Ha börö wa’atabö mbawimi
Ha börö wa’ebua gana’ami
Wa mifabali zalukhö faröi
Wa mifaröi zalukhö fabali

Hanya karena babi kalian gemuk-gemuk
Hanya harena besarnya emas kalian
Kalian memisahkan yang tak pernah berpisah
(baris 3 dan 4 artinya sama)

Catatan:
Ini adalah sebuah maena yang kerap kali dibawakan dalam pesta perkawinan di desa-desa Nias hingga saat ini. Maena itu jelas memperlihatkan “peran” babi dan emas (uang) dalam perkawinan adat Nias.

Maena di atas tentu saja dibawakan dalam suasana pesta: riang, ceria. Akan tetapi pesan yang terkandung di dalamnya tetap saja merujuk kepada: irasionalitas dalam tradisi perkawinan Nias. “Böwö sebua” (jujuran yang mahal) telah menjadi kosa kata yang paling populer dalam urusan perkawinan di Nias.

Postinus, dalam tulisannya Sistem Adat Perkawinan Nias: Salah Satu Penyebab Kemiskinan Masyarakat Nias? mengartikan böwö sebagai “hadiah, pemberian yang cuma-cuma”. Akan tetapi kalau kita mensubstitusikan pengertian Postinus ini ke dalam kalimat “Böwö sebua”, maka kita dihadapkan pada kontradiksi. “Hadiah, pemberian yang cuma-cuma” kok mahal ? Sayangnya, Postinus dalam tulisan itu tidak menyingung kontradiksi ini.

Lantas ? Nantikan tulisan baru tentang böwö dan perkawinan adat Nias.

Facebook Comments