Oleh Josef Purnama Widyatmadja

Mendengar suara tangisan bayi di palungan dan taat pada pesan malaikat itulah makna Natal yang sebenarnya. Pristiwa Natal yang ditulis dalam Injil Matius dan Lukas merupakan sebuah kisah ironis. Pertama, yang mencari bayi Mesias yang lahir bukan penduduk Yerusalem atau pemimpin agama Yahudi, tapi orang Majus dari Timur. Orang beragama yang tiap hari membaca Kitab Suci gagal mengetahui kelahiran Mesias Raja Damai, sebaliknya orang Majus mengetahui kelahiran Sang Mesias, tapi melalui tanda-tanda bintang di langit. Kedua, dalam Injil Lukas, berita malaikat Tuhan “jangan takut ” bukan disampaikan kepada pemimpin agama di rumah sembahyang atau pembesar istana di Yerusalem, tapi kepada para gembala di Effrata.

Para gembala mendapat perhatian khusus dari Allah untuk menerima kabar “jangan takut” bukan para pembesar negara dan agama di Yerusalem. Para gembalalah yang berharap datangnya perubahan berupa kedatangan Kerajaan/Pemerintahan Allah.

Sindiran dan Teguran

Orang Majus bukanlah umat Allah keturunan Yakub, sedangkan para gembala bukanlah kelompok manusia yang tiap pekan melakukan ibadah di rumah sembahyang. Kepada merekalah Allah menyapa dalam peristiwa Natal. Peristiwa Natal merupakan sindiran dan teguran Allah kepada mereka yang merasa mengetahui isi Kitab Suci, tapi gagal mengetahui kelahiran Mesias.

Orang Majus salah alamat ketika bertandang ke istana Raja Herodes untuk mencari bayi Yesus. Bayi Yesus tidak di sana, tapi di tempat kumuh pinggiran kota Betlehem. Rumah sembahyang dan istana raja bukan tempat aman untuk menaungi bayi yang lahir kedinginan dan kelaparan. Istana dan rumah sembahyang telah berubah menjadi tempat kemunfikan dan persengkokolan untuk membunuh bayi di palungan.

Ketika manusia yang berkumpul di rumah sembahyang dan istana tidak lagi peka terhadap krisis lingkungan dan kemiskinan maka Allah akan memakai jalan lain untuk menyapa manusia. Berita Natal yang disampaikan oleh orang Majus dan malaikat Tuhan merupakan berita buruk bagi para pembesar negara. Berita Natal yang di sampaikan orang Majus dan para malaikat merupakan gugatan dan perlawanan terhadap hegemoni dan supremasi kerajaan Romawi atas bangsa-bangsa di dunia. Bukan Kaisar Pax Romana itu yang menjadi Tuhan, tapi bayi di palungan.

Kelahiran Sang Mesias meniup seruling perdamaian dan keadilan untuk menggantikan genderang perang dan kelaliman yang ditabuh oleh penguasa Romawi. Kemapanan dan keserakahan orang istana dan rumah sembahyang di Yerusalem menyebabkan mereka menjadi orang yang antiperubahan dan tidak rindu kedatangan Tuhan berupa penegakan keadilan. Keserakahan dan kemapanan telah menyebabkan mata pembesar tak mampu lagi melihat kemiskinan, telinga mereka tak mampu mendengar tangisan dan hati nurani mereka tak peduli lagi atas penderitaan petani dan buruh migran, seperti Maria dan Yusuf.
Mendengar dan Taat

Suasana istana Herodes berbeda dengan suasana padang Effrata. Istana raja dipenuhi dengan kemewahan harta hasil pemerasan sedangkan padang Effrata ditandai alam yang ramah dengan lingkungan. Lagu di istana berbeda dengan lagu yang dinyanyikan para malaikat di padang Effrata. Di padang Effrata malaikat Tuhan bernyanyi “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera bumi di antara manusia yang diperkenanNya” (Lukas 2: 14). Sedangkan di istana raja para pembesar berseru “Kemuliaan bagi kaisar di tempat yang memiliki senjata, harta dari tanah jajahan. Dan bersiaplah perang untuk menumpas bangsa-bangsa yang tidak mau takluk pada pasar dan kekaisaran ”

Kisah Natal adalah kisah Allah berpaling muka terhadap umat yang mengaku dirinya sebagai umat pilihan, karena Allah justru memilih orang Majus dan gembala di padang Effrata yang tak masuk hitungan.

Herodes punya kekuasaan, kelicikan, dan kekejaman, sebaliknya orang Majus punya kebijakan, hati belas kasih dan ketaatan pada Tuhan. Memahami tanda bintang di langit dan taat pada pesan malaikat menjadi pilihan iman walaupun berarti mengabaikan titah kerajaan. Setelah berjumpa bayi Yesus, orang Majus bukan kembali kepada Raja Herodes, tapi memilih jalan sempit dan terjal demi menyelamatkan bayi yang tak berdosa. Memakai jalan lain berarti manusia berani mengabaikan jalan utama. Memakai jalan lain merupakan suatu pilihan iman ketika seseorang ingin menyelamatkan kehidupan generasi mendatang. Makna tanda-tanda bintang di langit berupa kerusakan dan perubahan iklim boleh jadi cara Allah untuk berkomunikasi dan menyapa manusia dari zaman ke zaman.

Dalam menata ekonomi dan melaksanakan pembangunan, pemerintah perlu memakai jalan lain, bila jalan utama, yang dipakai sekarang tidak memberikan kehidupan dan harapan. Berbalik arah dan memakai jalan lain perlu dilakukan oleh anak bangsa ketika reformasi telah membuat manusia tidak lagi mampu mendengarkan jeritan dan tangisan rakyat. Memakai jalan lain perlu dilakukan oleh bangsa-bangsa di dunia ketika Washington Consensus, Putaran Uruguay dan Doha, Protokol Kyoto ataupun Peta Jalan Bali tidak lagi memberikan harapan. Keberanian memakai jalan lain dan mengupayakan kehidupan bagi bayi yang kedinginan, itulah pesan Natal bagi orang yang sudah berjumpa Tuhan di palungan. Selamat Natal.

Penulis adalah Pengamat Masalah Nasional dan Internasional

Sumber: www.suarapembaruan.com, Last modified: 21/12/07

Facebook Comments