Benazir Bhutto Tewas Dibunuh

Friday, December 28, 2007
By nias

Pemimpin oposisi utama Pakistan, Benazir Bhutto, tewas ditembak Kamis kemarin dalam sebuah pertemuan massal kampanye pemilu di Rawalpindi. Hanya beberapa saat sebelum dibunuh, Benazir Bhutto berpidato di hadapan massa pendukungnya di Rawalpindi, kota di mana ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto – mantan Presiden dan Perdana Menteri Pakistan – digantung oleh rezim militer pada tahun 1979.

Kematian Bhutto menimbulkan kemarahan rakyat di seluruh Pakistan, dan dikuatirkan menjerumuskan Pakistan ke dalam kekacauan hanya kurang dua minggu sebelum pemilu direncanakan akan berlangsung.

Jenazah Bhutto dibawa ke desanya hari ini, Jumat, 28 Januari 2008 untuk dimakamkan.

“Rawalpindi adalah kota yang masyarakatnya pemberani,” katanya kepada massa pendukungnya. “Ketika ayah saya masih Perdana Menteri, kami tinggal di Rawalpindi. Saya telah tinggal di sini dalam banyak suka maupun duka.”

Di seluruh Pakistan masyarakat terkejut dan sangat terpukul mendengar kematiannya. Lawan-lawan politiknya pun memuji keberanian dan ketegarannya. Di Karachi, para sahabat karibnya menangis ketika mengetahui bahwa Benazir Bhutto terbunuh.

“Dia telah meninggal,” kata aktivis HAM Asma Jehangir, sambil menangis, setelah menerima kabar kematiannya lewat telefon. “Saya baru saja mengirim email kepadanya (Bhutto), dengan pesan ‘Jangan melakukan ini’ [muncul di depan massa secara terbuka], mereka akan membunuhmu.’”

Menurut saksi mata dan pihak kepolisian Bhutto, 54 tahun, ditembak di leher dan bagian punggung oleh seorang yang tak dikenal yang kemudian meledakkan dirinya, menewaskan sekurang-kurangnya 20 orang.

Presiden Musharraf menuduh teroris Islam sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian Bhutto dan berjanji bahwa “kami tidak akan berhenti sampai kami mengeliminasi para teroris ini.”

“Pembunuhan ini merupakan kemunduran besar untuk demokrasi di Pakistan,” kata Rasul Baksh Rais, seorang pengamat politik di Universitas Ilmu Manajemen Lahore. “Pembunuhan ini menunjukkan kelompok ekstrim begitu kuat sehingga bisa mengganggu proses demokrasi.”

Pengamat lain, Talat Masood, seorang pensiunan jenderal, mengatakan: “Keadaan di negeri ini telah mencapai suatu titik di mana sangat berbahaya bagi partai-partai politik untuk beroperasi.”

Bhutto berasal dari sebuah keluarga dengan sejarah tragedi yang panjang. Ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto, yang mendirikan Partai Rakyat Pakistan (Pakistan People’s Party – PPP) dan yang pernah menjadi presiden dan perdana mentri Pakistan, dihukum gantung oleh rezim militer dua tahun setelah sebuah kudeta militer. Setelah menjadi perdana menteri Pakistan selama dua periode, Benazir melarikan diri dari Pakistan di bawah bayang-bayang tuduhan korupsi dan tinggal delapan tahun dalam pengasingan yang dia terapkan sendiri.

Presiden Bush, yang berbicara singkat lewat telefon dengan Presiden Musharraf, kelihatan tegang ketika berbicara dengan para wartawan dan mengutuk “para ekstrimis pembunuh yang ingin menghancurkan demokrasi di Pakistan.”

Belum diketahui siapa di balik pembunuhan Benazir Bhutto, namun pihak intelijen Amerika dan kalangan militer dan pemerintah Pakistan sedang berusaha memastikan klaim dari pihak al-Qaida. (*)

17 Responses to “Benazir Bhutto Tewas Dibunuh”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. 11
    ehalawa Says:

    Diskusi tentang artikel ini cukup menarik. Ia mengasah kita berpikir secara lebih kritis, elegan, hati-hati, tajam, dan tepat. Selamat berdikusi terus.

    ehalawa

  2. 12
    Sin Liong Says:

    Terjunnya Bilawal Bhutto Zardari (19) yg mahasiswa Oxford University ke gelanggang politik menguatkan dugaan sementara orang bahwa fenomena gonjang-ganjing di Pakistan cenderung merupakan perjuangan rezim, bukan lah perjuangan demokrasi. Politik bukan lagi sekedar nepotisme, bahkan sebuah aristokrasi yang diwariskan kepada putra mahkota. Lalu di mana kah adanya demokrasi?

  3. 13
    Marute Says:

    Wah, ternyara diskusi makin hangat neh 🙂 Marute sama sekali tidak menyangka respons begitu banyak. Tadinya Marute cuma sekedar menyampaikan protes kecil ke Bang Marinus.

    Maaf kalau Bang Postinus melihat komentarku terhadap Bang Marinus tidak konstruktif. “Semoga Bang Marute lebih konstruktif jika memberi komentar.” demikian nasehat Bang Postinus.

    Apakah ini berarti Bang Postinus menganggap komentarku destruktif ?

    Barangkali lebih afdol komentarku itu dikelompokkan sebagai komentar dekonstruktif. Menurutku sih begini: Kalau destruktif berkonotasi negatif: menghancurkan, sementara “dekonstruktif” (menurutku lho, boleh diprotes) bersifat membangun .. yang konstruktif juga 🙂

    Melalui komentar Marute atas tulisan Bang Marinus, Marute mengingatkan Bang Marinus sisi-sisi lemah sejumlah pernyataannya yang agaknya ditulis secara “emosional”, karena masih dalam suasana duka atas kematian seseorang yang mendapat tempat khusus di hati Bang Marinus. Dari diskusi di atas, yang dipersoalkan bukan simpati Bang Marinus kepada Ny. Benazir Bhutto. Yang Marute persoalkan adalah kalimat-kalimat yang Bang Marinus pakai untuk menyatakan pesannya, bukan rasa simpatinya.

    Politisi kan sering sekali memanfaatkan suasana duka, bencana, dan semacamnya untuk mengeluarkan slogan-slogan yang tiada lain memiliki tujuan tertentu: tujuan politis. Kunjungan ke daerah-daerah bencana misalnya tidak jarang dimanfaatkan para politisi untuk menyampaikan pesan politiknya, sementara pernyataan simpati (bahkan bantuan material untuk menunjukkan simpati) seringkali hanya sebagai ‘bungkus’ pesan inti: pesan politik tadi !

    Kalimat-kalimat yang Bang Marinus pakai dalam pernyataan simpati itu ibarat sebuah bangunan ide, bangunan pikiran, bangunan pendapat. Bangunan itu menurut Marute mudah rubuh kalau ada goyangan kecil (hal ini terlihat dari komentar-komentar kawan-kawan lain).

    Maka, Marute membongkarnya kembali – batu-batu yang Bang Marinus susun Marute lepaskan satu persatu dari perekatnya, yang ternyata tidak kuat. Batu-batu itu tidak Marute buang atau hancurkan, Marute cuma minta Bang Marinus menyusun kembali batu-batu itu dengan perekat yang kuat (campuran ‘semen’ dan ‘pasirnya’ lebih tepat 🙂 ) Dengan demikian bangunan ide baru lebih kuat, lebih tahan banting, tahan hempasan angin kritik.

    Buat Bang Postinus, apa pula makna kalimat berikut: “Tadi malam saya mengikuti dialog interaktif Radio ElShinta, dan memang kematian B. Bhutto ini sangat disesalkan oleh dunia, bahkan ada seorang ibu (dari Indonesia) yang merasa kehilangan.” Tambah bikin pusing aja neh 🙂

    Terima kasih kepada Nias Online yang memberikan ruang ini bagi kita.

    Marute Ghania

  4. 14
    Jenk Iskhan Says:

    Gorys Keraf menulis, style (gaya bahasa) adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yg memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah style yg baik mengandung 3 unsur: kejujuran, sopan-santun, menarik. Kejujuran diartikan sebagai mengikuti aturan dan kaidah yg baik dan benar dalam berbahasa. Sopan-santun dimanifestasikan melalui kejelasan dan kesingkatan. Sedang “menarik” diukur dengan: variasi, humor yg sehat, vitalitas, dan imajinatif.

    Hiperbola yang tak mengandung unsur kejujuran, kejelasan, kesingkatan, dan hanya “menarik” untuk diperdebatkan, akan membuat transaksi komunikasi terganggu. Bahwa iklim demokrasi dalam sebuah diskusi tidak berjalan efektif, dapat juga dimaklumi, karena telah terjadi bias “encoding” pada komunikator.

    Jenk Iskhan

  5. 15
    Marinus W. Says:

    Saya masih berduka nih…Mudah-mudahan pengganti Ny. B. Bhutto dapat memberikan yang terbaik bagi perkembangan Demokrasi di Pakistan

    Apa pun yang anda persoalkan, Tapi Demokrasi tetap Jaya.

    Salam Untuk Bang Marute G.

  6. 16
    Marinus W. Says:

    Untuk Sin Liong
    Saohagolo komentarnya Bang…
    Tapi menurut saya, kita jangan berprasangka buruk deh..bahwa Ny. Benazir Bhutto terjun ke politik hanya untuk mempejuangkan rezim. Apa maksud dari pernyataan ini bang…saya harap anda baca baik-baik komentar saya di No.5.

    Kalau begitu, Mantan Presiden Mengawati terjun ke politik hanya untuk memperjuangkan rezim Soekanoisme? begitu bang….Bagaimana pendapat bang…dan bang Marute?

    Moderator http://www.niasbaru.wordpress.com

  7. 17
    Moh. Schneider Says:

    I love Benazir Bhutto…
    Knapa semua tokoh2 idola ku tewas dengan cara yang sma???
    Aq jadi tringat salah satu tokoh presiden wanita di India “Indira Gandhi”.
    Sama halnya dengan Bhutto yang sangad sederhana, cerdas dan menawan, cantik dan mulia di ranah politik internasional.
    Hufff,,, kenapa engkau tewas dengan cara mengenaskan wahai Bhutto, mengapa engkau menyusul sang “Indira Gandhi” yang tewas dengan cara yang sama seperti dirimu. Dibunuh oleh lawan politik dan orang0orang yang tidak sepaham dengan mu.

    Makin tragis ajha dunia perpolitikan dunia.
    Yang pasti, FIGHT TERORISM!!!
    Saya ragu atas sikap Amerika yang sok menentang terorisme, padahal besar kemungkinan semua kekacauan yang terjadi di dunia ini adalah ulah tangan2 kotor Yahudi Amerika seperti George Bush, Condoliza Rice, dll (bukan warga Amerikanya, karena warga Amerika menjadi sasaran atas kejahatan para pemimpinnya). Hanya 1 yang ingin saya ungkapkan, semoga saja nantinya nama2 seperti George W Bush, Pervez Musharraf, dan antek2nya tidak dicatatkan lebih ngeri dari pada apa yang sebenarnya mereka lakukan, karena orang2 seperti itu hanya bisa dihukum oleh SEJARAH…!!!
    Nama mereka akan abadi di kenang sebagai “PERUSAK bahkan PENGHANCUR PERADABAN”, dalam segala bidang

Pages: « 1 [2] Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2007
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31