Ya’ahowu…

Terbayang jelas kenangan unik dan yang telah mendarah daging. Kebersamaan, keceriaan dan perenungan kembali arti menjadi seorang Kristen. Dimulai dari peristiwa Natal, kelahiran Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat dunia. Walau hampir setiap peringatan hari Natal dipenuhi dengan kesemarakan [tapi, pada umumnya  tidak sesemarak di kota], namun, hari Natal menjadi permulaan yang baru atas babak baru kehidupan.

Pada hari Natal, seolah seluruh roda kehidupan berhenti. Semua berhenti dan melepas kelelahan dan kedahagaan akibat beratnya beban hidup selama setahun, setelah perayaan Natal sebelumnya. Semua beban hidup seolah hilang miterius dalam keceriaan dan sukacita. Baik karena dampak spiritual dari perayaan hari Natal itu sendiri, maupun karena saat hari Natal merupakan salah satunya moment yang ‘memaksa’ seluruh anggota keluarga untuk berkumpul.

Tidak ada yang melebihi kebahagiaan karena bertemu dan bercengkerama dengan keluarga. Para perantau kembali ke rumah dan disambut seperti penyambutan anak yang hilang, yang telah lama ditunggu dengan rindu, kehadirannya.

Perayaan Natal juga menjadi kesempatan untuk beribadah di gereja bersama-sama setelah pergumulan hidup ‘memisahkan’ antar anggota keluarga selama sekitar setahun.

Perayaan Natal juga menjadi saat-saat krusial dimana dalam persekutuan di dalam keluarga, ada nyanyian dan renungan bersama. Selanjutnya, refleksi atas kasih Tuhan selama setahun ini. Kemudian diakhiri dengan evaluasi mengenai bagaimana seharusnya hidup dilanjutkan. Evaluasi ditutup dengan mengakui segala kesalahan dan saling mengampuni.

Biasanya, seluruh rangkaian acara temu kangen tersebut dibarengi dengan acara makan dan minum, berkirim makanan antar kerabat dan lain-lain.

Biasanya, ‘prosesi’  seperti dijelaskan di atas juga sering dilakukan pada saat pergantian tahun, tepatnya tengah malam.

Ah, sungguh syahdu terasa. Momen yang dirindu itu datang lagi.  Yang terpaksa tidak bisa pulang ke Nias, terpaksa menanggung ‘beban’ kerinduan yang terkadang terasa pilu. Keluarga yang menunggu di Pulau Nias pun, juga gundah karena tidak bisa merasakan kehangatan kebersamaan itu, kali ini.

Tapi, seringkali terselip kesedihan. Sebab, peringatan kelahiran Sang Juruselamat, hanya sekedar sebuah perayaan yang memuaskan dahaga batin sesaat. Hari Natal adalah perayaan, tidak lebih dari itu. Perayaan tidak lebih dari sekedar pesta dan keriuhan warna-warni dekorasi dan sibuknya acara gereja.

Ah, seandainya perayaan Natal kali ini, berbeda dengan Natal di berbagai pusat perbelanjaaan atau semacamnya. Natal hanyalah kendaraan untuk mendapatkan keuntungan lebih besar. Natal kehilangan kemuliaannya, bukan karena harinya sendiri, tapi karena siapa yang diperingati kelahirannya.

Hari Natal adalah momen pertemuan antara Allah yang mahakudus dengan manusia berdosa. Manusia yang tidak lagi memiliki pengharapan. Kehadiran-Nya dalam wujud manusia yang melalui kelahiran oleh Perawan Maria, adalah bagian dari rencana ilahi untuk bertemu manusia yang tidak layak lagi ditemui karena keberdosaannya.

Dengan kelahiran-Nya, maka Dia sesungguh-Nya telah datang menemui manusia. Selanjutnya, dengan kematian-Nya di kayu salib, menggenapkan rencana kekal-Nya untuk penyelamatan manusia. Manusia yang tidak mungkin bisa menyelamatkan dirinya sendiri, atau pun diselamatkan oleh sesama manusia, bahkan oleh orang yang dianggap suci sekalipun. Kelahiran, kematian dan kedatangan-Nya kembali untuk menjemput mereka yang percaya kepada-Nya, adalah momen kekal yang terjadi dalam keterbatasan manusia untk bertemu dengan Allah yang kekal dan tak terbatas.

Momen kekal itu menjadi perantara terbukanya pintu untuk bertemu dengan Tuhan dalam kekekalan. Pertemuan yang hanya melalui Dia yang telah lahir, disalibkan, bangkit dari kematian, dan akan datang pada akhir zaman. Dia yang berkata, “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorang pun yang sampai kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku,” (Yohanes 14:6).

Hari Natal, adalah bagian dari prosesi kekal penyelamatan manusia. Inilah salah satu inti perayaan yang paling banyak tertutupi oleh timbunan kado hadiah dan kemeriahan perayaan yang dientertain sedemikian rupa. Bahkan, kadang-kadang terkuburkan oleh kefoya-foyaan pesta dan mabuk-mabukan. Akhirnya, perayaan Natal tidak lebih dari sekedar perulangan ritual kumpul-kumpul, makan-makan, minum-minum dan mabuk-mabukan yang akan diulangi setiap tahun, setiap hari Natal.

Oh Natal adalah kelahiran Sang Kudus. Bukan ritual perulangan atau pun perulangan ritual. Perayaan hari Natal sejatinya, merefresh atau pun meneguhkan iman kita kepada Dia yang telah lahir, yang olehnya setiap orang yang percaya beroleh jaminan hidup yang kekal. Kehidupan bersama dengan Allah di Sorga.

Semoga perayaan Natal kali ini menjadi titik awal yang baru untuk sebuah tata perayaan yang layak, baru dan berkenan kepada Dia yang diperingati kelahiran-Nya.

Selamat Hari Natal, selamat memperingati saat kehidupan kekal diberikan oleh Yesus Kristus. Selamat Tahun Baru 2008, selamat memulai dan melanjutkan hidup bersama dengan Dia. 

Natal adalah saat Allah hadir bersama manusia. Itulah Immanuel. Jangan lupakan itu. Mari rayakan Natal kembali, sesuai dengan rencana mulia dan kekal Allah yang hadir saat itu. Mari perbarui perayaan dengan menyadari kehadiran-Nya di sana. Tuhan memberkati kita semua.

(etisnehe@yahoo.com)

Facebook Comments