hiza nono wofo
ba hogu nohi
nafaigi mbunia
o ginigini
asöndru dödöda
wamondrongo li
me ilau mowengu
susuwongi

ba he uwisa wanga’i
bbe danga aröu sibai

Hiza nono wofo … dst.

Catatan:

  • Terima kasih atas tambahan dan koreksi dari Fofou’sö.
  • Lagu ini sangat ceria, sangat populer tahun 1960-an.
  • Dalam komentarnya, Fofou’sö merangkaikan “he” dan “uwisa” menjadi he’uwisa. Saya cenderung memisahkannya dengan alasan: di situ ada dua pengertian: he (bagiamana) dan wisa (jalan, cara, tindakan). Maka ada: he uwisa, he tawisa, he miwisa, he öwisa. “La’ua, wara he tawisa…” -> Biarlah, kita mau buat apa … Kalau kita merangkaikan menjadi heuwisa, hetawisa, dst, maka semakin sulit menerangkannya dari segi tatabahasa (“imbuhan” tidak biasanya muncul di tengah-tengah kata, melainkan di awal atau akhir sebuah kata). Kita juga sulit mengklaim hal itu sebagai “ciri khas” Li Niha.
Facebook Comments