Pemimpin oposisi utama Pakistan, Benazir Bhutto, tewas ditembak Kamis kemarin dalam sebuah pertemuan massal kampanye pemilu di Rawalpindi. Hanya beberapa saat sebelum dibunuh, Benazir Bhutto berpidato di hadapan massa pendukungnya di Rawalpindi, kota di mana ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto – mantan Presiden dan Perdana Menteri Pakistan – digantung oleh rezim militer pada tahun 1979.

Kematian Bhutto menimbulkan kemarahan rakyat di seluruh Pakistan, dan dikuatirkan menjerumuskan Pakistan ke dalam kekacauan hanya kurang dua minggu sebelum pemilu direncanakan akan berlangsung.

Jenazah Bhutto dibawa ke desanya hari ini, Jumat, 28 Januari 2008 untuk dimakamkan.

“Rawalpindi adalah kota yang masyarakatnya pemberani,” katanya kepada massa pendukungnya. “Ketika ayah saya masih Perdana Menteri, kami tinggal di Rawalpindi. Saya telah tinggal di sini dalam banyak suka maupun duka.”

Di seluruh Pakistan masyarakat terkejut dan sangat terpukul mendengar kematiannya. Lawan-lawan politiknya pun memuji keberanian dan ketegarannya. Di Karachi, para sahabat karibnya menangis ketika mengetahui bahwa Benazir Bhutto terbunuh.

“Dia telah meninggal,” kata aktivis HAM Asma Jehangir, sambil menangis, setelah menerima kabar kematiannya lewat telefon. “Saya baru saja mengirim email kepadanya (Bhutto), dengan pesan ‘Jangan melakukan ini’ [muncul di depan massa secara terbuka], mereka akan membunuhmu.’”

Menurut saksi mata dan pihak kepolisian Bhutto, 54 tahun, ditembak di leher dan bagian punggung oleh seorang yang tak dikenal yang kemudian meledakkan dirinya, menewaskan sekurang-kurangnya 20 orang.

Presiden Musharraf menuduh teroris Islam sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian Bhutto dan berjanji bahwa “kami tidak akan berhenti sampai kami mengeliminasi para teroris ini.”

“Pembunuhan ini merupakan kemunduran besar untuk demokrasi di Pakistan,” kata Rasul Baksh Rais, seorang pengamat politik di Universitas Ilmu Manajemen Lahore. “Pembunuhan ini menunjukkan kelompok ekstrim begitu kuat sehingga bisa mengganggu proses demokrasi.”

Pengamat lain, Talat Masood, seorang pensiunan jenderal, mengatakan: “Keadaan di negeri ini telah mencapai suatu titik di mana sangat berbahaya bagi partai-partai politik untuk beroperasi.”

Bhutto berasal dari sebuah keluarga dengan sejarah tragedi yang panjang. Ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto, yang mendirikan Partai Rakyat Pakistan (Pakistan People’s Party – PPP) dan yang pernah menjadi presiden dan perdana mentri Pakistan, dihukum gantung oleh rezim militer dua tahun setelah sebuah kudeta militer. Setelah menjadi perdana menteri Pakistan selama dua periode, Benazir melarikan diri dari Pakistan di bawah bayang-bayang tuduhan korupsi dan tinggal delapan tahun dalam pengasingan yang dia terapkan sendiri.

Presiden Bush, yang berbicara singkat lewat telefon dengan Presiden Musharraf, kelihatan tegang ketika berbicara dengan para wartawan dan mengutuk “para ekstrimis pembunuh yang ingin menghancurkan demokrasi di Pakistan.”

Belum diketahui siapa di balik pembunuhan Benazir Bhutto, namun pihak intelijen Amerika dan kalangan militer dan pemerintah Pakistan sedang berusaha memastikan klaim dari pihak al-Qaida. (*)

Facebook Comments