itu imbas negatif, derajat keparahan yang diderita “Si Rentan” lebih rendah daripada “Si Rawan”. Kasta Si Jelata di Republik Alpa tidak hanya rentan (susceptible) terhadap akibat ulah bebal Si Elite; mereka rawan. Mereka tak berdaya menangkal akibat kebebalan Si Elite, sementara Si Elite bersikap EGP (emangnya gue pikirin!).

Kerentanan atau kerawanan itu ada dalam persamaan kualitatif: disaster=hazard vulnerability. Zainal memadankan disaster dengan “bencana”, dan kita setuju. Ia padankan hazard dengan “bahaya”; sedangkan bagi saya, hazard bermakna “risiko”. Risiko dapat diambil, bisa juga tidak, sedangkan hazard merujuk ke tingkat bahaya potensial yang “lengket” (inherent) dalam suatu peristiwa. Zainal merujuk ke konsep risk society-nya A Giddens.

Perbedaan antara Zainal dan saya berpangkal pada acuannya. Bagi Si Jelata, hazard ialah “bahaya”; sedangkan bagi Si Elite, hazard adalah “risiko”. Dengan kepintaran, kekayaan dan, kekuasaannya, Si Elite dapat menghindari hazard itu; dengan kata lain tidak mengambil risiko. Dengan begitu, dan karena kerawanannya juga rendah, ia mengelak dari bencana, atau mengurangi dampaknya pada dirinya. Sebaliknya bagi Si Jelata, hazard ialah bahaya tak terelakkan, kecuali kalau ia sedang mujur.

Risiko

Risiko ialah besaran kuantitatif, berupa bilangan antara 0 dan 1. Ia adalah kementakan (probability) bahwa peristiwa tertentu terjadi di dalam selang waktu yang disebutkan. Sedangkan bahaya ialah peristiwa berakibat parah yang bisa terjadi, tanpa kita ketahui kementakannya. Risiko dapat diperkirakan.

Zainal benar bahwa risiko dapat diambil atau tidak. Risiko yang diambil tentulah yang berterima (acceptable). Risiko berterima (acceptable risk) ditakrifkan dalam jumlah kematian per tahun pada warga masyarakat, sebagai perseorangan atau sebagai kelompok. Untuk seorang pria yang sehat, kementakan kematiannya ialah 0,0001 per tahun.

Kalau risiko perseorangan dari musibah instalasi teknologi di sekitar tapaknya jauh lebih rendah dari 0,0001, risiko itu dianggap berterima.

L Wilardjo Guru Besar Fisika dan Etikawan UK Satya Wacana Salatiga

Sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0801/05/opini/4123240.htm

Facebook Comments