Berdamailah Dengan Planet

Saturday, December 15, 2007
By nias

Oleh: Al Gore – Aktivis Perubahan Iklim

Kita, spesies manusia, sedang berkonfrontasi dengan kedaruratan planet bumi – suatu ancaman terhadap keberlanjutan peradaban kita yang sedang menghimpun potensi yang menakutkan dan destruktif. Akan tetapi ada juga berita yang membawa harapan: kita memiliki kemampuan mengatasi krisis ini dan menghindari keadaan terburuk – walau tidak semua – dari semua akibatnya, apabila kita bertindak tegas, tanpa keraguan, dan cepat.

Akan tetapi, walau makin bertambah jumlah pengeculaian, masih banyak pemimpin dunia yang sikap dan tindakan mereka dapat dilukiskan dengan baik dengan kata-kata Winston Churchil ketika memperingatkan mereka yang mengabaikan ancaman Adolf Hitler: “Mereka melangkah dalam paradoks yang aneh, memutuskan untuk tidak mengambil keputusan, mencari solusi untuk tidak menemukan solusi, tegas tetapi tanpa arah yang jelas, begitu berkuasa tetapi tak berdaya”.

Hari ini kita membuang 70 juta ton lagi polusi pemanasan global ke dalam atmosfir yang mengelilingi planet kita, seakan-akan atmosfir ini suatu tempat pembuangan limbah terbuka. Dan besok, kita akan membuang jumlah yang sedikit lebih besar itu, dengan konsentrasi kumulatif yang kini memerangkap makin banyak panas dari matahari.

Sebagai akibatnya, bumi kita menderita demam. Dan “suhu badan” planet bumi kita semakin meningkat. Para ahli telah memberitahukna kepada kita bahwa demam bumi tidak akan sembuh sendiri. Kita meminta pendapat kedua. Dan ketiga. Dan ke empat. Dan simpulan yang konsisten, dinyatakan kembali dengan peringatan kekuatiran yang semakin besar, bahwa fundamen kita yang salah.

Kitalah yang salah, dan kita harus memperbaikinya.

Dalam tahun-tahun sejak Hadiah (Nobel) ini diberikan, relasi menyeluruh antara manusia dan bumi telah bertransformasi secara radikal. Dan kita masih saja belum sadar akan dampak aksi-aksi kumulatif yang kita lakukan terhadap bumi.

Sesungguhnya, tanpa menyadarinya, kita sedang memerangi bumi itu sendiri. Sekarang, kita dan iklim bumi terperangkap dalam hubungan yang sangat dikenal oleh para perancang perang: “Keniscayaan kehancuran bersama”.

Sekaranglah waktunya untuk berdamai dengan planet bumi kita.

Kita harus memobilisasi dengan cepat peradaban kita secara mendesak dan dengan tekad yang kuat yang sebelumnya diperlihatkan oleh bangsa-bangsa ketika menghadapi perang. Kita harus meninggalkan anggapan bahwa aksi-aksi perorangan, terisolasi dan privat merupakan jawaban. Aksi-aksi semacam ini memang bisa menolong, tetapi tidak membawa kita lebih jauh ke depan tanpa aksi kolektif. Pada saat yang sama kita harus memastikan bahwa dalam memobilisasi secara global, kita tidak mengundang lahirnya konformitas ideologi dan isme imitasi baru.

Ini berarti mengadopsi prinsip-prinsip, nilai-nilai, hukum-hukum dan kesepakatan-kesepakatan yang membebaskan kreativitas pada setiap tingkat masyarakat dalam respons yang berlipat-ganda yang lahir secara bersamaan dan spontan. Kesadaran baru ini memerlukan perluasan kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam kemanusiaan kita. Para inovator yang akan menciptakan cara baru untuk memanfaatkan energi surya secara murah atau menciptakan mesin yang justru mengurangi karbon (carbon negative) bisa tinggal di Lagos atau Mumbai atau Montevideo. Kita harus menjamin para penemu dan entrepreneur di seluruh dunia memiliki kesempatan mengubah dunia.

Kita harus memahami kaitan antara krisis iklim dan penyebab kemiskinan, kelaparan, HIV-AIDS dan pandemik lain. Karena masalah-masalah ini saling terkait, solusinya juga harus saling terkait. Kita harus memulai dengan menjadikan penyelamatan lingkungan global sebagai prinsip sentral yang mengarahkan masyarakat dunia.

Lima belas tahun lalu, saya menjelaskan hal itu di Pertemuan Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro. Sepuluh tahun lalu, saya menyajikannya di Kyoto. Minggu ini, saya akan mendesak para delegasi di Bali untuk mengadopsi mandat yang kuat untuk sebuah kesepakatan yang melahirkan pembatasan emisi global universal dan menggunakan pasar perdagangan emisi untuk mengalokasikan sumber-sumber daya secara efisien pada peluang-peluang paling efektif untuk pengurangan emisi secara cepat.

Kesepakatan ini harus diratifikasi dan diberlakukan secara efektif di seluruh dunia pada permulaan tahun 2010 – dua tahun lebih cepat dari yang direncanakan sekarang. Kecepatan respons kita harus ditingkatkan untuk mengimbangi kecepatan krisis itu sendiri.

Para kepala negara harus bertemu di awal tahun depan untuk mengkaji apa yang telah dicapai di Bali dan mengambil tanggungjawab pribadi untuk mengatasi krisis ini. Mengingat seriusnya masalah yang kita hadapi, bukan hal yang luar biasa untuk mengharapkan para kepala negara ini bertemu sekali setiap tiga bulan sampai kesepakatan tercapai.

Kita juga memerlukan moratorium terhadap pembangunan fasilitas pembangkitan yang menggunakan batubara tanpa kemampuan memerangkap dan menyimpan karbon dioksida.

Dan yang paling penting dari semuanya, kita harus memberikan harga pada karbon – dengan pajak karbon dioksida yang nanti akan dikembalikan kepada masyarakat secara progresif, berdasarkan undang-undang masing-masing negara, dalam cara-cara yang akan memindahkan beban perpajakan dari pekerjaan ke polusi. Ini merupakan cara paling sederhana dan efektif untuk mempercepat pemecahan krisis ini.

Dunia memerlukan aliansi – terutama aliansi bangsa-bangsa yang bobotnya paling besar dalam skala neraca dunia. Saya salut kepada Eropa dan Jepang atas langkah-langkah yang telah mereka ambil beberapa tahun terakhir untuk menghadapi tantangan, dan kepada pemerintahan baru di Australia, yang telah menjadikan solusi krisis iklim sebagai prioritas utamanya.

Akan tetapi hasil usaha ini akan sangat dipengaruhi oleh dua bangsa yang hingga sekarang belum berbuat banyak: AS dan Cina. Sementara India sedang bertumbuh cepat, harus jelas bahwa kedua negara penghasil emisi terbesar itulah – dan terutama negaraku sendiri (AS) – yang diharapkan mengambil tindakan besar dan nyata, atau mereka akan diadili oleh sejarah atas kelalaian mereka untuk bertindak.

Kedua negara (AS dan Cina) harus berhenti menggunakan sikap yang lain sebagai alasan ketidakmajuan; sebaliknya, mereka harus membuat suatu agenda untuk kelangsungan hidup bersama dalam lingkungan global yang kita hidupi bersama.

Jalan di depan kita sulit. Batas luar yang kini kita anggap layak masih jauh dari apa yang harus kita lakukan.

Maka saya ingin mengakhiri seperti saya mulai, dengan sebuah visi dari dua masa depan.

Generasi mendatang akan bertanya kepada kita satu dari dua pertanyaan berikut. Mungkin mereka bertanya: “Apa yang kalian pikirkan di masa lalu; mengapa kalian tidak bertindak ?

Atau mereka akan bertanya: “Bagaimanda kalian menemukan dorangan moral untuk membahas dan pada akhirnya memecahkan krisis yang menurut banyak orang mustahil terpecahkan ?

Kita memiliki segala yang kita perlukan untuk memulai, kecuali banrangkali kemauan politik, tetapi kemauan politik adalah suatu sumber daya terbarukan.

Maka marilah kita memperbaharuainya, dan mengatakan secara bersama-sama: “Kita memiliki tujuan. Kita banyak. Untuk tujuan ini kita bangkit, dan kita akan bertindak.”

*Kuliah Nobel yang diberikan oleh Pemenang Nobel Perdamaian 2007, Al Gore – Oslo, 10 Desember 2007. Terjemahan bebas oleh E. Halawa. Foto dari Situs: Climate Protect – www.climateprotect.org.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2007
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31