Oleh: Fenueli Zalukhu

Perbincangan yang berlangsung cukup akrab namun serius antara saya dan seorang menumpang Pesawat Merpati lainnya dalam penerbangan menuju Medan beberapa bulan lalu adalah sebuah pengalaman yang sulit saya lupakan.

Saat itu saya duduk di deretan paling kanan bangku nomor 3 pesawat CN-235 buatan IPTN-Bandung tersebut. Di sebelah kiri saya duduk seorang ibu setengah baya yang, menurut pengakuannya, kepergiannya ke Medan dalam rangka mengurus surat-surat tanah.

Entah karena pernah melihat saya sebelumnya atau karena melihat kartu pengenal yang saya kenakan, tiba-tiba saja ibu tersebut bertanya: ”Bapak kerja di BRR ya?

Padahal, kartu pengenal saya sudah saya masukkan ke dalam kantong baju. Hanya talinya saja yang masih melilit di leher saya.

Dengan sedikit kaget saya jawab: ”Iya Bu, saya memang kerja di BRR, tepatnya di BRR Distrik Nias.”

Dengan hanya sedikit sekali basa-basi ibu ini langsung menghujani saya dengan pertanyaan kira-kira proyek apa yang saya punya dan yang bisa saya kerjasamakan dengan dia. Karena sudah terbiasa straight to the point kalau ngomong maka saya langsung saja menanggapi pertanyaan ibu ini dengan mengatakan: ”Bu…, mohon maaf sekali kalau saya harus berkata bahwa saya belum begitu paham apa yang ibu maksud. Saya memang betul kerja di BRR. Tapi saya tidak punya proyek. Apalagi proyek yang bisa dikerjasamakan.

Lalu dengan nada sedikit meninggi ibu ini terus nyerocos dengan ekspresi seperti tidak mempercayai sedikitpun apa yang saya katakan. Dia mengatakan bahwa sebagai orang yang bekerja di satu lembaga yang menangani dana cukup besar tidak mungkin tidak punya proyek. Lalu dia terus saja mendesak, mungkin juga didasari oleh rasa penasaran dan akhirnya ia sampai pada tahap pembicaraan mengenai fee atau bagi hasil yang fair apabila dia dapat proyek dari saya. Fee atau bagi hasil yang fair menurut dia adalah adanya pembagian hasil yang sepantasnya apabila pada proyek tersebut ternyata terdapat keuntungan (laba). Dia juga menolak apabila fee diminta bayar di depan, katanya.

Terus terang, otak saya sudah mulai disesaki rasa penasaran bercampur kesal saat itu. Kenapa ibu ini sampai berani bertanya soal proyek bahkan menawarkan kerjasama seperti ini? Padahal, ibu ini saya tidak kenal sama sekali. Ibu tersebut memang sekilas kelihatan sebagai orang yang sudah beberapa kali mendapat proyek. Dia bukan dari kelompok masyarakat kebanyakan.

Lalu dengan tenang dan berusaha untuk sedikitpun tidak emosi saya berkata kepadanya: ”Bu…, apa yang saya katakan itu tadi benar adanya. Saya memang kerja di BRR. Tapi ibu harus tau bahwa pegawai dalam BRR itu tugas yang ditangani bermacam-macam. Nah saya ini ibu, kerja di BRR Distrik Nias sebagai Asisten Manager Pemberdayaan Ekonomi dan Usaha. Tugas utama orang seperti saya ini adalah menyusun program. Karena saya adalah termasuk jajaran manajemen BRR Nias yang sudah setahun lebih menangani bidang Ekonomi dan Pengembangan Usaha, maka program bidang ekonomi T.A. 2007 BRR Nias sebagian besar saya yang susun.

Nah… itu dia makanya…,” kata ibu ini sambil menatap muka saya tambah serius.

Tapi.., Ibu… saya tidak punya proyek seperti yang ibu maksud,” kata saya.

Menurut hierarki yang berlaku di kantor kami, yang menjadi pelaksana program atau sering juga diistilahkan sebagai PIMPRO adalah PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) atau dengan sebutan lama yaitu Satker. Dan di dalam PPK atau Satker itu sendiri ada lagi petugas khusus yang menangani bagian pelelangan proyek yaitu panitia lelang.

Belum tuntas penjelasan saya soal ini ibu tersebut nyambar lagi: ”Tapi Bapak kan bisa minta jatah? Di mana-mana juga biasanya begitu,” katanya.

Dengan tidak sabar lagi pembicaraan ibu ini langsung saya potong dengan berkata agak tegas namun lembut: ”Ibu…, mohon maaf ya. Jika orang lain atau di tempat lain ada orang yang minta-minta jatah seperti yang Ibu katakan itu, bagi saya kasus tersebut tidak berlaku. Saya bukan tipe orang seperti itu.

Wah… bapak BODOH,” katanya. ”BRR ini kan tinggal sekitar setahun lagi? Kenapa tidak mau ambil kesempatan? Toh kerjasama seperti yang saya tawarkan tadi kan bukan korupsi. Bapak hanya minta jatah proyek kepada PPK/Satker atau Panitia Lelangnya. Dan Bapak kan bisa memilih rekanan yang bertanggungjawab dan dapat menepati janjinya. Kalau Bapak begitu terus, kapan suksesnya…?

Dengan sedikit menghela nafas pelan-pelan saya berkata pada ibu ini:

Ibu…, biarpun saya dikatakan BODOH dan hidup saya divonis akan begini-begini terus, saya tetap tidak akan bisa melakukan itu. Saya ini punya keyakinan dan iman bu…, bahwa berkat buat seseorang itu tersedia dengan sangat melimpah di genggaman tangan Tuhan. Tetapi Tuhan akan memberikannya kepada kita menurut kehendak-Nya, seturut iman percaya dan inisiatif yang kita lakukan. Saya mensyukuri seberapa pun imbalan (gaji) yang saya terima selama bekerja di BRR ini. Karena saya bekerja di BRR ini tidak semata-mata untuk mengejar materi, walau pun saya memang butuh materi seperti manusia lainnya. Tapi kehadiran saya di Nias ini boleh saya katakan lebih karena panggilan jiwa dan rasa penasaran ingin mengaktualisasikan hal-hal yang pernah berkecamuk di benak saya jauh hari sebelumnya. Saya bahkan kalau boleh cerita Bu…, gara-gara bekerja di BRR, saya sampai tidak bisa mengurusi usaha saya sendiri di Jakarta walau hanya usaha kecil-kecilan. Sehingga pada tahun 2006 lalu saya kehilangan proyek suplai barang (eksport) senilai 85.000 Euro lebih. Karena usaha saya hanya dipegang oleh istri bersama beberapa orang pegawai, maka dari proyek senilai ratusan ribu Euro tersebut hanya sebagian saja yang berhasil saya dapatkan. Tetapi hal tersebut sedikit pun tidak saya sesali. Karena kerja di BRR adalah kemauan dan keputusan saya sendiri, dengan dibantu dukungan moril dari keluarga tentunya. Besok lusa saya putuskan untuk kembali ke Jakarta dan gabung lagi dengan keluarga maka mudah-mudahan saya puas. Setidaknya karena panggilan jiwa dan rasa penasaran saya sudah saya lakukan.

Lalu dengan mimik yang sedikit aneh namun tetap semangat ibu ini kemudian berkata: ”Baiklah Pak kalau begitu. Tetapi mana tau di kemudian hari ada peluang, silahkan hubungi saya di nomor ini,” sambil menyodorkan nomor HPnya dan menyebutkan nama daerah di mana dia tinggal ia menyalami saya sambil berkata ”sampai ketemu dengan Bapak lagi”. Tanpa terasa, roda pesawat yang kami tumpangi sudah menyentuh landasan pacu Bandara Polonia, Medan.

Cerita tersebut di atas hanyalah sekelumit dari pengalaman yang saya dapat selama bekerja di BRR. Yang menarik dan sulit saya lupakan dari kejadian yang saya ceritakan di atas adalah bahwa di dalam dunia yang kita diami saat ini, termasuk di Nias, semakin sedikit orang yang percaya bahwa kejujuran, ketulusan, dan berjiwa melayani tanpa pamrih itu masih bisa dipertahankan.

Saya tidak bermaksid menyalahkan ibu tersebut. Sama sekali tidak. Ibu ini adalah hanya bagian kecil dari komunitas manusia zaman sekarang yang tidak menyadari atau tidak percaya adanya Great Satisfaction Behind Sacrifice. Dan bahwa berkat/rejeki yang tersedia pada sang pemberi hidup sangat berlimpah sehingga sesungguhnya manusia tidak perlu mengejar apalagi merebut apa yang belum menjadi hak atau rejekinya. Dan tanpa disadari, ketakutan menjalani hidup yang sederhana merupakan penjelmaan lain dari sikap hidup seperti ini. Dan akibatnya…, ada banyak manusia saat ini yang tidak lagi mendengar bisikan nuraninya lalu menghalalkan segala cara. Ada banyak orang yang cuek terhadap berbagai macam bentuk pelanggaran, asal dirinya aman dan kepentingannya tetap tidak terusik.

Akibat mempertahankan prinsip hidup yang saya percayai sebagai kebenaran dan pemberi ketenteraman batin pada saya, saya memang tidak pernah mendapat cipratan apapun walau hanya sebatas ucapan terima kasih dari pihak manapun. Dan memang itu konsekuensi dari sikap hidup seperti itu. Namun saya bersyukur bahwa saya pun tidak parah-parah amat dalam konteks kecukupan kebutuhan. Saya sudah persiapkan mental saya untuk hidup sederhana kalaupun saya menghadapi kesulitan. Dan satu hal, saya sudah menentukan standar/plafond terendah dan tertinggi untuk hidup saya. Plafond tertinggi standar hidup saya adalah tercukupinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan yang layak serta anak saya bisa sekolah di sekolah yang layak dan keluarga tidak terlantar. Menurut keyakinan saya, apabila standar ini ditetapkan oleh masing-masing orang, maka korupsi pasti bisa diredam.

Tapi kalau batasan atasnya adalah langit, itulah yang bikin kacau sehingga semua orang terjerumus dalam perburuan materi tanpa batas. Kehidupan manusia bahkan bangsa menjadi kacau menuju kehilangan orientasi dan nilai. Apabila sikap mental seperti ini ada pada diri saya selama bekerja di BRR ini, dapat dibayangkan apa yang akan terjadi. Yang jelas, hidup saya tidak akan pernah tentram karna melawan hati nurani. Dan mungkin kasus pada pengadaan kapal 3GT sebanyak ratusan unit semasih saya menjadi konsultan di bidang Pengembangan Ekonomi dan Usaha BRR Nias saat itu (Mei 2006) mungkin tidak pernah berani saya ungkap dan masyarakt serta negara mengalami kerugian yang cukup besar.

Namun saya boleh bersyukur karna berbekal prinsip hidup yang saya pegang teguh itu, saya berani mengungkap kasus tersebut hingga, dengan dibantu oleh pemegang otoritas yang lebih tingggi dalam BRR, oknum yang terlibat tersebut (walau mungkin hanya karna kesalahan prosedur/administrasi) berhasil dipecat dari jabatannya dan masuk tahanan Polisi dan Jaksa. Bukan hanya itu, uang sebesar Rp.2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah) berhasil ditarik dari kontraktor dan dikembalikan ke kas negara. Padahal, saya sadari betul kemungkinan kekuatan apa yang bakal saya hadapi saat itu. (JKT/DES/2007)

Jakarta, 12 Desember 2007

Catatan Redaksi: Karena butuh sedikit editing untuk mengoreksi kesalahan tulis, Redaksi baru menayangkan tulisan ini, yang sampai ke meja Redaksi kemarin, 12 Desember 2007.

Facebook Comments