Oleh Remy Sylado

Di dusun ini Mbah Pur paling miskin. Satu-satunya harta yang dipunyainya hanya nurani, sesuatu yang bagi orang partai merupakan senjata politik. Hari Natal tahun ini baginya adalah hari gatal. Dia bingung, empot-empotan, tak punya uang untuk membeli gas pengganti minyak tanah, guna memasak gerontol yang bisa dihidangkannya kepada empat orang yang bakal datang dari kota: anak, menantu, dan cucu-cucu.

Di pekan ketiga Adven dilihatnya papan-papan bekas peti sabun terbiar-biar di belakang gereja. Serta-merta disimpulnya bekas peti sabun itu sampah. Maka dipungutnya, dibawa ke rumah, dibuatnya kayu api untuk memasak gerontolnya.

Besoknya muda-mudi gereja yang bertugas membuat dekor Natal heboh. “Palungan hilang!”

Palungan dalam gambaran Kristen tak laras dengan lema palungan menurut kamus Pusat Bahasa. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia terbaca: palungan, bak tempat makan dan minum ternak. Adapun palungan yang muncul pertama di Injil Sinoptis, Lukas 2, dalam gambaran Kristen Indonesia dilaraskan dari tradisi seni rupa Barat—Giotto, Grunewald, Rembrandt, dan seterusnya—adalah kotak kayu berkaki.

Kotak kayu itu, yang akan dibuat dekor oleh muda-mudi gereja, sudah jadi abu, dibakar Mbah Pur untuk memasak gerontolnya. Karuan muda-mudi itu geram kepadanya.

Mbah Pur sedih. Dalam ekawicara yang disaksikan nurani sebagai wilayah peradilan ilahi, terangkai kata pengharapan, “Kenapa aku harus gatal di 25 Desember sekarang ketimbang 21 Maret besok? Bukankah kematian Anak Manusia menjanjikan kehidupan bagi manusia?”

 Sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/21/Natal/4093281.htm

Facebook Comments