Gunungsitoli (SIB)
Hingga 3 tahun bencana Tsunami yang memporak-porandakan kawasan barat Pulau Nias dengan jumlah tewas ratusan orang, masih menyisakan duka dan lara kepada keluarga korban.

Felisa Zebua (37 tahun), salah seorang korban tsunami, 6 orang putra putrinya dan 5 orang saudara-saudaranya tewas masih menatap nasib di pondok darurat beralas tanah di lokasi pembangunan perumahan korban tsunami yang disediakan pemerintah daerah seluas 5 hektar di desa Sisarahili II, Kecamatan Mandrehe Barat tanpa mendapat bantuan, baik dari pemerintah maupun BRR sejak bencana tsunami 26 Desember 2004.

Hal itu terungkap dalam refleksi bencana tsunami yang disampaikan Pendeta Redieli Gulo STh pada peringatan 3 tahun tsunami yang dilaksanakan Panitia Perayaan Natal dan Syukuran Tahun Baru 2008 Keluarga Besar. Salom se Indonesia dipusatkan di desa Sisarahili II Kecamatan Mandrehe Barat Rabu 26 Desember 2007.

Pastor Mathias yang memimpin misa renungan 3 tahun tsunami mengatakan, dirinya bersama Ephorus BNKP dan Ephorus ONKP turut mendampingi Presiden SBY ketika meninjau korban tsunami 11 Januari 2005 di Desa Sisarahili. Presiden telah menyatakan berjanji akan membangun kembali sarana prasarana yang hancur akibat bencana tsunami, jalan, listrik, perumahan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga korban lebih baik dari sebelum bencana, akan tetapi hingga 3 tahun bencana tsunami realisasi janji Presiden itu tidak ada sama sekali seperti yang kita saksikan bersama pada hari ini, kata Pastor Paroki yang membawahi puluhan Gereja Katolik di kawasan barat Pulau Nias.

Para korban tsunami menyesalkan kekurangan serius perhatian pemerintah dan BRR dalam merehabilitasi dan merekonstruksi kawasan tsunami di kabupaten Nias. Mereka berharap pemerintah merealisasikan janjinya membangun 300 unit rumah korban tsunami di atas lahan yang disediakan Pemkab Nias seluas 5 Ha, kata Pendeta Gulo yang menceritakan kronologis kejadian bencana tsunami 26 Desember 2004 dan keluarganya sendiri menjadi korban.

Pada refleksi tsunami terkesan masih ada korban tsunami di kawasan pantai barat pulau Nias, yang masih terlantar dan ini dapat, dibuktikan pada peringatan 3 tahun tsunami satupun pejabat BRR tidak ada yang hadir kendati sudah diundang panitia, kata anggota DPRD Nias Yasaro Daeli SIP.

TUGU TSUNAMI
Peringatan 3 tahun bencana tsunami yang melanda kawasan barat pulau Nias ditandai dengan peletakan batu pertama Tugu Tsunami di desa Sisarahili II kecamatan Mandrehe Barat yang diprakarsai Panitia Natal bersama DPP Salom sebagai wujud kepedulian DPP Salom terhadap penderitaan warga Nias bagian barat yang tidak lain adalah warga Salom. Pada peringatan dan peletakan batu pertama Tugu Tsunami dihadiri Pembina DPP Salom Drs FG.Martin Zebua, (Sekda Nias), para pengurus DPP Salom diantaranya R Daili Sip, Adieli Gulo (Sekjen), Yasaro Daeli Sip, Simeoni Gulo, Kharis Hia SP, dan Ketua Umum Panitia Y.Restu Gulo SH dan Sekum Yupiter Hia Sip, serta ratusan warga masyarakat dari tiga gereja terdekat.

Pada kesempatan ini, ratusan keluarga korban melakukan doa untuk mengenang arwah para keluarganya yang menjadi korban pada peristiwa yang sangat menyedihkan itu. Terlihat tidak sedikit keluarga korban menintikkan air mata pada saat refleksi bencana tsunami yang menelan korban 119 orang. Selesai acara refleksi dilanjutkan dengan makan bersama yang disiapkan panitia dari Gunungsitoli.

Ketua Umum Panitia Natal dan Syukuran Tahun Baru DPP Salom Y.Restu Gulo SH menjelaskan, peringatan dan pembangunan Tugu Tsunami di Desa Sisarahili II Kecamatan Mandrehe Barat, dimaksudkan untuk mengingatkan pemerintah dan BRR akan tanggungjawab merehabilitasi dan merekonstruksi daerah yang telah hancur dilanda tsunami di kawasan barat Pulau Nias yang merupakan cikal bakal kabupaten Nias Barat.

Ditambahkannya, pelaksanaan perayaan Natal dan Syukuran Tahun Baru DPP Salom akan dilaksanakan pada tanggal 6 Januari 2008 di Audotorium STT Sunderman Gunungsitoli yang didahului beberapa kegiatan sosialisasi pemekaran Kabupaten Nias Barat di 8 kecamatan dan peringatan 3 tahun tsunami.

Ratusan keluarga korban, mengucapkan terimakasih kepada Panitia Natal dan DPP Salom yang telah peduli dan memprakarsai pringatan dan pembangunan Tugu Tsunami sehingga dapat menggugah dan mengingatkan BRR untuk segera merehabilitasi dan merekonstruksi rumah dan fasiltias lainnya. (T15/e) (SIB, 29 Desember 2007)

Facebook Comments