Gunungsitoli, (Analisa)

Terkait demo warga Kecamatan Alasa di Kantor Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Regional VI Nias, Kepala BRR Regional VI Nias Willam P Sabandar kunjungi Kecamatan Alasa.

Kunjungan Kepala BRR yang dipusatkan di kantor Kecamatan Alasa itu, dihadiri Camat dan ratusan warga Kecamatan Alasa.

Kepala Badan Rehabilitasi Dan Rekonstruksi NAD/Nias Regional VI Wiliam Sabandar saat bertemu warga mengungkapakan 400 kepala keluarga korban gempa bumi di Desa Ombolata, Kabupaten Nias, akan dilakukan verifikasi ulang sebagai calon penerima bantuan rumah dari BRR Nias.

Verifikasi ulang itu, kata Willam menyusul dan menanggapi ada aksi demo masyarakat alasa di Kantor BRR Nias Regional VI belum lama ini, dalam orasinya menyebutkan banyak ditemukan calon penerima bantuan yang diumumkan BRR tidak layak menerima bantuan karena bukan korban gempa serta terkait kasus penerimaan uang sebesar Rp10 juta oleh petugas pasilitator BRR distrik Nias dari masyarakat Ombolata saat menjalankan tugasnya memverifikasi rumah rusak total di wilayah itu.

Kepala BRR Nias Regional VI Wiliam Sabandar mengatakan, pihaknya juga akan tetap melakukan proses verifikasi ulang terhadap rumah warga yang rusak total terkena gempa bumi 28 Maret 2005 lalu.

Apabila dalam tahap verifikasi nanti ada hambatan keamanan dan konflik antara masyarakat, proses rekontruksi rumah bantuan di wilayah Kecamatan Alasa akan ditunda. Tegasnya.

Wiliam mengatakan, terkait dengan fasilitator di kecamatan itu pihaknya juga memberikan sanksi berupa pemecatan kepada 8 petugas fasilitator yang terbukti menerima uang dari warga. Karena perbuatan para fasilitator itu, melanggar fakta integritas sebagai bagian dari BRR NAD/Nias, sedang soal proses hukumnya diserahkan kepada pihak yang berwajib, ujar Wiliam seraya meminta maaf kepada seluruh warga yang hadir dalam pertemuan itu.

Sebelumnya, pengembalian uang Rp10 juta dari fasilitator melalui kepala bidang perumahan BRR Distrik Nias, Arif Hutapea, sempat menimbulkan kemarahan warga.

Mereka menolak pengembalian uang itu. Karena menurut warga itu sudah menjadi suatu persembahan dan tidak boleh diterima kembali.

Uang Rp10 juta yang diberikan warga kepada petugas fasilitator. Menurut warga, uang itu bukan uang suap tetapi pemberian warga Ombolata secara iklas sebagai pengganti membeli “babi” untuk dibawa pulang para fasilitator sebagai tanda penghormatan kepada tamu atau dalam budaya adat Nias disebut atau “sumage”.

Pada pertemuan itu, 52 kepala keluarga yang namanya yang sah ditetapkan sebagai calon penerima rumah bantuan dari BRR Nias menolak untuk dilakukan verifikasi ulang. Sebab mereka mengatakan, verifikasi yang sebelumnya dilakukan sesuai mekanisme dan mereka telah dinyatakan resmi sebagai calon penerima bantuan.

Camat Alasa Adieli Hulu bersama Unsur Muspika lainnya mengungkapkan siap mendukung dan memfasilitasi proses ronstruksi yang dilaksanakan BRR Perwakilan Nias dan pihaknya juga siap untuk memberikan pengamanan kepada para petugas fasilitator yang baru dalam melakukan tugasnya di wilayah Kecamatan Alasa. (kap) (Sumber: Analisa, 11 Desember 2007)

Facebook Comments