Oleh: Benny Susetyo

Natal mengajarkan kepada manusia tentang era kehidupan baru, dari kegelapan menuju terang. Terang Natal bukan hanya seperti diwujudkan warna-warni lampu hias, tetapi bagaimana secara sadar membawa kehidupan baru yang lebih adil dan damai.

Manusia membutuhkan momentum untuk merefleksikan diri. Makna terdalam kedatangan Sang Juru Selamat untuk zaman ini adalah menegaskan kembali semangat-Nya untuk melawan ketidakadilan dan penindasan.

Ketidakadilan sudah membudaya dan menggerus kebijaksanaan dalam kehidupan. Ketidakadilan banyak dicerminkan dari kehidupan yang timpang, antara yang kaya dan miskin, bodoh dan pintar, banyak dan sedikit, atau elite dan jelata. Mereka yang miskin dan bodoh selalu menjadi obyek, yang dikorbankan oleh yang kaya dan pintar.

Harmoni kehidupan pun menjadi tidak imbang. Harapan untuk bisa saling memberi dan menerima antara yang berkelebihan dan berkekurangan nyaris pupus, sebab mereka yang berkelebihan sering memperolehnya secara paksa atau dengan “menipu” mereka yang berkekurangan.

Orang kaya pun sering kehilangan kesadaran bahwa kekayaan mereka sebagian besar merupakan “sumbangan” dari sebagian besar orang yang disebut miskin. Sebab, tak ada orang kaya bila tak ada yang miskin.

Mengabaikan keseimbangan

Kehidupan ini kian merosot saat moralitas keseimbangan diabaikan. Ketidakadilan dalam berbagai jenisnya dikembangbiakkan dan sering diwarnai seolah-olah itu merupakan fakta alam. Bahkan ketidakadilan dalam berbagai cara, oleh penguasa dan orang kaya, diajarkan sebagai suatu keadilan.

Kita kehilangan kebijaksanaan dalam hidup. Pragmatisme kehidupan menguasai dan tercermin dalam budaya komersialisasi yang begitu keras. Pencemaran nilai-nilai agama oleh budaya komersialisme itu bahkan sudah pada tahap mencemaskan. Tak terkecuali Natal. Kita memahami mengapa Paus Benediktus mengkritik tajam Natal yang bercorak komersial sehingga kerap menggerus makna hakikinya.

Tanpa disadari, ketercerabutan nilai-nilai agama, baik oleh kekuasaan maupun uang, sudah nyaris melumpuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Penghayatan nilai kemanusiaan luntur oleh situasi yang membolehkan manusia bersikap serakah dan mencaplok hak orang lain.

Kesenjangan adalah wujud ketidakadilan paling nyata. Namun, bukan kesenjangan itu yang dipersoalkan, tetapi mengapa kesenjangan terjadi dan bagaimana sikap untuk mengatasinya, itulah yang menjadi masalah.

Kesenjangan terjadi akibat solidaritas yang lemah. Dan, upaya mengangkat kesejahteraan diri sering dilakukan dengan menikam yang lebih lemah. Setelah itu, kesenjangan sedikit demi sedikit dilupakan sebagai masalah sehingga solidaritas seolah tidak diperlukan lagi. Ini terjadi saat semua orang berpikir “cari selamat sendiri-sendiri”.

Individualisme

Watak individualisme merupakan bawaan dari kebudayaan kapitalisme yang mengajarkan hedonisme melalui penguasaan terhadap harta benda. Komersialisme merupakan media untuk mengantarkan semua orang mendapat kesenangan personal. Kebahagiaan kolektif tercipta akibat kebahagiaan personal.

Namun, ajaran yang kini kian nyata dan menjadi perikehidupan sehari-hari itu selalu mengabaikan fakta bahwa kebahagiaan individual tidak pernah datang bersama. Akibatnya, sering terjadi pertarungan untuk memperebutkan kebahagiaan individual dengan menghancurkan lainnya.

Inilah “gelap” yang harus dihapus. “Gelap” itu sebuah situasi di mana ketidakadilan, kesenjangan, penindasan, pengisapan, keserakahan, dan kekejaman berbaur menghilangkan toleransi, keadilan, dan kebijaksanaan. Masihkah ada kesempatan bagi manusia untuk keluar dari jurang ini? Natal merupakan kehidupan baru, yakni momentum bagi refleksi diri manusia agar berubah lebih solider, bijaksana, dan adil untuk melahirkan budaya damai.

Kelahiran Juru Selamat bermakna sebagai kelahiran kehidupan baru yang lebih damai dan menyingkirkan penindasan. Kini penindasan demi penindasan sudah di depan mata, bahkan dalam bentuk yang elok-elok, seolah bukan penindasan. Makna Natal bagi orang beriman adalah melawan penindasan dengan memperluas sikap solider dan menjunjung tinggi kesadaran berkehidupan bersama.

Bukanlah kaum beriman jika melihat tragedi kelaparan, mereka justru menari di “Gunung Sinai”, membiarkan penindasan di depan mata. Yesaya mengatakan ibadat akan berkenan di hati Allah bila ada solidaritas antarsesama.

Benny Susetyo Pendiri Setara Institute

 Sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/21/opini/4093830.htm

Facebook Comments