Gunungsitoli, WASPADA Online

Hingga 3 tahun peringatan bencana gempa bumi yang diikuti gelombang Tsunami yang melanda pesisir barat Nias, masih banyak rumah korban tsunami dan fasilitas umum lainnya masih belum dibangun. Para keluarga korban di beberapa desa tersebut sampai saat ini masih tinggal di pondok-pondok darurat menunggu bantuan rumah dari BRR dan pemerintah.

Demikian hal itu terungkap dalam refleksi bencana tsunami yang melanda 6 desa di Kecamatan Mandrehe masing-masing Desa Onolombu Raya, Onolimbu You, Hilisoromi, Onozalukhu You, Sisarahili II dan Lasara Bagawu, Rabu (26/12).

Para keluarga korban sangat menyesalkan tidak adanya perhatian serius dari BRR maupun pemerintah dalam hal rehabilitasi dan rekonstruksi rumah warga yang telah hancur. Mereka berharap pemerintah pusat merelealisasikan janji-janjinya dalam pembangunan ratusan rumah korban tsunami yang sampai saat ini belum terlaksana.

Terkesan bagi ratusan keluarga korban tsunami BRR dan pemerintah sengaja menelantarkan mereka dan ini dapat dibuktikan pada peringatan 3 tahun tsunami tidak satupun pejabat dari BRR berkunjung ke daerah ini untuk melihat penderitaan yang dialami keluarga korban.

Pada kesempatan yang sama anggota DPRD Nias, Yasaro Daeli, SIP mendesak Presiden SBY untuk segera merealisasikan janji-janji yang disampaikan kepada masyarakat korban bencana tsunami saat berkunjung ke Nias dalam merehabilitasi dan merekonstruksi Nias yang baru.

Tugu Tsunami
Peringatan 3 tahun bencana gempa tsunami yang melanda Pulau Nias ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan Tugu Tsunami di Desa Sisarahili II, Kecamatan Mandrehe Barat. Pembangunan tugu ini diprakarsai Dewan Pengurus Pusat Salom sebagai kepedulian terhadap penderitaaan yang dialami warga Nias.

Pada acara peringatan 3 tahun tsunami yang dipusatkan di Gereja Katolik Sisarahili II dihadiri pembina DPP Salom, Drs FG Martin Zebua, para pengurus DPP Salom di antaranya R. Daeli, S.IP, Adieli Gulo, Yasaro Daeli, SIP, Simeono Gulo, Ir. Y Restu Gulo, SH, Yupiter Hia, SIP, Kharis Hia, ST dan ratusan warga keluarga korban tsunami.

Pada kesempatan itu ratusan keluarga korban melaksanakan doa untuk mengenang arwah para keluarganya yang menjadi korban pada peristiwa yang sangat menyedihkan itu. Terlihat tidak sedikit keluarga korban menitikkan air mata pada saat refleksi bencana tsunami yang menelan korban mencapai 119 orang.

Y Restu Gulo menjelaskan, pembangunan tugu peringatan bencana tsunami ini dimaksudkan untuk mengingatkan kepada BRR dan pemerintah akan tanggungjawabnya merehabilitasi dan merekonstruksi daerah yang telah hancur dilanda bencana yang sampai saat ini belum ada kemajuan.

Ratusan keluarga korban tsunami menyampaikan terima kasih kepada DPP Salom yang telah peduli dan memprakarsai peringatan dan pembangunan tugu tsunami sehingga dapat menggugah dan mengingatkan BRR untuk segera merehabilitasi dan merekonstruksi rumah dan fasilitas lainnya. (a35) (Waspada, 28 Desember 2007)

Facebook Comments