THE GLOBAL NEXUS — Anthropogenic, Envirogenic atau Theogenic?

Tuesday, December 11, 2007
By susuwongi

Oleh Christianto Wibisono

Goenawan Mohamad (GM) meluncurkan buku berjudul Tuhan dan Hal Hal yang Tak Selesai. Karena itu, GM merujuk Johannes Pasal 1 ayat 1 tentang firman. Perbedaan teologis mendasar antara Kristen dan Islam ialah bahwa Alkitab merujuk pada firman yang berinkarnasi menjadi manusia, Jesus, sebagai anak Allah. Sedang Islam merujuk Alquran sebagai sabda yang mewakii Allah. Sementara Yahudi tetap setia dan arogan mengklaim sebagai bangsa pilihan yang sedang menunggu Messiah di akhir zaman. Soal bangsa lain mau jadi kafir atau masuk neraka karena memuja berhala atau Tuhan yang lain, bukan urusan Yahudi. Di luar itu masih ada umat Hindu, Buddha, dan Konfucius.Kemudian kelompok atheis, sekularis agnostic, dan anthroposentrik, yang merasa sudah tidak memerlukan kehadiran Tuhan. Seandainya Tuhan tidak ada, maka nasib dunia ini sepenuhnya berada di tangan oknum manusia yang sebagian kecil punya potensi bermimpi menjadi Tuhan atas sesamanya. Lahirlah despot tiran yang tega mengorbankan manusia atas nama ideologi, patriotisme, utilitatiranisme bahkan membajak dan mengatasnamakan agama. Maka timbul perang antarnegara maupun perang saudara yang biasanya malah memakan korban jauh lebih besar dari perang terhadap bangsa dan negara lain. Secara teologis, perang tampaknya masih juga belum terhindarkan karena fanatisme masih lebih dominan dari humanisme.

Manusia juga masih menghadapi bencana alam yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya oleh teknologi walaupun sudah berkembang semakin canggih. Media massa sangat bias dikuasai pandangan kubu mainstream bahwa global warming (GW) adalah anthropogenic. Suatu akibat dari perbuatan manusia karena itu bisa dan harus dihindari. Sedang sebagian kecil yang skeptis menganggap GW sebagai envirogenic atau bahkan theogenic, gejala alam yang di luar kekuasaan manusia untuk menghindarinya.

Proses industrialisasi dengan pelbagai dampak pencemaran lingkungan dan emisi gas rumah kaca merupakan satu tahapan yang harus dilalui sebelum teknologi mampu mengatasi secara mendekati tuntas. Hampir tidak mungkin mengeliminasi pencemaran akibat pemakaian energi dan teknologi. Yang bisa diusahakan adalah penciptaan teknologi yang semakin lama semakin bersih dibanding teknologi era mesin uap James Watt. Negara berkembang, seperti, Tiongkok, India, Brasil, dan Indonesia tentu tidak rela bila dihentikan pembangunan industrinya hanya untuk melestarikan hutan dan lingkungan. Sementara AS, Eropa, dan Jepang sudah dan masih terus melakukan proses industrialisasi ke tahapan yang “lebih bersih:” dan lebih canggih.

Perkembangan COP ke-13 di Bali simpang-siur seperti keengganan negara maju untuk membiayai usulan program REDD dari F-11 yang diusulkan Indonesia sebagai terobosan. Protes ngotot oleh LSM menolak REDD tanpa usulan alternatif yang jelas. Fait accompli perdagangan emisi karbon sukarela yang secara konkret sudah melakukan kontrak bisnis. Kecenderungan untuk tetap chauvinistis ingin melindungi kepentingan diri sendiri. Hingga membuat Ketua Delegasi Indonesia Emil Salim walk out dari suatu acara dengan Civil Society Organization karena diteriaki komprador atau kaki tangan kapitalis global.

Dalam kalkulasi anarkis itulah diperlukan kearifan untuk memahami caveat GM tentang komitmen manusia. Sekarang ini, kata-kata, statement, deklarasi sudah demikian kehilangan makna hanya menjadi retorika kemunafikan. Semua tidak mau melakukan mawas diri dan berpikir untuk satu bumi, melainkan bagaimana negara tertentu melanjutkan kenikmatan pembangunan tanpa memikirkan lingkungan. Kalau tidak ada pertobatan dan keinsafan untuk berbuat sesuatu secara kolektif tentu saja tidak akan mungkin tercapai sistem penanggulangan GW apakah yang bersifat anthropogenic apalagi yang bersifat envirogenic dan bahkan theogenic.

Mengapa manusia cuma ada di bumi, kenapa di seluruh galaksi tidak (belum?) ditemukan makhluk dan kehidupan lain, seperti di bumi? Mengapa orbit dari segala macam bintang, planet, dan komet jarang bertabrakan atau berserempetan seperti lalu lintas di Jakarta? Beberapa assumsi data yang seolah ilmiah disodorkan oleh IPCC sebagian di-blow up dan di-mark up oleh Al Gore. Misalnya kenaikan permukaan laut dari milimeter dalam ratusan tahun, menjadi meter dalam waktu belasan tahun. Kenaikan suhu di-mark up puluhan kali, sehingga orang ketakutan setengah mati, padahal tidak sedramatis itu. Sekarang ini semua orang ketakutan akan GW.

Kolom ini saya tulis Sabtu petang di Washington, sehingga belum mencakup hasil akhir konferensi Bali yang masih akan berlangsung sampai Jumat 14 Desember. Tapi, momentum untuk Bali Road Map tampaknya akan meredup ditelan gelombang isu politik global yang lebih mendesak. Laporan NIE (National Intelligence Estimate) yang disusun oleh tiga pejabat CIA yang “anti-Bush” telah menikam politik luar negeri AS. Begitu pula pemusnahan kaset interogasi Al Qaeda. Seluruh politik luar negeri Bush terhadap Iran telah dibuyarkan oleh Laporan NIE yang diumumkan 3 Desember. Sejak 2003, Iran sudah menyetop program nuklir. Anehnya kesimpulan itu baru disiarkan NIE empat tahun kemudian. Jadi, apakah sekarang ini Iran masih punya program nuklir atau tidak?

Politik luar negeri Amerika Serikat yang mengandalkan nuklir di tengah gelombang perang urat syarat pendapat umum dunia sudah ketinggalan zaman. Sebab zaman sudah berubah ke perang kata-kata, kembali ke kata-kata sebagai wujud eksistensi manusia. Dunia sedang mengalami “kiamat hati nurani” karena istilah keadilan, kebenaran, dan kejujuran telah dibajak. Sekarang ini yang diperhatikan adalah siapa oknum yang berkata-kata dan bukan apa yang dikatakan. Lebih celaka lagi sebab siapa yang mengatakan dan didewa-dewakan sebagai mitos, ternyata adalah elite munafik yang tidak mempraktikkan retoriknya. Sebab jutaan dan miliaran manusia ingin hidup sejahtera dan bermimpi menikmati gaya hidup ala negara demokrasi liberal, sejahtera. Tapi, mereka tidak mau menerima sistem demokrasi liberal dan tetap terjebak dalam impunitas tirani politik Dunia Ketiga. Sebagian elite dari kubu liberal di AS dan Eropa sendiri sudah tidak percaya kepada sistem nilai mereka dan malah menjadi narasumber gerakan popular anarkis. Jadi, kegagalan Bali bukan karena Indonesia atau Emil Salim “kurang lihai” melainkan karena seluruh dunia memang terpuruk dalam kemunafikan. Siapa menunggangi siapa, siapa jadi komprador siapa, sebab NGO Greenpeace sekarang juga punya kekuatan seperti Rainbow Warrior yang berani menghadapi armada negara berdaulat. Kalau Emil Salim dituduh komprador, maka NGO global juga merupakan kumpulan komprador yang belum tentu histerinya tentang GW 100 persen benar. Problem global warming mencelikkan kita akan caveat Goenawan Mohamad, bahwa kata-kata telah kehilangan makna sebab telah dibajak secara anthropogenic yang munafik dengan mengabaikan moral theogenic, dan hukum alam envirogenic.
Penulis adalah pengamat masalah nasional dan internasional

Sumber: www.suarapembaruan.com, Last modified: 10/12/07

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2007
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31